Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Semuanya Akan Kembali ke Tempat Semestinya (1)


__ADS_3

Stefani tidak seharusnya datang sekarang. Ini sangat menyebalkan karena ada Maulana di dalam. Ia tak mau melihat wajah kakaknya yang menyebalkan, yang bersikap seolah tahu semua hal dan melakukan kejahatan yang disebutnya dengan kebaikan.


“Adikku memang yang terbaik!”


Stefani tak jadi memutar handle pintu. Apa katanya tadi, adiknya yang terbaiki. Ia benar-benar ingin tertawa dan menampar wajah Maulana, mengatakan kalau apapaun yang ada di dalam pikiran pria itu sama sekali tidak ada yang benar.


Stefani tidak bisa mendengarkan pembicaraan ini lebih lama lagi. Ia tidak bisa mendengarkan bagaimana Maulana memuji dirinya yang bukan dirinya lagi. Didorongnya pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Hentikan! Sudahi semua hal yang membuakan yang sedang kalian obrolan, teriakan itu muncul di dalam kepalanya.


Maulana yang sedang membelakanginya menoleh. Sementara Mahardika tampak membuang napas. Tunangan Daisy itu pasti tak menyangka kedatangan Stefani kemari. Apa yang diharapkannya, Stefani menjadi anak baik layaknya Daisy. Mana mungkin ia melakukan hal itu.


“Ah ... aku akan mengantar berkas ke lantai bawah kalau begitu!” kata Maulana segera sadar diri.


Keberadaan pria itu yang paling menganggu Stefani. Jadi, ia merasa lega seketika saat Maulana mundur dengan mengepit map-map dan melangkahkan kaki tergesa-gesa ke luar ruangan.


“Dia kakakmu, kan?” tanya Mahardika saat pintu di belakang Stefani berayun tertutup.


“Saat ini tidak! Kenapa aku harus mengakuinya jika akan menjerumuskanku pada masalah. Ah, kalau kamu memberitahunya ... Mas Dika akan dipanggil gila!”


Hanya beberapa orang yang akan menyadari perbedaan antara Stefani dan Daisy. Kalau pun menyadarinya kebanyakan dari mereka hanya akan berpikir kalau itu tidak mungkin. Hanya sebagian kecil yang akan memberikan pengertian layaknya Mahardika.


“Tidak semua orang begitu bijaksana seperti Mas Dika!” sindir Stefani.

__ADS_1


Mahardika tampaknya tak peduli. Ia meninggalkan mejanya dan duduk di sofa, beberapa langkah dari tempat Stefani berdiri. “Apa yang kamu inginkan kemari?” tanya Mahardika.


“Apalagi? Tentu saja bertemu dengan tunanganku!” kata Stefani pada Mahardika.


“Walau pun secara teknis, kamu adalah tunanganku. Tapi, kamu adalah Stefani, aku mengetahuinya dan aku tidak mengakuinya!” kata Mahardika. “Kamu kesal karena Maulana berkata kalau adiknya yang terbaik. Kamu merasa tempatmu direbut.”


“Kenapa aku harus kesal pada hal bodoh seperti itu! Aku tidak ingin ada di sana!” teriak Stefani.


Tanpa menjelaskan dengan bahasa, ia sudah menunjukkan apa yang telah membuatnya emosi. Ia kemudian menjatuhkan diri dan duduk di samping Mahardika.


“Kamu harus kembali ke tubuhmu sendiri, kan? Tidak mungkin kamu selamanya akan berada di tubuh Daisy. Kamu tidak akan bisa bertindak sebagai Daisy yang asli. Cepat atau lambat orang-orang akan menyadarinya.”


“Mas Dika begitu yakin, ya?” tanya Stefani.


“Kalau begitu aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Aku akan menghentikannya!” seru Stefani.


“Kamu tidak akan bisa!”


“Pasti bisa!”


Stefani berdiri. Saat ini ia tidak dalam kondisi di mana bisa bedebat dengan tenang. Pada akhinya ia akan kehilangan kendali dan mulai melempar semua barang yang ada di sekitarnya ke arah Mahardika. Seperti halnya saat ia marah dan menyerang teman-teman kuliah Daisy.

__ADS_1


“Aku akan pulang!”


“Baguslah! Karena Stefani tidak diterima di sini!”


***


“Loh, Ayah sudah kembali?”


Daisy pikir siapa yang mengetuk pintu. Ia pikir Maulana yang datang mengecek. Atau Azzam yang ditinggalkannya tadi di kafe. Ternyata Handoko kembali sambil tersenyum dengan sebuah kotak dalam kantong kresek di tangannya.


“Karena pekerjaan sudah selesai, jadi Ayah pulang saja,” jawab Handoko. Ia mengangkat kantong kresek yang ada di tangannya cukup tinggi supaya Daisy bisa melihat. “Nona tadi akan membuang ini. Dia tampaknya dalam masalah lagi dengan Tuan Muda Mahardika.”


Daisy mengerucutkan bibirnya. Pengetahuan Mahardika-lah yang membuat keduanya tidak bisa bersikap layaknya tunangan seperti biasa. Stefani dengan emosinya yang meledak-ledak dan Mahardika dengan penyangkalan terhadap jiwa yang berada dalam tubuh Daisy.


“Apa itu kue? Saya bisa menciuma bau yang harum.”


Daisy tidak mencium bau, tetapi mengenali kotanya. Tetapi, ia tak bisa mengatakan tentang kotak, sebab keungan keluarga Handoko tidak membuat mereka mengenali jenis kue yang sedang populer dikalangan orang kaya.


“Ya! Ayo kita makan ini!”


“Kak Maulana?” tanya Daisy.

__ADS_1


“Dia bisa makan itu sendiri nanti! Dia bukan anak kecil.”


__ADS_2