Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Kehidupan ini Milikku!


__ADS_3

Azzam mengantar Daisy ke  kelas. Sepanjang jalan banyak mahasiswi lain yang menoleh ke arah mereka dan seperti memancarkan laser dari matanya.


Tampaknya permintaaan Daisy adalah hal yang buruk. Daisy memiliki firasat kalau akan segera dapat masalah dari anak perempuan. Ia takut membayangkan harus menjadi salah satu dari orang yang dijadikan target perundungan.


“Wajahmu agak pucat. Apakah kita sebaiknya pergi ke ruang kesehatan mahasiswa saja alih-alih kelas?” tanya Azzam tiba-tiba.


Daisy mengeleng. Sebenarnya sejak awal wajah Stefani sudah putih pucat, ditambah tidak ada make up yang bisa digunakan oleh Daisy di kamar Stefani. Daisy bahkan sempat berjanji pada dirinya kalau ia akan membelikan satu set make up.


“Stefani?” Azzam memanggilnya dengan nada suara cemas.


“Aku tidak apa-apa. Sepertinya aku terlalu banyak berpikir dan merasa sedikit pusing!”


Wajah Azzam kembali lega. “Itu kelasmu!” kata Azzam pada Daisy. “Kalau begitu aku akan pergi sekarang!”


Walau berkata seperti itu, Azzam sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.


Daisy bertanya-tanya apa yang sedang ditunggu pemuda itu kini. Lalu ia menyadari kalimat Azzam tadi.


Stefani dan orang ini tidak sekelas pemuda ini.


“Apa aku sudah melakukan hal yang tidak sopan?”


Daisy hanya berada sementara di dalam tubuh Stefani, jadi ia tak mau membuat hubungan Stefani dan orang-orang memburuk. Stefani harus menjadi gadis yang begitu baik dan ramah seperti biasanya.


“Tidak! Bukan seperti itu!” Azzam tampak lebih salah tingkah dibandingkan sebelumnya. “Aku hanya tidak menyangka kalau aku dan kamu akan menjadi akrab seperti ini dalam sehari! Kalau kamu ingat apa bagaimana aku mengejarmu selama hampir dua tahun ini.”


Agak sedih Daisy mendengarnya. Nyatanya Azzam lumayan menarik perhatian orang banyak. Daisy pikir pasti tidak hanya satu dua orang saja yang menyatakan perasaan suka pada pria ini.


Ada seseorang yang mencintainya seperti, tetapi dia malah mengerjar Mahardika.


Daisy jadi penasaran dengan pola pikir Stefani.


***


“Aku dengar kamu pingsan saat istirahat di taman, bagaimana keadaanmu hari ini?”


Ada begitu banyak kontak di dalam ponsel Daisy yang ditemukan Stefani dan ia tidak berhasil mengetahui nama seluruh orang yang ada di sana saat benar-benar bertemu. Bahkan Stefani bertanya dalam hati, bagaimana Daisy selama ini berada di tengah-tengah keributan ini tanpa merasa sakit kepala.

__ADS_1


“Aku ... baik-baik saja!” Akhirnya Stefani memberi jawaban paling standar yang bisa ditemukan otaknya dengan tepat.


“SUDAH HENTIKAN SEMUA INI! KALIAN BENA-BENAR KURANG KERJAAN, YA!


Stefani ingin memeluk orang yang datang, mengatakan betapa sangat berterima kasih dirinya. Ia mengenali orang tersebut bernama Lola, gadis yang dilihatnya bersama Daisy terakhir kali.


Dengungan berisi protes seketika membahana di sekeliling Stefani. Mereka tampaknya ingin beramah tamah dengan Daisy.


“Kamu tidak harus meladeni semua orang kalau masih sakit!”


Wah lihatlah apa yang dimiliki Daisy. Seorang teman yang peduli padanya. Benar-benar berbeda dengan dirinya yang bahkan keluarga sendiri tidak memperhatikan.


“Aku hanya tidak mau kasar pada mereka!” kata Stefani, berusaha bersikap semanis mungkin.


“Tidak! Jangan lakukan apapun yang membuat orang lain bersikap kurang ajar padamu!” Lola malah lebih semangat dari sebelumnya untuk mengajari Stefani.


“Baiklah-baiklah! Aku tidak akan melakukannya lagi!” Stefani kembali mengambil jalan paling mudah yang bisa dipikirkan.


Lola menjatuhkan diri di kursi depan Stefani, memandangnya seolah ada sesuatu yang salah dengannya. Seolah ada hal misterius yang sudah terjadi dan kemudian Lola bisa mengubahnya.


“Apa ini tren terbaru?” tanya Lola.


“Lihatlah apa yang kamu pakai. Kamu mengenakan blouse panjang dan celana. Lalu pemakaian make upmu juga tidak seperti biasa. Apa-apaan dengan aksesoris yang tampaknya ditumpuk satu sama lain itu?”


Ternyata Stefani tidak bisa tenang begitu saja. Bagaimana mungkin seseorang meragukan penilaian terhadap pemakaian sesuatu. Orang lain tidak berhak mendikte Stefani yang ingin menikmati kehidupannya yang baru saja dimulai dari awal.


“Apa pedulimu?” Stefani marah.


Sama halnya saat ayahnya mengatakan sesuatu tentang Daisy saat berada di mobil tadi.


“Apa? Aku hanya tidak mau kamu melakukan hal aneh! Penampilanmu sudah aneh, Daisy!”


Stefani berdiri tiba-tiba dan menyebabkan kursi yang sedang didudukinya terjatuh. Ia mengepalkan tangan erat-erat hingga telapak tangannya terluka karena kuku jari tangannya sendiri.


Lola masih memandangnya seperti melihat sesuatu yang aneh pada boneka.


“Bukan urusanmu apa yang aku pakai dan aku gunakan. Jangan berbuat hal jahat dengan mengatas namakan pertemanan!” seru Stefani pada Lola.

__ADS_1


“Apa? Bukan hanya penampilanmu yang aneh, tetapi juga sikapmu!” tuding Lola. Lalu gadis itu melihat sekeliling, mungkin saja meminta bantuan. “Apa kamu menjadi kurang waras, jadi melakukan hal seperti ini.


Giliran Stefani yang kaget. Bagian mana dari tindakannya yang memperlihatkan ketidak warasan. Sikapnya adalah pembelaan diri dari perhatian yang berlebihan.


“Aku dengar kalau di pesta ulang tahun kemarin ada seseorang yang menyatakan cinta pada tunangannya! Mungkin dia baru dicampakan.”


Entah siapa yang sedang berbicara di belakang sana. Tetapi, orang itu kemungkinan mendengarkan pembicaraan pelayan. Stefani seharusnya tidak terpengaruh dengan hal itu karena adalah orang yang menyatakan perasaan.


Hanya saja tubuhnya gemetar. Rasa marah yang aneh merayap perlahan di dalam hatinya. Namun, itu bukan perasaan yang seharusnya dirasakan Stefani. Ini adalah perasaan alami yang dimiliki Daisy.


Kenapa orang yang memiliki kehidupan sempurna punya kemarahan sebesar ini di dalam hatinya?


Jawabannya hanya satu. Karena selama ini sama seperti halnya Stefani, Daisy juga menahan diri.


“Oh, benarkah? Ada seseorang yang menyatakan cinta pada Mas Dika?” Lola terdengar terkejut dan tertarik.


“Mas Dika sudah menolaknya dan keluargaku juga sudah mengurus gadis itu!” jawab Stefani, berharap dengan menyuarakan kebenaran makan gemetaran pada tubuhnya akan berhenti.


“Lalu kenapa kamu menjadi gila seperti ini?”


Kemarahan yang muncul kali ini miliknya dan pada tahap selanjutnya tahu-tahu Stefani telah kehilangan kesabarannya dan menampar Lola.


Ini adalah kehidupan yang diinginkan. Kehidupan yang seharusnya membuat iri orang-orang di sekelilingnya. Jadi tidak ada orang yang bisa mengusiknya. Stefani tidak bisa membiarkannya.


Lola tak tinggal diam. Ia menerjang Stefani setelah ditampar dan memberikan lebih banyak tamparan padanya.


“Aku sudah bersabar padamu selama ini. Kamu yang memadang orang lain seperti mau menginjak-injaknya!” teriak Lola sambil menarik rambut.


Stefani menendang dan membuat Lola tersungkur. Lalu gadis bernama Lola itu tidak bergerak, mungkin pingsan karena tendangan Stefani yang terakhir.


***


“Ayah kenapa ada di sini?” tanya Daisy pada ayah Stefani.


Pria tua itu mengenakan kemeja berwarna abu-abu dan celana dasar, berdiri sambil bersandar pada mobil. Ketika ia mendengar suara Daisy, pria tua itu menoleh dan tersenyum.


“Hanya mau menengok, apakah kamu baik-baik saja,” jawab ayah Stefani.

__ADS_1


Sebagai Daisy, ia bisa tahu kalau pria tua itu berbohong padanya. “Ada sesuatu, kan? Apa itu? Bisa ceritakan padaku?


__ADS_2