Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Sudah Baik-Baik Saja


__ADS_3

Tahu-tahu Maulana sudah ada di rumah, tetapi tidak ada tanda-tanda Stefani ada di dalam. Ia mencoba menghubungi beberapa kali, sayang sekali tidak diangkat. Tetapi, ia mengatakan pada dirinya untuk tidak berpikiran buruk. Azzam hanya anak lelaki biasa, tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada adiknya.


Maulana mengangkat ponselnya setelah menyentuh dial panggil ke nomor Stefani. Mobil yang dikenalinya milik Mahardika terlihat berhenti di depan rumah. Ia bertanya-tanya kenapa bosnya itu menyusul. Jam istirahat kerja belum berakhir dan Maulana yakin kalau bisa sampai di kantor sebelum Mahardika kembali juga.


Dari pintu penumpang di sebelah sopir, keluar  adiknya secara mengejutkan. Kening Maulana jadi berkerut seketika, sama sekali tidak menyangka. Ia menunggu sampai Stefani di dekatnya memandang penuh tanya adik perempuannya itu. “Kamu bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi padaku?”


“Kakak bisa tanya pada teman Kakak saja. Dia sangat menyebalkan!”


Maulana selalu mengeluh tentang Mahardika secara terang-terangan atau juga sembunyi-sembunyi, tetapi Stefani tidak mungkin mengeluh soal Mahardika yang tidak dikenal. Mereka hanya bertemu beberapa kali dan tidak banyak bicara. Walau ia menyadari keanehan dari sikap temannya itudalam belakangan ini.


“Ayo berangkat sekarang!” ajak Mahardika yang hanya keluar dari mobil dan tetap berdiri di sana.


“Tunggu! Di mana kamu menemukan adikku?” tanya Maulana.


“Ah ... dia sedang makan dengan Azzam. Lalu karena aku pikir kamu akan sampai di rumah dan mulai berulah dengan mencarinya ke seluruh jalanan, aku membawanya pulang.” Mahardika menjelaskan apa yang dilakukan.


Ia sudah memikirkannya dengan keras dan sama sekali tidak dapat menemukan alasan lain. Yang dilakukan Mahardika hanya menolongnya saja, tidak lebih dan tidak kurang. Jadi Maulana hanya bisa mempercayai Mahardika saja saat ini.


Ia melihat Mahardika menyentak pintu mobil, masuk kembali. Kaca mobil turun dan kepala Mahardika tampak di depan. “Ayo kembali! Waktu makan siang hampir habis!” seru bos Maulana itu.


“Pergilah lebih dulu. Aku akan ke dalam dan melihat bagaimana Stefani. Dia tampaknya sangat kesal sekali! Kamu tidak melakukan hal lain selain membawanya pulang, kan?” Maulana menambahkan kata kerja yang berarti sebuah kecurigaan, melihat reaksi Mahardika.

__ADS_1


“Kamu menuduhku melakukan hal buruk pada adikmu? Yang benar saja!” Mahardika tampak kesal, tetapi tidak wajahnya.


Dari hal-hal yang diyakini Maulana, salah satunya adalah Mahardika tidak berbohong soal ini.


Maulana memperhatikan mobil milik Mahardika yang melaju menjauhi pintu gerbang rumahnya. Setelah tidak melihat bagian belakang mobil yang pergi itu, ia mengalihkan pandangan pada pintu. Ia masuk dan memanggil Stefani yang telah menghilang sejak tadi ke dalam rumah.


Sayangnya, adik Maulana itu sama sekali tidak menyahut. Ia seolah tak mau bertemu dengan siapapun. Maulana tidak bisa menyerah soal adiknya sekarang. Ia tidak bisa mundur dan meninggalkan Stefani sendirian kalau memang gadis itu sedang kesal.


“Stefani! Bisa keluar sebentar, aku ingin bicara denganmu!” kata Maulana.


Maulana menjauh dari daun pintu selangkah saat mendengar langkah kaki dari dalam. Ia kemudian menanti dengan sabar dan pintu terayun terbuka. “Ada apa, Kak?” tanya Stefani.


Wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan kekesalan. Akan tetapi, bagaimana dengan hatinya, Maulana sama sekali tidak tahu. Jadi ia harus memastikan kalau adikya tidak kesal apalagi benci padanya.


Hanya membantu, ya? Baiklah! Tidak masalah!” Stefani tampaknya kesal pada Mahardika. “Saya baik-baik saja, Kak, saya sedang mengerjakan beberapa tugas laporan sekarang.” Kali ini ia memberikan jawaban atas apa yang ditanyakan Maulana.


“Aku minta maaf!” Maulana menunduk tidak bisa menatap mata Stefani langsung.


Bagaimana kalau permintaan maafnya ditolak. Hal seperti penolakan pasti sangat menyakitkan. Namun, bukankah ia sudah melakukan banyak hal yang menyakitkan pada Stefani sebelumnya. Apalagi yang bisa terjadi sekarang.


“Untuk apa?” tanya Stefani.

__ADS_1


Maulana mengangkat kepala, sedikit berat untuk menjelaskan kepada adiknya apa saja kesalahan yang sudah diperbuat selama ini. Yang pasti salah satunya adalah menjauhkan Stefani dari masalah yang seharusnya dihadapi. Apapun alasan dari tindakannya itu, tampak seperti mengada-ngada saja.


“Untuk membuatmu merasa tidak nyaman selama ini. Aku melakukan kesalahan dan aku minta maaf.”


Stefani menarik napas dalam. “Saya juga minta maaf pada Kakak. Saya sama sekali tidak bermaksud membuat Kakak berpikir banyak. Saya hanya mengatakan kalau yang Kakak lakukan selama ini salah pada saya. Itu saja.”


Maulana mengangguk-angguk pelan. “Jadi, kita berbaikan sekarang?” tanya Maulana.


“Ya!” jawab Stefani. “Bisakah akusaya kembali ke dalam dan menyelesaikan tugas laporan saya?” tanya Stefani hati-hati.


Maulana tersenyum. Perasaannya sudah lega. “Ya!”


***


Perasaannya menjadi lebih baik sekarang. Sepanjang jalan semuanya terasa lebih mudah dari sebelumnya dan Maulana bersiul karena senang. Ia menyapa semua pegawai kantor yang ditemuinya. Kebanyakan dari mereka heran dan yang lainnya hampir tidak peduli.


“Wah, ini menkjubkan! Bateraimu terisi penuh setelah melihat adikmu?” tanya Mahardika yang menjadi salah satu orang yang keheranan.


“Kenapa memangnya? Tidak boleh? Dasar anak tunggal!”


Mahardika menyeringai kesal, menjatuhkan dirinya dengan berisik ke atas kursi putar dan mulai menyelesaikan semua pekerjaannya.

__ADS_1


Maulana mendekati bosnya itu untuk memeriksa sedikit dan kaget karena Mahardika dengan cepat menyelesaikan laporannya tanpa kesalahan. “Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi ini mengagetkan?” kata Maulana jujur.


Mahardika menarik berkas yang sedang dikerjakan tadi dan meletakannya kembali ke atas meja. “Sama sepertimu, aku sudah merasa baik-baik saja sekarang!” jawabnya.


__ADS_2