Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Teman Baru (1)


__ADS_3

“Stefani! Bisa kamu ikut kami sebentar?”


Daisy yang saat ini di dalam tubuh Stefani memandangi tiga wanita yang mencegatnya di lorong menuju kelas. Ia bertanya-tanya apa urusannya karena tiga puluh menit lagi kelas akan di mulai dan Daisy tak mau terlambat masuk dan mendapatkan masalah dari dosen.


“Ada apa, ya?” tanya Daisy sambil menelengkan kepala. Ia jelas tidak kenal dengan ketiga orang ini. Mereka bukan teman sekelasnya. Ia tak pernah bertemu dengan ketiganya. “Sebentar lagi kelas akan di mulai, saya tidak mau mendapatkan surat peringatan.” Daisy menjelaskan supaya tidak ada salah satu pun dari mereka yang tersinggung.


Wajah ramah di hadapan Stefani mendadak berganti dengan kekesalan. Daisy sudah menduga apa maksud ketiga orang yang datang tiba-tiba dan memanggilnya sok akrab. Mereka adalah para perundung. Tetapi, Daisy tidak bisa memikirkan alasan Stefani mengalami hari buruk ini.


“Kamu sombong, ya?”


Dua orang itu berpindah tempat di samping Daisy dan salah satunya mengalungkan tangan ke leher. Daisy tercekik juga terjepit, tidak tahu harus bagaimana untuk melepaskan diri.


Tampaknya mahasiswa lain kenal pada orang-orang ini, tetapi mereka hanya lewat begitu saja tanpa mengatakan apa-apa pada Daisy. Kemungkinan sebelumnya juga menjadi orang yang dirundung. Daisy sepertinya harus melepaskan diri sendiri dari masalah ini.


“Ayo ikut!” Jepitan di leher Daisy mendadak semakin erat.


Daisy mengernyit menahan sakit dan mengikuti kedua orang yang mengapitnya. Bagai bos orang yang berjalan di depan pergi lebih dulu.


Mereka membawa Daisy ke belakang gedung, cukup jauh dari kafe-kafe semi permanen yang berdiri di sisi kanan gedung jurusan. Beberapa orang yang melihat mereka melintas hanya menatap sebentar dan menjalankan aktifitas seperti biasa.


Sebenarnya seberapa menakutkan para wanita yang ada bersamaku ini? Daisy bertanya-tanya di dalam hati.


Dalam kehidupannya, ia tidak mungkin dijemput oleh orang-orang seperti ini. Daisy adalah anak tunggal keluar kaya, uang yang dihabiskan sehari-hari membuatnya nyaman, juga mengamankannya dari hal-hal semacam ini. Begitu sampai di tempat sepi di mana Daisy tidak akan bisa melarikan diri dengan cepat, ia dilepaskan.


“Jangan memandang kami seperti melihat penjahat begitu!” kata salah seorang dari mereka.


“Apa mau kalian? Jelas bukan mengundangku untuk makan atau menyelamatiku atas sesuatu. Kalian bulan teman satu semester, juga tidak pernah kulihat sebelumnya. Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Daisy.


Mereka memang penjahat dan tidak ada keraguan sedikit pun di dalam mata Daisy untuk memandang orang jahat tiba-tiba menjadi orang baik. Setiap orang harus diperlakukan seperti mereka berbuat.

__ADS_1


“Wah, info yang mengatakan kalau kamu pintar itu memang benar, ya? Jadi, aku akan langsung saja. Jangan mendekati Azzam!”


Daisy memandang ketiga wanita itu baik-baik sekarang. Tetapi, tidak ada salah satu dari mereka yang tampak mirip dengan Azzam. “Kenapa aku tidak boleh dekat dengan Azzam? Dia orang yang baik. Tidak pantas untuk dikuncilkan?”


“Ada yang salah dengan pikiranmu, ya? Aku tidak menguncilkan Azzam, kok, aku hanya menyuruhmu tidak mendekati Azzam!” teriak orang yang sama.


Lalu Daisy jadi tertawa saat menyadarinya. Orang-orang itu rupanya melakukan hal ini untuk menyingkirkan saingan. Salah satu dari mereka atau ketiganya menyukai Azzam. Akan tetapi, bukankah cara mereka mendapatkan perhatian salah? Yang benar saja.


“Azzam tidak akan senang karena kalian berbuat hal buruk seperti ini. Apa kalian tahu?”


“Aku benar-benar mau membungkammu saja. Kamu menyebalkan. Menurutmu kami melakukan ini untuk diketahui Azzam?”


“Lalu, apa dengan melakukan ini Azzam akan menyukai kalian salah satunya?”


PLAk! Sebuah tamparan mendarat di pipi Daisy. Ini sudah dua kali ia mendapatkan hal yang sama dari mahasiswi. Yang satu tamparan dari Lola dan yang lainnya dari orang yang sama sekali tidak dikenal.


“Jangan dekati Azzam! Kamu akan aman kalau mendengarkan perkataanku!”


Setelah mendorong Daisy hingga terjatuh di atas tanah, ketiga orang itu kabur dari situ.


“Sudah melakukan kejahatan dan sekarang melarikan diri. Dasar pengecut!” ujar Daisy pelan.


Ia berdiri, membersihkan belakang tubuhnya dengan baik dan kemudian membuang napas perlahan. Ia memeriksa jam di ponselnya dan kelas sudah dimulai lima menit yang lalu. Jika Daisy berhasil meyakinkan dosen yang masuk, ia masih bisa mengikuti kelas. Jika tidak, ia akan mendapatkan surat peringatan dan kehilangan kesempatan untuk kelas pada semester ini.


Daisy melewati jalan yang sama saat diseret tadi, berlari di anak tangga yang kosong karena kelas-kelas memang sedang berlangsung.


“Semuanya akan baik-baik saja Daisy! Selanjutnya ....”


Daisy berhenti belangkah. Bulu kuduknya merinding kembali, ia menoleh ke bawah tangga dan tidak melihat siapapun. Ini sama seperti sebelum Daisy berulang tahun. Ia mendengar suara perempuan yang sama saat sendirian di lobi gedung jurusan dan itu menakutkan.

__ADS_1


“Siapa?” teriak Daisy keras-keras.


“Selanjutnya ....”


Suara itu hanya mengulang kata terakhir. Jadi, Daisy berbalik dan pergi secepat kilat menuju lantai dua kelasnya. Ia sampai di depan pintu kelas dengan napas yang terenggah-enggah.


“Kenapa kamu baru muncul sekarang? Ini yang kedua kalinya, Stefani. Aku tidak akan memberikan tolerasi jika kamu melakukan sekali lagi. Apa kamu mengerti?”


Daisy mengangkat kepala, menemukan seorang pria yang kepalanya telah berwarna keperakan. Ia kemudian menegakkan tubuh dan menunduk sedikit. “Maafkan saya, Pak, ada sedikit keperluan!” katanya dengan pasti.


Dosen itu meninggalkan depan kelas, mendekati Daisy dengan mata menyipit. “Apa kamu mengalami sesuatu? Kenapa pipimu memerah?”


Daisy secara reflek memegang pipinya yang ditampar. Ia lupa untuk membubuhkan bedak sedikit supaya bekas tamparan hilang. “Saya ... hanya terjatuh saja, Pak!” kata Daisy.


Dosen itu membuang napas keras. Lalu menyuruh Daisy duduk di tempatnya. Daisy merasa amat sangat lega. Jadi ia bergegas masuk ke kelas dan tidak menoleh ke kiri dan kanan pada pandangan orang-orang terhadapnya.


Kelas berlangsung dengan lambat. Pembahasannya masih sama seperti kemarin, tetapi Daisy mulai memahaminya. Ia menambahkan banyak catatan di modul dan berhasil melaluinya tanpa mengantuk. Kelas berakhir dan Daisy pikir sebaiknya ia pulang sekarang. Tidak ada lagi kelas siang.


“Stefani ....”


Daisy mengangkat kepalanya segera dan menatap wanita yang berdiri tak jauh dari kursinya. Wanita itu adalah yang melihat dirinya dijemput di depan kelas tadi. Seketika ia bertanya-tanya apa maksud wanita ini menemuinya.


“Maafkan aku! Harusnya aku menyeretmu masuk saja tadi! Maafkan aku!”


Daisy terkejut. Tidak ada yang salah dengan sikap wanita ini. Toh, jika Daisy menjadi wanita ini, ia akan melakukan hal yang sama. Siapa yang mau terlibat dengan masalah?


“Tidak apa. Aku paham kenapa kamu melakukannya.”


Tapi, wajah wanita yang ada di dekatnya itu tidak baik. Tampak rasa bersalahanya lumayan besar. “Tapi, kamu ....” Matanya berhenti di pipi dan dengan cepat menunduk lagi.

__ADS_1


“Siapa namamu? Maaf, aku tidak menghapal semua nama teman sekelas.”


“Andien!”


__ADS_2