Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Rumah Kontrakan Baru (2)


__ADS_3

Handoko keluar mobil dan membukakan pintu untuk nona majikannya. Tetapi, ia menunduk tak mau melihat wajah gadis yang sepantaran putrinya itu.


“Terima kasih!”


Padahal sudah hampir tiga hari Handoko menjadi spir mobil milik gadis itu, tetapi selain hari di mana Handoko merasa aneh karena nona majikannya yang bersikap terlalu ramah. Sekarang, ia merasa kalau yang bicara di belakangnya adalah putri yang jarang bicara dengannya hampir 20 tahun.


Begitu nona majikannya berbalik, Handoko mengangkat pandangannya dan menemukan cara jalan putrinya pada cara melangkah Daisy. Ia berkata kalau yang disangkanya itu hanya perasaan saja. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi, tetapi ia merasa sedih karena hal itu.


Ia tak memasukan mobil ke dalam garasi, tetapi pergi ke arah pintu masuk juga. Seorang pelayang yang kebetulan keluar dan hampit menabraknya ditanyai. “Apa Tuan Besar ada di rumah?”


“Ya, Tuan ada di dalam. Tadi pulang cepat karena Nyonya ingin makan siang bersama katanya!”


“Terima kasih!” kata Handoko.


Pelayan itu memandangi Handoko masuk. Entah apa yang terbersit di pikiran pelayan tersebut. Mungkin saja senang karena akhirnya ada pavilliun yang akan kosong dan bisa digunakan salah satu dari mereka.


Handoko lekas pergi ke ruang kerja tempat semalam ia mendapatkan perintah untuk mencari rumah. Tak menyangka kalau sekali lagi akan masuk ke sana untuk urusan yang lain. Perasaan tidak karuan kemarin terasa kembali. Handoko mengisi paru-parunya dengan oksigen penuh-penuh dan kemudian mengetuk pintu.


Majikan lelaki-lakinya itu memang selalu ada di ruang kerja jika pulang cepat. Menyelesaikan pekerjaan yang tertunda selesai di kantor.


“Siapa?”


“Ini saya Handoko, Tuan!”


“Masuklah!”


Handoko mendorong pintu terbuka. Ruang kerja tersebut tampak lebih jelas dibandingkan semalam. Di sebelah kanan terdapat sofa besar berwarna coklat gelap tempat tamu yang datang pada hari libur, tentu saja tak jauh-jauh dari urusan bisnis. Di sisi lainnya ada meja tinggi berisi tiga kursi yang digunakan untuk diskusi kecil. Biasanya nona majikannya duduk di sana saat menandatangani persetujuan pencairan gaji.


Walau pun Tuan besar mengelola semua perusahaan dan disebut sebagai Direktur, tetapi Nona Daisy adalah pemilik sah semua aset yang dimiliki keluar Aghra.


“Ada apa?” tanya Ibnu pada Handoko.


“Saya sudah menemukan sebuah rumah Tuna. Karena itu bisakah saya meminjam mobil yang saya gunakan untuk mengatar Nona untuk melihat rumah itu!”

__ADS_1


Ibnu berhenti meneliti pekerjaannya dan mengangkat kepala. “Cepat sekali!’ komentarnya. “Pakailah!” suruh Ibnu sesudahnya.


Handoko menunduk dan mengucapkan terima kasih. Ia keluar dan menutup pintu dengan hati-hati. Saat keluar dari rumah besar melalui pintu depan kembali, ia melihat motor putranya parkir di samping mobil. Maulana rupanya pulang cepat juga.


Handoko kembali ke pavilliun yang segera akan ditinggalkan. Sedikit sedih karena ada begitu banyak cerita di pavilliun itu. Ia membesarkan kedua anaknya di pavilliun itu seorang diri.


Saat sampai di rumah, dilihatnya tampang Maulana yang tampak sedih. Terjadi sesuatu. Belum sempat bertanya, Maulana meletakan telunjuknya di bibir. Handoko belum boleh bertanya sekarang.


***


“Apa rumahnya Anda sukai?”


Ibu Azzam agak gemuk, tetapi cantik. Usianya kurang lebih sama persis dengan ayahnya. Ketika mereka datang, wanita itu merentangkan tangan dan menyambut dengan ramah.


“Jadi, kamu ya temannya Azzam? Apa semesternya sama dengan Azzam?” tanya wanita itu takala ayah Maulana belum memberikan jawaban terhadap pertanyaan pertama.


“Bukan, Bu,” jawab Maulana ramah.


“Loh, kata Azzam yang cari kontrakan teman kuliahnya. Apa salah orang, ya?” gumam wanita itu sambil menaruh tangannya di pipi.


Ibunya Azzam menelengkan kepala sambil tersenyum kecil. Lalu ia memutar tubuhnya ke belakang supaya bisa melihat putranya di balik sana. Kemudian ia terkekeh kecil. “Jadi begitu?” kata wanita itu. “Jadi bagaimana menurut Bapak dengan rumah yang akan disewa.”


“Saya menyukainya, Bu, karena itu kami kemari untuk mencari tahu apakah harga sewanya cocok dengan dana yang kami punya.”


“Rumah yang itu sekitar 20 juta satu tahun! Bayar per bulan juga boleh kok.”


Maulana mengangguk-angguk paham. Rumah yang dilihatnya tadi dua kali lebih besar dari pavilliun selain itu kondisi barang di dalam rumah juga bagus. Letaknya strategis dan dekat dengan jalan tol.


“Bagaimana menurut Ayah?” tanya Maulana pada ayahnya.


“Ayah cuma punya separuh dari itu,” bisik Handoko pada Maulana.


Maulana sama sekali tidak memiliki kekhawatiran soal uang. Ia hampir tidak menggunakan uang gajinya untuk berhura-hura selama ini. Bahkan ayahnya tidak pernah mau menerima uang yang diserahkan Maulana setiap bulannya.

__ADS_1


“Tidak masalah, saya bisa sewa selama setengah tahun dulu, Bu?’ tanya Maulana.


“Tentu saja tidak masalah! Saya malah senang karena langsung disetujui begini!”


Azzam muncul entah dari mana meletakan kunci rumah di atas meja. Wajahnya cerah seolah mendapatkan hadiah. Hal itu sangat menganggu Maulana. Kalau ia dan Azzam hanya berdua saja, Maulana akan mengancam mahasiswa satu itu untuk tidak mengikuti adiknya.


Maulana mengeluarkan ponselnya, meminta nomor rekening milik ibunya Azzam. Wanita itu pergi ke dalam sebentar dan keluar dengan membawa surat perjanjian sewa dan juga buku rekeningnya.


“Sebaiknya kita professional dalam masalah ini, kan. Bagaimana pun perjanjian tetaplah perjanjian, andai kata saya memiliki masalah dan ingin berbuat seenaknya nanti, surat perjanjian ini akan menyelamatkan kita berdua!” kata ibunya Azzam. “Tolong dibaca dahulu sebelum disetujui!”


Maulana memang berencana mengusulkan hal itu. Banyak sekali penipuan pada saat ini. Tetapi, ia yakin kalau teman Stefani tidak akan menipu. Hanya saja dikemudian hati mungkin saja wanita yang melahirkan Azzam tidak akan sebaik ini. Bagaimana kalau wanita itu kemudian mengusir mereka dari rumah karena tidak menyukai mereka.


Surat perjanjian itu dibacanya dengan baik. Tidak ada masalah dengan poin yang tertulis di sana. Semuanya normal dan bahkan menguntungkan pihak penyewa. Tampaknya ibunya Azzam sangat bijak. Maulana berharap Azzam juga sebijak ibunya sehingga tidak terlalu dekat dengan adiknya.


“Saya tidak masalah dengan ini semua. Bagaimana dengan Ayah?’ tanya Maulana pada sang ayah.


“Kalau kamu tidak masalah! Ayah juga tidak. Sungguh Ayah sama sekali tidak terlalu paham dengan masalah sewa menyewa.”


“Kalau begitu bisa saya pinjam KTP-nya sebentar? Azzam akan pergi mengkopinya!” kata ibu Azzam.


Handoko mengeluarkan dompetnya mencabut tanda pengenal dari sana dan menyerahkannya pada ibu Azzam.


Azzam selalu muncul entah dari mana dengan sigap membantu tanpa banyak tanya. Maulana bisa melihat keriangan di dalam setiap gerakannya.


“Dia senang sekali karena temannya akan ada di dekat sini!” kata ibu Azzam.


Perkataan itu jelas membuat Maulana mendongkol setengah mati. Adiknya masih 20 tahun, belum boleh didekati pria yang bahkan masih minta jajan pada orang tua.


Tak sampai lima menit Azzam kembali dengan fotokopi KTPnya dan menyerahkan yang asli kepada ibu Azzam kembali.


Selama beberapa menit kemudian ibu Azzam sibuk mengisi surat perjanjian dan mengklip fotokopi KTP pada bagian atas surat perjanjian. Ada materai enam ribu yang keluar kemudian dan Handoko menandatangani surat dengan cepat.


“Terima kasih!” kata ibu Azzam. Ia menyerahkan kunci rumah pada Handoko. “Kalian bisa pindah hari ini juga kalau perlu.”

__ADS_1


“Terima kasih kembali, Bu, kalau begitu kami permmisi!” Maulana menyalami ibu Azzam setelah ayahnya dan diantar putra wanita itu keluar.


__ADS_2