Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Daisy Itu ....


__ADS_3

Dia bukan Daisy!


Bahkan kalau pun gadis itu memandangnya dan tersenyum dengan tubuh Daisy, jelas bukan orang yang diketahuinya. Ia tak bisa mengerti kenapa dua wanita yang bahkan jarang saling bertemu walau hidup berdekatan ini bisa bertukar tubuh. Akan tetapi, ia bisa menjelaskan perasaan aneh yang dirasakan sehari setelah ulang tahun Daisy yang jauh dari kesan bahagia karena Stefani yang menyatakan perasaan padanya.


Jadi ketika Mahardika meninggalkan Stefani yang kini berada di dalam tubuh Daisy begitu saja, ia tak merasa bersalah. Ada seikit, tetapi rasa bersalah kepada Stefani, melainkan pada Maulana, asisten dan juga sekretarisnya.


“Loh, aku pikir kamu mau menemui Daisy makanya tergeas-gesa. Dia kan sudah di sini? Kamu mau ke mana lagi?” tanya Maulana yang berpapasan dengannya di ambang pintu masuk lobi.


Ingin sekali Mahardika berkata kalau yang datang adalah adik Maulana, bukan Daisy tunangannya. Tetapi, seperti yang dikatakan Daisy yang sebenarnya, memang saat ini ada yang akan percaya jika diberitahu begitu saja?


“Karena bukan dia yang mau aku termui. Ada orang lain. Kenapa kamu penasaran dengan apa yang aku lakukan?” tanya Mahardika menyipitkan mata.


“Hanya tanya. Kalau-kalau ada seseorang yang akan mencari kamu nanti kalau sudah pergi!”


Jelas hanya sebuah alasan belaka. Mahardika curiga kalau Maulana juga merasa perasaan aneh yang sama saat berpapasan dengan Daisy. Seperti seseorang yang berkata kalau: Dia bukan orang yang kamu kenal.


“Jadi tidak mau memberitahuku tentang orang pintar yang kutanyakan?”


Ekspresi Maulana tengah berkata: Kenapa kamu menanyakan hal tidak logis lagi padaku?


Akan tetapi, hanya itu saja yang menjadi jawaban dari pertukaran jiwa yang dialami Daisy. Karena tidak mendapatkan rekomendasi yang diinginkan dari Maulana, Mahardika hanya bisa menyugar rambut sekarang. Toh, ia bisa mencari tahu sendiri melalui internet dan dari mulut ke mulut.


“Aku akan pergi sekarang,” kata Mahardika sambil memperhatikan pergelangan tangannya.


Tepat jam makan siang. Pasti ia bisa bertemu dengan Daisy yang asli jika bergegas dan berpura-pura kebetulan lewat. Walau akan kentara sekali perbuatannya ini.


“Sebenarnya kenapa kamu tergesa-gesa pergi begitu? Ah, Daisy ke sini!”

__ADS_1


“Aku akan pergi sekarang?” tanya Maulana tidak mengerti.


Mahardika tidak sempat menjawab karena sudah kabur lebih dulu melewati Maulana. Ia mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya. Pekikan alarm mobilnya segera terdengar sebelum tangannya mengapai gagang pintu dan menarik benda itu hingga terbuka.


Mesin menyala dengan baik seketika dan saat ini Stefani tengah berlari menuruni tangga. Di belakangnya Maulana juga ikut serta sebagai sebuah efek kupu-kupu. Mahardika menginjak pedal gas dan melejit bersama mobilnya pergi. Ia bisa mendengar suara Daisy yang tubuhnya kini digunakan Stefani menjerit memanggil namanya.


“MAS DIKA!”


Jangankan Berhenti. Mahardika malah menginjak pedal gas lebih dalam lagi. Ia harus bergegas supaya bisa berpapasan dengan Daisy yang asli di kampusnya. Dengan begitu ia akan bisa makan siang bersalam.


Ada banyak hal yang harus kutebus! Mahardika bergumam dalam hati, sembari membayangkan perlakukan kasarnya pada Daisy setelah hari ulang tahun yang buruk itu.


***


Azzam mengirimi Daisy pesan tadi sesaat setelah berpisah dengannya di pintu masuk gedung jurusan. Azzam kembali ke kelasnya sendiri, begitu juga dengan Daisy. Pesan yang berisi ajakan untuk pulang bersama. Akan tetapi, Daisy menolak. Kericuhan yang ditimbulkan nanti akan bertambah parah. Bisa jadi Brian mengikutinya juga. Atau kebetulan Mahardika datang ke rumah. Yang lebih parah, ia tak bisa menjelaskan kepada ayah Stefani, siapa Azzam.


Kelasnya hampir berlangsung dengan cara yang sama seperti lainnya. Beberapa penjelasan bahkan membuat kepalanya pusing. Yang lainnya, walau berhasil dihapal Daisy, tetap saja tidak dimengerti.


Kehidupan Stefani hampir sama dengan Daisy. Gadis yang entah sebab apa membencinya itu tidak banyak bercakap dengan kawan sekelasnya. Bahkan tampak tidak senang berada di sekitar mereka. Karena cara Stefani yang sebelumnya memperlakukan orang lain. Ia diperlakukan dengan cara yang sama. Ia tidak dikuncilkan, tetapi juga tidak dibawa serta dalam pembahasan apapun.


Daisy pikir malahan dirinya lebih baik. Walau pun teman sekelasnya tidak suka pada Daisy, ia masih dimintai pendapat tentang beberapa hal dalam kelompok.


Suara klakson mobil menyentak lamunan Stefani. Matanya menyipit tidak percaya pada sebuah mobil sport hitam yang parkir beberapa meter dari halte bus kampus. Beberapa murid yang duduk di halte menoleh ke arah mobil sport juga.


Daisy yakin sudah mengatakan pada Mahardika kalau tidak perlu dijemput. Tidak ada hal khusus yang harus dilakukan padanya. Sebab, yang dilakukan Mahardika hanya akan membuat orang lain penasaran dan masalahnya menjadi lebih berat. Bagaimana kalau orang-orang yang mengenal Daisy maupun Stefani mengenalinya saat masuk ke dalam mobil Mahardika.


Sekali lagi suara klakson Mahardika terdengar. Untuk orang yang tengah menantang masalah, pria itu sudah cukup hati-hati. Apalagi Mahardika jarang berseliweran di kampus. Entah karena maksud apa, sekalinya ke kampus hanya saat mengabulkan permintaan Daisy saja sebelum ulang tahunnya.

__ADS_1


Daisy melangkah ke dekat mobil, tersenyum pada orang yang melambai. Diketuknya jendela kaca, supaya Mahardika mau menurunkannya. Akan tetapi, hal yang diinginkan tidak terjadi. Malahan, Daisy bisa mendengar suara kunci pintu terbuka otomatis keseluruhannya. Tanpa banyak berkata, mahardika menyuruhnya masuk.


Daisy menyentak pintu terbuka dan masuk ke dalam.


“Bagaimana kalau ada gosip besok?” tanya Daisy lekas.


Kalau bisa ia tak mau pulang dengan Mahardika. Lebih aman kalau Daisy pulang menggunakan angkutan kota.


“Tidak! Kita akan pikirkan besok, jika seandainya itu terjadi!” kata Mahardika.


Pria itu menyalakan mesin mobil segera. Bahkan tanpa persetujuan Daisy ia telah melaju meninggalkan halte di depan jurusan Bahasa. Daisy hanya bisa pasrah saja kini. Ia duduk dengan nyaman di kursi penumpang, memperhatikan orang-orang dan kendaraan lainnya yang berlalu lalang.


“Nanti turunkan aku di halte dekat rumah saja, Mas Dika!”


“Aku bisa menurunkanmu di depan rumah. Lagi pula aku bisa membuat alasan kalau menemukanmu saat jalan pulang!” jawab Mahardika, tampak tidak senang dengan permintaan Daisy.


“Tidak! Ceritanya tidak akan dipercaya.” Kepala Daisy mengeleng. “Apa Mas Dika tahu kalau tubuh siapa yang sedang aku gunakan?” tanya Daisy.


“Stefani.”


Mendengar kalau Mahardika tahu, Daisy tidak dapat berkata apa-apa selama beberapa saat. Ia kemudian menghela napas.


“Semua orang di kediaman membenciku saat ini Mas Dika. Aku sudah mencoba mengoda kekasih majikanku!”


“Tapi, itu ....”


Daisy mengeleng saat Mahardika masih akan beralasan. “Aku akan turun di halte dekat rumah saja! Kumohon! Stefani memang menyebalkan, tetapi Pak Handoko dan Maulana tidak memiliki kesalahan!”

__ADS_1


Perasaan Daisy mendadak hangat saat mengingat bagaimana baiknya Pak Handoko dan Maulana memperlakukannya. Entah seberapa buruk Stefani diperlakukan, tetapi perlakuan yang dianggap buruk oleh Stefani sama sekali tidak diterima.


“Maafkan aku! Aku bertindah sangat egois!” pinta Mahardika.


__ADS_2