
“Dari mana saja kamu?” tanya Gerald tiba-tiba saat Carmen membuka pintu apartemen mereka.
Carmen yang mendengar pertanyaan itu mendadak menjadi sakit kepala. Ia memandang gerald yang duduk di kursi bak raja. Kenapa ia terjebak dengan pria yang bahkan tidak bisa memuaskannya di ranjang? Begitu pertanyaan itu mencuat di dalam pikirannya.
“Kenapa kamu malah mematung seperti itu. Pertanyaanku tidak bisa kamu tangkap dengan baik?” Gerald tidak sabar menanti jawaban Carmen.
Perasaan muak yang mencongkol di hati Carmen mendadan menjadi muncul kembali. Penyesalan demi penyesalan muncul. Hubungannya dengan Gerald sama sekali tidak baik-baik saja. Pertama, ia hanya selingkuhan yang notabene dimanfaatkan. Statusnya tentu sama rendahnya seperti pelacur. Kedua, Gerald tidak meninggalkan istrinya walau memberinya sebuah apartemen sebagai tempat tinggal. Bagi Gerald Carmen hanya penghibur, tidak lebih dan tidak kurang. Mendadak rasa irinya pada nasib percintaan orang lain menjadi lebih besar lagi.
“Jangan bicara padaku! Kepalaku sakit!” teriak Carmen.
Pintu di belakangnya terbanting dan Carmen berjalan sempoyongan mendekati Gerald.
“Kamu mabuk dengan siapa?” tanya Gerald terdengar marah. “Apa kamu tahu apa yang terjadi padaku?”
Mana mungkin Carmen tahu apa yang terjadi pada Gerald kalau tidak diberitahu. Lagi pula ia tidak mau bersikap sebagai nyonya besar yang angkuh. Ia tidak lebih hanya penghibur.
“Mana kutahu? Lagi pula kenapa aku tidak boleh pergi keluar? Apa yang mau aku lakukan di sini sendirian?” teriak Carmen marah.
Ia bukan kekasih apalagi istri untuk Gerald. Jadi ia masih bisa berkeliaran kesemua tempat yang diinginkan tanpa persetujuan. Carmen jelas tidak suka dikekang macam ini. Kalau suka, ia pasti dengan senang hati menikah, ada begitu banyak pria yang singgah di dalam hidupnya bukan hanya Gerald saja.
“Jangan meninggikan suaramu saat bicara padaku!” teriak Gerald.
Matanya yang kini memandang Carmen menakutkan. Ia tampaknya sedang melampiaskan kemarahannya seharian ini pada Carmen. Walau sedang mabuk, Carmen tahu kalau apa yang dilakukan Gerald berbahaya. Segera ia menyentak tangannya yang ada di dalam genggaman Gerald.
“Aku bukan istrimu!” Carmen balas berteriak kepada Gerald.
Gerald tampak terkejut dengan perlawanan yang didapatkan. Ia langsung menyadari kalau yang ada di hadapannya sekarang bukanlah Rachel ataupun putranya Alex. Wanita yang ada di depan Gerald tidak bisa diintimidasi seperti itu. Namun, Gerald bukan pria yang mudah kalah. Apalagi dari seorang wanita. Ia suka mendominasi, tetapi tak suka sebaliknya.
Didorongnya tubuh Carmen hingga terjerembab ke lantai.
Carmen terkejut dengan tindakan tiba-tiba itu, rkejut ddengan perlakukan kasar yang didapatkan. Ia lekas membalikan tubuh, masih menengadah menatap Gerald yang ada di atasnya.
__ADS_1
“Kamu mendorongku hingga jatuh? Kamu?” kata Carmen tidak percaya.
Gerald menduduki perut Carmen. Lalu melayangkan tamparan ke pipi wanita yang menjadi selingkuhannya itu. “Kenapa memangnya ******? Kamu terkejut?”
Tamparan itu diberikan berkali-kali, sampai Carmen merasa tidak berdaya dan gemetar menahan sakit. Ia meneteskan air mata dan tidak bisa berkata apa-apa.
“Semuanya jadi runyam karena kamu! Aku tidak dapat apa-apa walau sudah menuruti keinginanmu! Sekarang kamu berusaha melepaskan diri dariku dengan cara seperti ini?”
Rambut Carmen direnggut dan ia ditarik masuk ke dalam satu-satunya kamar di apartemen kecil itu. Ia bersusah payah berdiri saat Gerald akan menghempaskannya ke atas ranjang.
“Aku tidak menyuruhmu!”
Gerald melayangkan tamparan lagi ke pipi Carmen. “Diam! Harusnya aku berpikir banyak saat kamu mengatakan memiliki rencana untuk mendapatkan uang!”
Pria itu yang selalu memanjakan Carmen mondar-mandir di dalam ruangan. Memang apa salahnya memberitahu sebuah rencana yang sepertinya bagus? Kenapa mendadak semua hal tidak sesuai dengan keinginan Carmen. Olivera, Rock, atau siapapun itu hidup terlalu mudah, kan?
“Sekarang aku terjebak dengan wanita sepertimu. Sial! Sial! Sial!” maki Gerald sambil masih mondar-mandir.
Megan tertawa terbahak-bahak mendengar laporan Olivera tentang kejadian pagi ini. Makanya sambil cemberut, Olivera melemparkan pakaian yang akan dimasukan ke dalam lemari ruang ganti ke arahnya.
“Senang sekali mendengarmu bahagia, Megan!” katanya dengan nada yang sama sekali tidak mencerminkan kebahagiaan.
“Bukannya kamu bahagia?” tebak megan lekas.
Mau tidak mau semu merah mereka di pipi Olivera. Ia memfokuskan diri pada jenis menu yang tertempel di belakang pintu lemari, mengalihkan perhatiannya dari rasa panas yang menjalar di wajah.
“Ini tidak harus tergesa-gesa!” kata Olivera.
Megan duduk, membereskan sepati flat yang digunakan sedikit. Sama sekali tidak mengangkat kepalanya itu melihat Olivera yang ada di depannta.
“”Artinya dia mencintaimu dengan benar! Kamu harus bahagia! Lihat aku!”
__ADS_1
“Stone kuga mencintaimu!” Ini memang hanya sebatas perasaan Olivera saja. Tatapan Stone saat memandang Megan sangat lembut dan penuh niat. Hanya saja ada alasan kenapa pria itu memilih pergi. Yah, alasannya sudah dijabarkan oleh Derek kemarin. Mereka tidak perlu bertanya-tanya dan binggung lagi.
“Bukannya aku yang harus trauma? Kenapa dia melakukan hal buruk dan membuat orang tidak nyaman begitu?”
“Aku tidak akan menjawabnya!”
Suaran napas Megan terdengar keras. “Aku seharusnya menyiapkan uang lebih banyak lagi untuk membuka sebuah restoran. Tetapi, aku tidak bisa melakukannya karena kesal dengan keputusan yang dibuat Stone setiap harinya!” kata Megan.
“Jadi kapan kamu akan pergi?” tanya Olivera.
Mereka sudah membicarakan ini di hari saat Stone memutuskan kembali ke Washington. Megan akan menyusul pria itu ke sana. Tujuannya, mengubah pendapat Stone tentang bagaimana berhubungan dengan Megan.
“Aku sudah bersiap. Tadi pagi aku sudah menyerahkan pengunduran diriku!” jawab Megan.
“Bagaimana dengan ibumu?” tanya Olivera.
Megan diam saja. Olivera bisa menebak apa yang terjadi dengan itu semua. Mana ada seorang ibu yang akan membiarkan anak perempuannya pergi ke sebuah kota yang jaraknya ribuan mil hanya untuk mengejar seorang lelaki.
“Dia berteriak: Memang tidak ada laki-laki lain di Los Angeles kemarin!”
Olivera tertawa, tetapi tidak terdengar senang. Malahan ia terdengar khawatir akan keadaan Megan.
“Kamu tahu kalau aku juga akan berkata begitu, kan? Dia menghindarimu!”
Megan berdiri tiba-tiba, menyipitkan mata memandang Olivera. “Kalau kamu bilang begitu, seharusnya kamu juga menyingkirkan Rocky!” serunya.
Olivera memaklumi reaksi tersebut. Dibandingkan Rocky yang sejak awal membohongi mereka semua, Stone lebih baik. Bahkan Olivera sama sekali tidak meninggalkan pria itu. Walau Rocky sudah berubah sekarang dan melayangkan lamaran padanya, tetapi saja sebuah kesalahan disebut salah.
“Aku akan merindukanmu! Aku sungguh-sungguh!” kata Olivera.
Megan terkekeh kecil. Sama sekali tidak terlihat marah atau pun tersinggung. “Aku juga!” katanya. “Kalau aku berhasil membuat Stone berjanji menikahiku. Kamu harus datang, oke?”
__ADS_1
Olivera mengangguk. Bahkan kalau pun yang menjadi pelabuhan terakhir Megan berubah nantinya, Olivera akan datang.