
Stefani tersenyum. Ia bermimpi indah semalam dan rasanya semua hal mendadak menjadi lebih baik setiap kali membuka mata. Abaikan semua masalah yang datang dengan tiba-tiba ke dalam kehidupan yang diraihnya dengan susah payah.
Terlihat seperti apa bintang hari ini? Stefani mengintip dengan tidak sabar ke langit-langit kamar yang ditempati sehari setelah ulang tahun.
Namun, langit-langit yang dilihatnya tidak sama dengan yang dilihatnya kemarin. Tidak ada langit-langit yang dihiasi lampu-lampu bintang di langit-langit. Ranjangnya juga tidak seperti yang sebelumnya.
Stefani kenal ranjang ini. Ada di kamarnya di pavilliun, tetap tidak diganti walau sudah tua karena katanya masih kuat. Ia lekas duduk di atas ranjangnya, memandang sekitar dengan panik. Ia bertanya-tanya apa yang terjadi semalam sehingga ia bisa kembali ke kamarnya di pavilliun, ke tubuhnya, pada takdir yang berusaha ia rubah.
“Stefani!”
Pintu diketuk dari luar, suara ayahnya memanggil lembut dan pelan.
Stefani menjadi ingin mengumpat, tiba-tiba semua orang mendadak baik padanya. Kapan ayahnya melakukan hal seperti ini? Mana pernah suara lembut seperti tadi terdengar di telinganya.
“Stefani! Apa kamu sudah bangun?” tanya ayahnya pada Stefani. Pintu diketuk lagi.
Setiap ketukan pintu membuat hatinya semakin panas. Ia berderap turun dari tempat tidur, menarik gagang pintu hingga terbuka. Senyum ayahnya membuat Stefani sakit hati.
Tanpa menjawab ia menderap maju. Stefani harus pergi mengecek sendiri bagaimana keadaan rumah besar. Walau ia tahu kalau Daisy sudah benar-benar kembali ke tubuhnya. Tetap saja, bagaimana kalau Stefani hanya sedang bermimpi. Karena itu ia harus membuktikan sendiri dengan semua indra yang dimiliki.
“Stefani kamu mau ke mana?” tanya ayahnya karena Stefani tak menyahut dan hanya berjalan menderap. “Stefani!” Ayahnya mengejar Stefani, mencekal pergelangan tangannya menghentikan gadis itu.
“Apa sih, Yah, jangan ganggu, deh!” seru Stefani sambil menepis tangan ayahnya.
Sekilas Stefani bisa melihat lelaki tua itu terkejut, tetapi tidak melakukan apa-apa lagi. Ia tetap berdiri di tempat semula sampai Stefani menghilang masuk ke dalam rumah besar.
Beberapa pelayan menoleh pada Stefani saat masuk ke dalam rumah. Mereka mengangkat kepala, sedikit tertarik sebelum kemudian menunduk dan sibuk dengan kegiatannya sendiri lagi. Mereka seolah tak peduli dengan apa yang dilakukan Stefani.
Tidak ada orang di lorong lantai dua, sepertinya para pelayan sekarang sedang ada di bawah, bersiap untuk sarapan dan membantu membersihkan ruangan yang akan digunakan para majikan mereka.
__ADS_1
Samar-samar Stefani mendengar Daisy sedang mengobrol dengan seseorang, rasanya begitu akrab dan intens. Rahangnya terkatup, dan ia keras-keras mencoba mendorong pintu yang akan terbuka saat dua pelayan datang dan memegangi kedua tangan Stefani.
“Apa yang kalian lakukan! Lepaskan aku!” teriak Stefani.
Teriakan-teriakannya menarik perhatian Daisy. Dari dalam gadis yang terlahir dengan sempurna itu berseru untuk membiarkan Stefani. Semakin terbakar rasanya dada Stefani. Ia kemudian memejamkan mata dan masuk ke dalam, berusaha mencari tahu kalau yang sedang terjadi padanya adalah mimpi. Namun, sayang sekali, Daisy yang bersinar di dalam sana terlalu nyata untuk Stefani.
***
“Buat siapa makanan di dalam nampan?” Ibnu menghentikan seorang pelayan yang membawa nampan ke lantai dua.
Istrinya sudah sejak tadi ada di meja makan, menanti Ibnu dan putrinya Daisy. Ibnu baru saja sampai di ruang tengah, dan terheran-heran dengan bawaan para pelayan.
Pelayan itu berhenti, menelengkan kepala dan menjawab, “Buat Nona Daisy, Pak, dia minta dibawakan sarapan ke atas sana!” kata pelayan tersebut.
Setelah menjawab, ia mengangguk dan kemudian berjalan ke tangga. Ibnu memandang pelayan yang membawa sarapan untuk putrinya itu dengan terheran-heran. “Bukannya sudah tiga hari Daisy bergabung makan di bawah?”
Ia tak banyak memikirkannya dan pergi ke ruang makan tempat istrinya berada. Wanita itu langsung tersenyum saat menemukan Ibnu masuk. Melambai dan meletakan semua perlengkapan makan di tempatnya.
Ibnu memandang istrinya yang penuh dengan semangat. Agak sedikit iba karena semangat itu. “Pelayan tadi membawa makanan ke atas. Jadi, kemungkinan dia sarapan di kamarnya,” kata Ibnu memberitahu.
Aida menelengkan kepala. Wajahnya yang cantik tampak kebingungan. “Bukannya dia sudah dua hari ini sarapan dan makan malam bersama kita? Kok, bisa hari ini dia mengurung diri lagi?” tanya Aida.
Ibnu tersenyum, memandang istrinya penuh arti. “Tidak apa-apa. Di sini malah membuat suasana tidak nyaman,” katanya.
Aida mendadak menjadi cemberut, ia kemudian menjatuhkan dirinya dengan cara dramatis di atas kursi dan bertumpang dagu. Sepertinya mengungkapkan ketidak sukaannya pada perkataan Ibnu barusan.
“Baiklah, jika dia turun nanti, aku akan bertanya kenapa ia mulai makan di atas lagi,” janji Ibnu.
Barulah Aida tampak tersenyum. Kemudian wanita yang dijadikan istri kedua oleh Ibnu mulai menanyakan sarapan apa yang diinginkan suaminya.
__ADS_1
Mereka baru saja makan ketika didengar suara seorang gadis berteriak. Ibnu berdiri segera karena mengenali suara gadis itu.
“Tunggu di sini!” suruh Ibnu pada Aida.
“Bukannya itu Stefani? Apa dia membuat keributan dengan Daisy lagi?” tanya Aida terdengar selalu bersemangat dibandingkan sebelumnya.
Ibnu menoleh padanya dan melihat betapa tertariknya istrinya itu. Tampaknya kenyataan kalau Aida mungkin saja bisa berbuat baik pada Daisy dengan kejadian ini pasti membuat hubungan ibu dan anak tiri itu semakin baik.
“Sepertinya begitu!” kata Ibnu.
Aida berderap di samping Ibnu, mengabaikan permintaan pria itu tadi. Stefani di bawah tangga mencoba membebaskan diri, entah untuk maksud apa. Keadaannya parah, tampak tidak dikendalikan. Lebih mirip dengan Daisy kemarin malam. Suasana yang sama, nada suara yang sama, ekspresi yang sama pula.
“Ada apa ini?” tanya Ibnu.
Teriakan protes Stefani berhenti, begitu juga dengan gerakannya untuk membebaskan diri. Tapi, kedua pelayan yang memeganginya sama sekali tidak berhenti memegang Stefani. Mungkin saja jika terlepas, Stefani akan melakukan sesuatu yang jahat.
“Maafkan keributan ini, Tuan. Stefani berusaha masuk ke kamar Nona Daisy, jadi kami mengantarnya keluar!!” kata seorang pelayang yang memegangi Stefani.
“Ayahmu kemarin malam sampai bersujud supaya aku percaya kalau kamu sama sekali tidak mengacau, tetapi ternyata kamu malah seperti ini? Astaga ... aku tidak tahu apa yang harus kupercaya! Stefani, bagaimana pun alasanmu, yang kamu lakukan sudah keterlaluan!”
Stefani tampak pucat sedikit, tetapi sama sekali tidak ketakutan. Hal yang terkesan aneh setelah semua kelancangan yang diperbuat gadis anak pelayannya ini. Karena Stefani tidak bekerja untuknya, jadi Ibnu tidak bisa memecatnya atau mengusir. Ia juga tidak mau sewenang-wenang dengan mengusir satu keluarga. Masalahnya hanya pada gadis satu ini saja.
Aida tiba-tiba saja menderap ke hadapan Stefani. Ia melayangkan satu tamparan ke pipi gadis itu.
PLAK!
Suara tamparan Aidan membahana di ruangan itu.
Stefani terpaku, begitu juga dengan kedua pelayan yang memeganginya. Malahan, Ibnu tidak menyangka dengan pilihan yang diambil Aida. Wanita itu terlalu lembut untuk melukai orang lain.
__ADS_1
“Bukankah Pak Handoko sudah melihat betapa liarnya anak Bapak?”
Ibnu bahkan tidak sadar dengan keberadaan Handoko. Ketika ia berpaling, pria tua yang sudah mengabdi 25 tahun dengannya sedang berdiri di pintu, bersama Maulana putra sulungnya.