Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Andien, Teman Baru Daisy (2)


__ADS_3

Azzam yakin kalau Stefani tidak mungkin sepolos kelihatannya. Akan tetapi, ia sebaiknya mengatakan pada gadis itu untuk berhati-hati. Jadi, ia mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. “Stefani, jangan pernah percaya pada siapapun!” katanya.


Stefani memandangnya seakan Azzam mengatakan hal yang biasa saja. Lalu mengedik tidak peduli. Azzam meninggalkannya, mengeluarkan buku-buku yang tidak sengaja dipinjam seminggu lalu untuk alasan pada Stefani. Ketika ia berbalik, gadis itu pergi ke rak yang ditunjukkan Andien tadi.


Sejak obrolannya dengan Andien di depan lobi masuk gedung, perasaan Azzam semakin tidak enak. Bukan karena Azzam ditanyai tentang hubungannya dengan Stefani. Tetapi, tatapan tak menyenangkan yang dirasakan setiap kali menyebut nama gadis yang disukai.


Tiba-tiba saja kepalanya berseru keras: Gadis itu bermasalah.


Sebenarnya kalau ia melihat Daisy seorang diri saja tadi, tidak akan Azzam menyusul dengan tergesah-gesa begini. Pemulangan buku yang ada di dalam tasnya masih seminggu lagi. Tetapi, ia melihat Andien bersama dengan Stefani.


Layaknya seseorang yang ingin mencari buku, Azzam ikut-ikutan masuk ke lorong-lorong rak. Letaknya dua lorong bedanya dari tempat Daisy mencari. Sebutlah Azzam tengah memberikan bantuan kepada Daisy supaya tak ditinggalkan temannya.


“Kak Azzam membantu?”


Azzam terlonjak kaget karena di sapa tiba-tiba. Ia menoleh dan menemukan Andien berada di sampingnya, menatap ke arah buku-buku yang sedang diperiksan Azzam.


“Yah, karena aku juga sedang mencari buku bacaan lain, jadi sekalian saja!” kata Azzam balas berbisik memberi alasan. Ia tidak sedang mencari buku lain.


“Oh, terima kasih!” Andien tampak senang.


Azzam kembali memperhatikan buku-buku yang ada di depannya, membaca judul benda itu satu persatu dan menyamakan di dalam kepala. Judul yang disebutkan Stefani tidak ada di sini.


“Apa yang Kak Azzam suka dari Stefani?”


Azzam tidak menoleh pada Andien. Perasaannya sudah mulai mereka-reka apa yang sedang dilakukan gadis di sampingnya. “Dia sederhana, pintar, sopan, dan manis!” jawab Azzam dengan jujur tanpa maksud apa-apa.


“Bukannya banyak gadis lain yang memiliki ciri-ciri seperti itu? Di kelas Kak Azzam juga ada, kan?”


“Maksudmu Marissa?’ Azzam butuh beberapa detik untuk menemukan gadis dengan ciri-ciri yang sama seperti yang baru disebutkan.

__ADS_1


“Ya, Marissa. Apa Kak Azzam tidak suka padanya?” tanya Andien kembali. Menempatkan nama Marissa di dalam pembicaraan.


Azzam mengingat-ingat sosok Marissa. “Dia gadis yang menyenangkan. Aku menyukainya sebagai teman, tetapi hanya sebatas itu saja!” kata Azzam. “Lagi pula dia sudah punya kekasih sekarang. Mereka tampak akur dan bahagia!”


Azzam menemukan buku yang judulnya disebutkan Stefani tadi. Terletak di rak paling atas sehingga kalau tidak diperhatikan dengan sangat baik maka tidak akan terlihat. Azzam meraihnya dengan segera dan menyodorkannya pada Andien.


“Perasaan itu tidak seperti buku yang mudah dibaca dan terjemahkan. Bisa jadi sekarang kamu menyebutnya sebagai perasaan suka. Tapi, beberapa saat kemudian kamu akan sadar kalau itu hanya kagum saja. Jangan merugikan dirimu sendiri karena terbawa perasaan!”


Tebakan Azzam tampaknya tepat. Wajah Andien memperlihatkan ekspresi ketegangan. Seolah-olah tertampar dengan apa yang dikatakan Azzam. Seharusnya kalau bukan pelaku, Andien tak akan terpengaruh. Akan tetapi, Andien sedang mendekati Stefani karena maksud tertentu. Maksudnya itu adalah Azzam.


“Siapapun pasti akan paham dengan perasaannya sendiri, Kak! Orang lain yang kadang tidak mengerti!”


“Andien, kamu harus pandai memilih hal yang penting. Hal yang akan berguna untukmu saat ini. Dengan begitu, kamu tidak akan kehilangan apapun!”


Andien hanya meremas buku di tangannya, gadis itu memaksakan diri untuk tersenyum. “Terima kasih bukunya! Aku akan menemui Stefani sekarang!”


Stefani  menatapnya keheranan. Tetapi tidak mengatakan apa-apa.


***


Andien bilang mau ke tempat fotokopi. Jadi Daisy kembali lebih dulu ke kelas. Namun, ia dicegat kembali oleh tiga orang yang beberapa hari lalu menamparnya dan memberi peringatan. Apakah ini karena ia ke kampur bersama dengan Azzam? Harusnya Daisy ingat dengan janjinya untuk tidak mendekati Azzam untuk sementara waktu.


“Apa mau kalian!”


Ketiga orang itu tertawa kecil. “Ayo ikut kami dulu!” katanya dengan ramah di tengah tatapan orang-orang yang ingin tahu.


Namun, Daisy sangat yakin, walaupun orang-orang itu tertarik, tetapi mereka tidak benar-benar akan menolong seandainya Daisy minta tolong. Mereka hanya menyaksikan tontonan yang menarik saja.


“Tidak! Aku tidak akan ikut kalian!” tegas Daisy.

__ADS_1


Wajah ramah milik mereka semua langsung berganti dengan ekspresi kesal. Seperti sebelumnya Daisy ditarik dengan keras untuk ikut. Yang berbeda, kali ini Daisy berontak, berusaha melepaskan pegangan pada kedua lengannya yang ditarik orang para gadis tak dikenal itu.


“Lepaskan aku! Kalian akan dapat masalah kalau melakukan hal buruk di kampus!” Daisy memberi peringatan.


“Apa kamu tahu alur pelaporannya? Harus ada saksi.”


“Ada banyak saksi di sini!” seru Daisy berang. Ia menarik kembali kedua tangannya dari dua gadis yang bertugas menyeret.


“Yah, kalau mereka mau bersaksi sih bagus! Tetapi, kamu pikir mereka mau melakukannya untukmu?’ tanya satu gadis yang tak melakukan apa-apa sambil tertawa.


Daisy benci sekali pada masalah seperti ini. Ia benci pada orang-orang yang hanya menonton saat ketidak adilan terjadi. Memangnya apa yang salah jika salah satu dari mereka bersuara dan melaporkan pada pihak kampus apa yang terjadi pada anak seperti Daisy.


“Nah, karena itu ikutlah dengan tenang! Kami hanya akan bicara saja kok. Sungguh!”


Mana mungkin Daisy percaya dengan perkataan tiga gadis yang tiba-tiba muncul dan menyeretnya begini. Apalagi sebelumnya mereka tak melakukan apa yang disebut hanya “bicara”.


“Aku sudah katakan pada kalian kalau kalian tidak akan lolos dari perbuatan jahat ini!”


Daisy tida ditempat kemarin. Tempat itu masih sama sepi seperti saat terakhir kali ia datang.


“Yah, kami juga sudah mengatakannya padamu! Jangan dekati Azzam, kenapa kamu malah jadi tetangganya?’ kata gadis yang tampak paling sok cantik.


“Kalau begitu kamu bisa katakan itu pada ayahku! Karena beliau yang sudah mengatur kepindahan kami ke rumah kontrakan itu. Aku hanya ikut saja sebagai anak!”


Si gadis yang sok cantik menendang ke samping Daisy, secara sengaja membuat gerakannya itu lebih seperti ancaman. “Kamu bisa menangis dan berkata kalau tidak mau tinggal di sana. Kenapa dia saja?’


Di dalam hati Daisy menjawab, kalau ia tak melarang karena lingkungan tempat itu memang bagus. Mana mungkin seseorang menolak mingkungan yang bagus.


“Kamu ingin dekat-dekat dengan Azzam, kan?”

__ADS_1


__ADS_2