Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Tetap Saja Beda!


__ADS_3

“Nona Daisy marah pada Ayah!”


Kepala ayah Stefani tertunduk. Ia tampak lesu, entah bagaimana cara orang yang menjadi pemilik tubuhnya sementara itu memarahi pria ini.


“Memang apa yang Ayah lakukan?” tanya Daisy penasaran.


“Ayah menanyakan padanya bagaimana kalau bertemu denganmu! Lalu dia marah!” Ayah Stefani menghela napas pelan dan memejamkan mata. “Apa kamu mau menunggu beberapa saat lagi sebelum kemudian bertemu dengan Nona Daisy!”


Daisy saat ini sedang tengelam dalam pikirannya sendiri. Baginya aneh kalau orang yang tidak kenal dengan dirinya benci hanya dengan ide bicara dengan seseorang yang tak kenal. Bukankah seharusnya siapapun yang mendiami tubuh Daisy saat ini tertarik mencari tahu siapa yang telah menyebabkan kekacauan di dalam hidup mereka?


“Stefani, maafkan ketidak mampuan ayahmu ini!”


Daisy lekas menyadari kalau dirinya tidak sendirian. Ia menempatkan tangannya di belakang, dan tersenyum penuh pengertian. “Tidak apa-apa, Ayah, pastinya Nona masih marah padaku! Aku sudah melakukan hal yang tidak termaafkan!”


Namun, sendu di wajah ayahnya tampak tak akan menghilang dalam waktu dekat. Ada hal lain yang menjadi faktor untuk semua itu.


“Apa kamu sudah makan siang?”


Daisy ingat menengok jam saat akan keluar kelas tadi. Ia ingat kalau jarum pendek menunjukan angka 11. “Sepertinya masih lama, Ayah!”


Ayah Stefani agak malu, mengosok lehernya. “Katanya anak perempuan suka pada hal yang manis. Ayah melihat toko yang menjual makanan dan tampak cantik. Kalau datang tepat pada jam makan siang, pasti sudah ramai jadi kemungkinan kita tidak akan masuk ke dalam.”


Karena berbicara secara cepat, banyak hal yang tidak ditangkat jelas oleh Daisy. Tetapi, ia menangkap maksud baik dari ajakan Handoko, ayah Stefani.


“Baiklah! Aku juga sepertinya ingin minum kopi.”


Daisy sudah melakukan hal yang tepat. Sebab wajah Handoko menjadi cerah, tampak senang. Ia mengangguk dan menyilakan anaknya masuk ke mobil.


Daisy hampir saja menari gagang pintu pada sisi sopir. Ia biasa mengendarai mobil ini.


“Kapan-kapan akan Ayah ajari bagaimana caranya menyetir. Tapi, tidak pakai mobil ini, ya?” kata Handoko sedikit panik.


Daisy mengisi paru-parunya cepat. “Ya, Ayah! Maaf, aku hampir saja menyangka diriku jadi orang lain!” Sebagai tambahan Daisy tersenyum.


***


BRAK!

__ADS_1


Tubuh Daisy yang kini ditempati Stefani terdorong keras dari pintu dan menghantam sisi pintu lainnya. Punggungnya sakit, tetapi tidak ada seorang pun yang datang dan kemudian menolongnya.


“APA-APAAN KALIAN!”


Bukannya takut dengan teriakan Stefani, mereka semua termasuk dengan Lola menganggap dirinya tidak ada. Bukankah barusa sebelum kelas di mulai tak terkecuali semuanya bertingkah akrab. Stefani merasa dijadikan ratu oleh sekawanan lebah.


“Jangan berteriak-teriak Nona, kamu akan sakit jika banyak mengeluarkan tenaga!”


Stefani tidak tahu siapa yang sebenarnya bicara, tetapi suaranya berasal dari sekitar. Ia yakin kalau yang bicara adalah orang yang tadi juga antusias menanyakan apa yang terjadi padanya.


“Siapa yang bicara tadi! Keluar!” teriak Stefani.


Tenggorokannya sakit karena berteriak, punggungnya terlebih lagi. Akan tetapi, walau sudah memerintah Stefani tetap tak mendapatkan hasil. Orang-orang itu hanya melewatinya saja, seolah tidak ada dirinya yang terduduk bersandar di pintu.


Stefani tertawa kerasa sekali.


“Sekarang selain ngebos, kamu juga mulai gila, ya?” celutuk yang lain.


Sama seperti tadi, Stefani tidak tahu siapa yang sedang bicara dengannya. Ini tidak seperti yang dibayangkan, bukankah menjadi Daisy artinya memiliki semua hal yang dimiliki oleh nona majikannya itu. Daisy menjadi pusat dari orang-orang, tetapi kenapa Stefani tidak.


Saat Stefani sadar ia sudah sendirian di depan kelas, masih duduk dan merasakan punggungnya sakit. Ia tidak tahu harus berbuat apa.


Ia tak kesulitan membuka ponsel dengan penanda sidik jari milik Daisy. Begitu kontak Mahardika ditemukan, segera dihubungi.


“Ya, Daisy! Aku sedang dalam rapat sekarang.”


Di dalam hati Stefani mengutuk dengan kesibukan yang dimiliki tunangannya Daisy itu. Akan tetapi, bukannya saat ini keadaan darurat. Ia sedang merasa sakit.


Stefani terisak dengan cara paling alami yang dipikirkannya. Ia merasakan sakit dan juga sangat malu saat ini. Membuat air mata buka sebuah kesulitan baginya. “Dengarkan aku!” kata Stefani dengan suara serak.


“Ada apa? Terjadi sesuatu? Kamu baik-baik saja?” Rentetan pertanyaan meluncur keluar dari mulut Mahardika. Selain itu suasana yang tadi sedikit ramai di latar belakang mendadak menghilang. “Daisy! Jangan hanya diam saja!” serunya.


“Mereka jahat sekali padaku!” lapor Stefani.


“Kamu di mana? Aku akan ke sana sekarang!” kata Mahardika.


Stefani mematikan ponselnya setelah memberitahu di mana ia berada sekarang. Pelan-pelan ia berdiri, mengambil tas sandangnya yang terlempar ketika jatuh dan menunggu. Lalu ia pikir Mahardika pasti tidak akan mencarinya ke sini. Jadi ia akan menunggu pada kursi tunggu di lobi saja.

__ADS_1


Jika ia sempat berpikir sia-sia saja menjadi Daisy tadi, Stefani harus berpikir ulang kini. Tidak ada yang menjadi sia-sia.


***


Tepat setelah Daisy menghabiskan cheesecake pesanannya di kafe yang terletak tak jauh dari kampus, ia melihat mobil Mahardika yang melintas. Dalam hati Daisy bertanya-tanya ada urusan apa Mahardika ke kampusnya.


“Ada apa?” tanya Handoko, ayahnya Stefani pada Daisy.


Sedikit ragu Daisy untuk mengatakan awalnya. Akan tetapi, bagaimana kalau itu kejadian serius. Mau tak mau Handoko bisa saja dituduh bersalah karena lalai dalam tugas.


“Ada mobil Mas Dika tadi, Yah.”


Handoko ikut menoleh ke arah jalanan, tetapi tentu saja tidak bisa melihat mobil yang sudah lewat tadi.


“Stefani ....”


Handoko pasti berpikir yang bukan-bukan.


“Tidak, Ayah! Sepertinya Ayah harus segera ke tempat Nona Daisy! Bagaimana kalau ada kejadian serius.”


Seolah baru saja diguyur oleh air dingin, Handoko lekas berdiri. Ia akan lari keluar ketika menyadari kalau putrinya ada di sana. “Bagaimana denganmu?” tanya Handoko.


“Aku bisa pulang sendiri, Ayah! Pak Satpam tadi sudah mengajari!”


Daisy bertanya-tanya apakah perkataannya terdengar aneh untuk seorang yang sudah berkeliaran mengunakan angkutan kota selama ini.


“Langsung pulang!” suruh Hamdoko.


Daisy mengangguk, lalu menatap punggung Handoko yang semakin jauh dan menghilang di dalam mobil.


Di dalam hati Daisy bertanya, ada apa, ya?


Ia tak lama berada di dalam kafe karena sudah menghabiskan semua kue yang dipesan. Lalu ia keluar dan berdiri di tepi jalan selama beberapa saat. Ia masih saja penasaran dengan apa yang terjadi pada tubuhnya.


Ia pikir memang sebaiknya pergi untuk melihat ke jurusan Ekonomi. Tidak masalah jika tidak diketahui orang-orang. Setengah berlari Daisy ke arah kampusnya kembali. Untung saja jurusan Ekonomi gedungnya tidak jauh dari gerbang utama. Akan tetapi, napasnya tetap sesak saat sampai di parkiran.


Ia melihat mobilnya, juga milik Mahardika. Lalu samar-samar mendengar keributan yang terjadi didekat saja. Lalu tiba-tiba tubuhnya mendekat, terhuyung, dan melayangkan tamparan padanya.

__ADS_1


“Semuanya gara-gara kamu!” tuding siapapun yang kini ada dalam tubuhnya.


__ADS_2