
Stefani tergelak mendengar teriakan Lola. “Lalu seperti apa diriku? Pasrah seperti waktu kalian mendorongku kepintu dan menertawakanku? Yang benar saja!”
Dengan sengaja Stefani melakukan hal yang sama pada Lola, malahan lebih keras. Gadis itu yang dulu adalah temannya jatuh terduduk di tangga dengan wajah memerah menahan amarah. Di atas, tepat di lantai dua Maya, teman sekelas lainnya yang juga akrab dengan Lola mundur saat Stefani mendekat.
“Apa kamu takut aku mendorongmu turun dari sini?” tanya Stefani yang lalu tertawa saat mengetahui kalau terkaannya itu benar. “Jika kamu tidak mengangguku, aku tidak akan menganggumu. Ini seperti hubungan timbal balik!”
“Daisy!” panggil Maya setelah Stefani melewatinya.
“Ya? Apa lagi?”
“Kamu berubah! Kamu bukan Daisy yang aku kenal lagi. Aku bahkan tidak tahu harus bersikap seperti apa padamu!” kata Maya padanya.
“Kalau aku tidak berubah setelah kalian melakukan hal jahat padaku, aku hanya orang bodoh! Lalu pewaris Aghra tidak boleh orang bodoh, kan?”
Maya mengeleng, tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi sekarang. Ia menuruni anak tangga untuk membantu Lola naik.
Stedani masih bisa mendengar suara Lola yang berteriak karena kesal saat sudah hampir sampai ke kelasnya sendiri. Suasana ramai di kelas itu mendadak tenang saat Daisy mengeser pintu masuk ke samping. Mereka pasti sedengan menerka-nerka apa yang tengah terjadi sekarang ini.
Stefani tidak melakukan apa-apa kecuali berjalan dengan anggun melewati semua orang yang duduk di depannya. Lalu tanpa banyak bicara mengambil kursi di belakang.
“Cih, si tidak tahu malu benar-benar datang ke kampur!”
Stefani memutar bagian tubuh atasnya ke asal suara. “Apa gedung ini milikmu?”
Orang yang tadi bicara diam. Entah apa yang dipikirkanya mendengar Stefani membalas ucapannya.
“Kalau gedung ini milikmu, aku tidak akan datang kemari.” Stefani menambahi lekas karena tidak ada balasan.
Lalu ia kemudian duduk tenang sampai dosen yang mengajar hari itu masuk ke dalam.
***
“Stefani!”
Daisy yang tengah berjalan menuju halte sendirian, berhenti dan menemukan mobil yang sering digunakan mengikutinya dari belakang. Tak lama kepala Handoko terjulur dari jendela sopir dan pria itu tersenyum menatapnya.
“Ayah, apa sudah selesai mengantar Nona Daisy?”
Ia agak canggung menyebut namanya sendiri. Rasanya lindahnya seolah menyebut nama aneh saja.
“Ya, Nona bilang Ayah bisa menjemputnya nanti saat sudah dipanggil saja! Ayo ... Ayah akan mengantarmu ke kampus!” ajak Handoko.
Daisy menoleh ke arah gerbang rumahnya yang masih terlihat, tidak mau mendapat masalah lagi karena naik mobil majikan. Saat ini ia adalah Stefani, putrinya Handoko. Walau dirinya tahu betul kalau jiwa yang ada di dalam tubuhnya Daisy.
__ADS_1
“Nanti Ayah dimarahi,” alasannya.
“Tidak! Mana mungkin dimarahi hanya karena mengantarmu ke kampur. Ayolah!”
Mobil yang digunakan Handoko saat ini berhenti dan ia keluar dari pintu sopir, tergopoh-gopoh menurut Daisy yang masih berdiri di luar. Ditariknya tangan Daisy sampai ke mobil dan kemudian dibukakannya pintu.
“Terima kasih, Ayah!” Daisy melemparkan senyum tulus.
“Apa kamu kuliah sampai sore?” tanya Handoko setelah sampai kembali ke bangku sopir.
“Tidak, Yah, hanya ada satu kelas hari ini! Ada apa?”
“Bagaimana kalau Ayah menjemputmu nanti saat pulang. Kita pergi melihat-lihat rumah lain dulu untuk sementara. Nanti, saat kakakmu pulang, kita lanjutkan?” tanya handoko dengan hati-hati.
Apakah Handoko, ayah Stefani takut kalau ditolak?
“Baiklah! Tapi, apa tidak masalah berkeliling dengan mobil ini? Saya tidak mau Ayah mendapatkan masalah.
Benar. Ia tidak mau Handoko atau pun Maulana mendapatkan masalah dari Stefani yang kini ada di tubuhnya dan tampak bertingkah seenaknya.
“Tidak! Mana mungkin akan ada masalah kalau Ayah bisa melaksanakan perintah dengan baik. Nanti, Ayah akan minta izin pada Tuan Besar.”
Daisy bersyukur karena Handoko tampaknya lebih pintar dibandingkan putrinya yang mengedepankan emosi di atas segalanya. Andaikan Stefani melihat setiap hal dari kaca mata Daisy, ia pasti bersyukur lahir sebagai putri Handoko.
“Kenapa tidak di depan teras saja?”
“Saya ada janji dengan teman di halte. Nanti kalau turun di teras, dia akan kesusahan mencari saya!”
“Sama Azzam?” Handoko tampak tertarik mendengarnya.
“Bukan, sama Andien!” Lalu Daisy menoleh pada Handoko dengan mata menyipit.
“Apa Ayah juga punya anggapan yang sama seperti halnya Kakak?”
“Memang Maulana berkata apa pada padamu?”
“Saya tidak senang karena dia berkata kalau Azzam adalah orang jahat. Bagaimana mungkin orang yang selalu menolong saya jadi orang jahat?”
Tawa Handoko semakin keras saja. “Kakakmu sangat menyayangimu, Stefani.”
“Saya tahu!”
Mobil Handoko mulai bergerak pelan karena akan berhenti. Begitu sampai di halte, Daisy menanggalkan sabuk pengaman dan membuka pintu.
__ADS_1
“Aku pikir siapa yang parkir di sini! Kamu diantas siapa, Stefani?”
“Ayahku!’ jawab Daisy sambil melambai pada Handoko yang beranjak pergi.
Berdua, Daisy dan Andien berjalan ke arah gedung kampus, melewati jalan setapak taman di sekeliling tempat parkir.
“Oh, ya, Andien, apa kamu tahu soal rumah kontrakan di sekitar sini?” tanya Daisy.
Andien diam sebentar, sedang berpikir tampaknya. “Kamu dekat dengan Azzam, kan? Coba tanya dia. Seingatku dia punya beberapa rumah yang dikontrakan.”
“Benarkah?”
“Ya!”
Padahal Daisy ingin menjauhi Azzam untuk saat ini. Sebab orang-orang yang menganggunya kemarin menyebutkan bahwa Azzam sebagai alasannya. Bukan berarti ia membenci Azzam. Namun, sampai Daisy mendapatkan solusi masalah perundungan tersebut, sebaiknya hati-hati.
Azzam tampaknya adalah makhluk mistis yang kalau dipikirkan akan muncul di depan Daisy seketika.
“Hai Kak!” sapa Andien padanya.
“Hai!” balas Azzam. “Kenapa tampaknya kamu tidak senang bertemu denganku?” tanya Azzam pada Stefani setelah memperhatikan sesaat.
“Kapan saya begitu! Itu hanya perasaan kamu saja!”
“Andien, boleh aku meminjam temanmu sebentar. Ada yang mau kubicarakan!” kata Azzam pada Andien.
“Tentu, Kak, tolong dikembalikan dalam keadaan utuh, ya?”
Stefani melotot mendengarnya. Namun, saat ia mau protes pada Andien gadis itu sudah melarikan diri cukup jauh. Protesnya harus disimpan sampai mereka bertemu lagi.
“Ini soal orang-orang yang harus menemuimu kemarin!” Azzam memulainya saat mereka hanya berdua saja.
Seluruh tubuh Daisy menegang mendengarnya. Ia menoleh ke kiri dan kanan dan menemukan tempat kosong untuk duduk. “Ayo ke sana!” ajaknya pada Azzam dan berjalan lebih dulu ke tempat yang diinginkan.
Saat Daisy sampai di tempat duduk, Azzam hanya tinggal beberapa langkah lagi darinya. Tetapi, pria itu sama sekali tidak duduk. Ia tetap berdiri di depan Daisy.
“Coba ulangi,” pinta Daisy.
“Apa mereka menyebutkan alasannya padamu?”
“Alasan melakukan kekerasan padaku? Kamu pasti bisa menebaknya kan? Soalnya kamu mengenal mereka.”
“Aku tidak seterkenal itu Stefani. Kalau memang itu karena aku, seharusnya mereka melakukannya sejak dulu. Aku sudah mendekatimu lebih dari tiga semester.”
__ADS_1
Daisy tidak menyangka kalau Azzam akan begitu jujur.