
Mahardika: Besok, aku akan ke tempatmu.
Awalnya Maulana berpikir kalau Mahardika akan menemui Daisy. Hubungan mereka agak buruk belakangan ini. Suatu saat keduanya akan menikah, entah didasarkan cinta atau hanya kontrak saja. Daisy akan menjadi istri Mahardika. Jadi, hubungan baik adalah hal yang mereka butuhkan sebagai pondasi.
Namun, pintu rumahnya pagi ini diketuk dan Mahardika muncul saat dengan malas Maulana membukanya. Mata Kakak Stefani itu lekas melotot. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa Mahardika tiba-tiba muncul di rumahnya dan bukan di depan pintu rumah utama. Perasaannya mendadak tidak enak.
Ditariknya Mahardika menjauh dari pintu. “Kamu mau menemui siapa?” tanya Maulana.
“Ayahmu!”
“Ah?” Maulana terkejut mendengar jawaban Mahardika.
Ia menelengkan kepala mencari begitu banyak jawaban dan kemungkinan. Akan tetapi, tidak menemukan alasan kedatangan Mahardika.
“Memangnya ada urusan apa dengan ayahku?” tanya Maulana tidak mengerti.
“Boleh aku masuk dulu?” tanya Mahardika. Ia menaikan sebuah kotak berisi beberapa jenis kue. Sehingga bisa ditangkap oleh pandangan Maulana juga.
“Ayah sedang di taman!” Namun, Maulana tak bisa meninggalkan Mahardika sendiri. Diambilnya kotak berisi kue dan diletaknya begitu saja di ruang tamu. “Stefani ... ada tamu! Tolong buatkan minuman. Lalu kamu, ikut denganku!” kata Maulana sambil menarik Mahardika menajuhi pintunya.
Maulana bisa melihat kalau mahardika sedikit kecewa. Tetapi, ia mengikuti Maulana juga.
Mereka berdua melintasi taman di depan pavilliun dan kembali ke depan lagi. Jalanan membuat mereka berada di dekat gazebo tempat Stefani adiknya menyatakan cinta pada Mahardika. Handoko, ayah Maulana tampak tengah mengunting tanaman. Gambaran akan jadi seperti apa tamanan yangd digunting sudah terlihat.
Saat Mahardika mendekat, Handoko berhenti bergerak. Ia meletakan gunting tanaman di bawah perdu yang sedang dikerjakan dan bergegas menghampiri Maulana.
Mahardika diam beberapa langkah jauhnya di jalan setapak gerbang, sementara Maulana ditarik sang ayah menjauh dan diberondong banyak pertanyaan.
“Ada apa? Kenapa Tuan Muda Mahardika bersamamu? Stefani membuat masalah lagi?”
Kecemasan yang tidak terkira tergambar jelas di wajah Handoko. Tatapannya berpindah dengan cepat dari Maulana, ke tunangan putri majikannya. Semakin lama Maulana menahan jawaban, semakin cemas wajah Handoko tampak.
“Dia mencari Ayah, bukan Stefani!”
__ADS_1
“Aku? Kenapa?”
Sama halnya seperti Maulana tadi, handoko juga mencoba menerka alasan tentang kedatangan mahardika untuk mencarinya. Jelas ia tak mungkin berbuat kesalahan seperti menabrak Mahardika tanpa senagaja karena tergesa-gesa. Juga tak mungkin berbicara di belakang yang sering dilakukan pelayan lainnya.
“Saya juga tidak tahu apa yang diinginkan Ayah. Dia membawa kue dan saya sudah menyuruh Stefani untuk membuatkan minuman di rumah. Apa Ayah bisa kembali sebentar?” tanya Maulana.
Handoko berpikir sebentar dan kemudian mengangguk. Ia berteriak memanggil seorang lagi tukang kebun dan mengatakan akan pergi sebentar. Lalu berjalan mengiringi Maulana dan Mahardika.
Jalanan yang ditempuh sama. Beberapa pelayan nampak terheran-heran menatap Maulana dan Handoko beriringan dengan Mahardika, tetapi tak mengatakan apa-apa. Namun, laporannya kemungkinan akan segera sampai pada nona mereka, Daisy.
“Apa tidak sebaiknya kamu menemui Daisy dulu?”
“Aku tidak punya hal penting yang mau kukatakan padanya, jadi bisa lain kali.”
“Dengan Ayahku, penting?”
Mahardika menoleh melalui bahunya ke belakang. Maulana bisa melihat kepala pria itu mengangguk dan tersenyum padanya.
Maulana menghela napas kesal. Kalau nanti kedatangan Mahardika ke pavilliun menjadi masalah, maka ia akan menuntut bosnya itu sebuah pertanggung jawaban.
Tatanan minuman dan juga piring bersisi kue-kue yang dibawa Mahardika begitu rapi. Stefani tampaknya bekerja keras menyiapkan semua. Maulana merasa tidak rela pada tindakan Stefani, adiknya untuk menyambut Mahardika.
“Ah, Kakak, siapa yang ....” Stefani tak jadi melanjutkan kata-katanya karena sudah melihat Mahardika yang duduk di kursi tunggal ruang tamu. Gadis itu tampaknya juga tak mau bergabung dengan obrolan Mahardika.
“Duduk di sini, lagi pula saya datang tidak untuk memarahimu!” kata Mahardika pada Stefani.
Sebelum benar-benar bergabung dengan mereka, Stefani menatap kakak dan ayahnya terlebih dahulu. Tampaknya meminta izin. Maulana melihat ayahnya melambai dan menyuruh di duduk di samping pria tua itu. Maulan merasa lega melihat Stefani akhirnya bergerak ke dekat Handoko.
“Jadi, ada apa Tuan Muda mencari saya?”
Sama halnya dengan Maulana yang tidak senang dengan fakta kalau Mahardika datang tiba-tiba, ayahnya tampak memiliki perasaan yang sama. Handoko khawatir kalau Stefani akan terluka jika pria yang disukai putrinya itu ada terlalu lama di rumah.
“Saya mau Bapak mencoba menanam beberapa bunga yang disukai Daisy.”
__ADS_1
Maulana mengepalkan tangan mendengar perkataan mahardika. Entah pria itu terlalu bebal atau memang sengaja mengatakan hal itu di depan adiknya kini.
“Apakah ini cara membuat sakit hati terbaru?” tanya Maulana langsung tanpa basa-basi.
Pertama, ia tidak dalam posisi seorang bawahan dan majikan kini. Mahardika ada di rumahnya dan seorang tamu. Walau tamu diperlakukan agung, tetapi juga tidak bisa keterlaluan pada Tuan Rumah.
“Apa? Kenapa kamu menyangka begitu?” tanya Mahardika tidak tahu malu.
Maulana berniat menonjok wajah pria itu sekarang.
“Ada beberapa bunga yang disukai Daisy di rumah saya.” Mahardika melanjutkan penjelasannya tentang hadiah lain untuk Daisy setelah tidak mendengarkan keluham lain dari Maulana. “Saya akan minta izin dulu pada Tuan Aghra untuk membawa Bapak ke rumah!”
Maulana menatap ayahnya lekat-lekat, bermaksud menyampaikan apa yang diinginkan tanpa suara. Jelas hal yang mustahil.
“Baiklah! Kalau sudah mendapatkan izin, saya akan datang ke rumah Anda!”
Kepala Maulana mendeyut seketika mendengar jawaban ayahnya. Walau Maulana tahu kalau izin dari majikan sudah didapatkan, tidak ada alasan buat ayahnya menolak. Malah penilaian terhadap ayahnya akan menjadi buruk jika menolak.
“Baguslah!’ kata Mahardika riang. “Ayo cicipi kuenya. Anggap saja sebagai sogokan!” kata Mahardika sambil emngedip pada Maulana.
Sungguh, Maulana ingin melempar kue itu ke wajah Mahardika.
Stefani yang memilih kue yang dibawa Mahardika lebih dulu. Ia mencicipinya dengan wajah penuh ekspresi bahagia. Entah kenapa, Maulana bersyukur Mahardika datang walau hanya sesaat.
“Tidak mau masuk dan menyapa Nona dulu?” tanya Maulana saat mengantar Mahardika ke depan.
Awalnya Mahardika tampak mengajak Stefani untuk mengantar. Tetapi, mana bisa Maulana membiarkan hal itu terjadi. Bagaimana kalau adiknya diancam?
“Tidak usah!”
“Apa kamu tahu kalau Stefani akan dapat masalah?”
Langkah kaki Mahardika berhenti seketika. Tatapannya seolah bertanya: Kenapa Stefani yang mendapat masalah saat Mahardika menolak untuk menyapa Daisy di dalam?
__ADS_1
“Daisy tunanganmu. Dia sudah dibenci oleh semua pelayan. Setiap kali ia lewat, semua berbisik secara sengaja untuk membuat Stefani tidak nyaman. Kamu pikir apa yang akan terjadi jika tunangan Nona malah datang ke rumah rivalnya dan tidak singgah?