
“Ayah, apa aku gil*?”
Handoko berhenti dan menatap putranya. “Apa maksudmu?” Ia menatap putranya itu dari atas sampai bawah, mencari sesuatu yang salah, tetapi tidak ada yang salah dengan putranya itu. “Kamu tampak sangat sehat di mata Ayah.”
“Saya berpikir kalau Nona Daisy adalah Stefani.”
Handoko tersentak. Ia menyesal mendengar perkataan putranya, Maulana. Sebab jauh di dalam hatinya, ia pun memiliki perasaan yang sama. Aneh memang, karena ia dan Nona majikan kecil itu sama sekali tidak dekat. Perasaan seperti melihat putrinya sendiri benar-benar membuat gundah.
“Jangan sampai terdengar adikmu!” kata Handoko sambil masuk ke dalam dengan benar kali ini.
Maulana menelan ludah susah payah. Ia hampir melupakan keberadaan adiknya yang memiliki emosi yang turun naik hari ini. Walau terasa sangat membingungkan dengan hal itu sebab seharusnya Stefani sama sekali tidak lagi bersikap layaknya dulu lagi. Beberapa hari ini Stefani begitu terkendali layaknya di dalam mimpi saja.
Ketika Stefani bersikap layaknya seperti biasa, semua hal yang terjadi selama beberapa hari ini tampak seperti mimpi saja, sangat membingungkan dan aneh untuk mereka semua. Seolah Stefani menghilang dan baru kembali.
“Stefani ... ayo makan!” seru Handoko.
__ADS_1
“Aku tidak lapar, Ayah dan Kakak makan saja!” seru Stefani dari dalam kamarnya.
Maulana dan Handoko lantas saling pandang. Tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang supaya semuanya kembali normal.
***
Apa-apaan gadis yang bahkan tidak pernah susah itu. Stefani benar-benar tidak mengerti sama sekali dengan kedatangan Daisy yang tiba-tiba. Awalnya ia pikir itu hanya mimpi, tetapi saat Daisy memberi salam padanya, Stefani lekas sadar. Ia langsung meledak detik itu juga.
“Tidak adalah yang benar-benar memperhatikan apa yang aku suka dan yang tidak?’ gumam Stefani sambil membenamkan wajah di bantal.
Namun, memang tidak ada orang yang benar-benar akan bertanya pada Stefani apa yang disukai dan yang tidak. Ia tak mau berharap sesuatu yang mustahil terjadi. Semuanya tidak ada yang akan berjalan seperti keinginannya. Seperti halnya dengan opsi botol cairan biru yang didapatnya dari si pria tua. Ia tidak bisa mengubah apapun di kehidupannya. Yang ada ia mendapatkan masalah saat berada di tubuh Daisy.
Ia tertidur tanpa makan malam. Rasanya Stefani baru saja tertidur saat pintu kamar diketuk. Ia mengangkat kepala dengan tergesa-gesa dan mendapat serangan sakit otot di lehernya.
“Ada apa?”
__ADS_1
“Sudah pagi, Stefani, bangungnlah! Tidak masalah kalau kamu tidak mau membantu membuat sarapan.”
Itu suara Maulana yang menyapanya. Apa ada yang salah dengan otak semua orang? Kenapa semua orang berusaha bersikap sok peduli, berusaha mendekatinya. “Aku akan bagun nanti!” seru Stefani menyahut.
“Stefani!” Maulana mengetuk pintu lagi.
Stefani memukul bantalnya sekuat tenaga dan bangun dari atas tempat tidur. Sepanjang jalan dari sisi tempat tidur sampai ke depan pintu, Stefani mengerutu panjang pendek. Ia membuka pintu tanpa peringatan yang membuat Maulana di depan sana terlonjak kaget dengan tiba-tiba.
“Aku sudah bangun!” katanya dengan nada yang menyebalkan.
Maulana terbelalak selama beberapa saat. “Ah, iya kamu sudah bangun ternyata!” Pria muda yang ada di depan Stefani itu tertawa dengan canggung. Ia mengosok lehernya dengan wajah sedikit memerah.
Sekitar sebulan yang lalu, Stefani akan menunduk jika bertemu dengan Maulana. Apapun yang terjadi, ia akan membiarkan sikap menyebalkan kakaknya menghantui. Tapi, setelah menjadi Daisy, menyadari kalau dirinya memiliki kendali atas apa yang dilakukan, sosok Maulana tidak lagi menakutkan.
“Mau menyalahkanku lagi karena kamatian Ibu?”
__ADS_1
Maulana kaget mendengar pertanyaan Stefani. Ia mengeleng sekuat yang bisa dilakukan. “Aku minta maaf untuk itu! Aku benar-benar tidak bermaksud menyalahkanmu. Sungguh!” Ada kegetiran yang ditangkap Stefani dalam suara kakaknya. Juga ada ketulusan.
Tapi kenangan buruk Stefani tidak akan menghilang sepenuhnya dengan kata maaf. Tidak.