Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Dia Akan Datang Menemuimu (1)


__ADS_3

Sepanjang jalan masuk dari gerbang hingga ke pavilliun samping, semua pekerja menoleh padanya saat lewat. Rasanya seperti seekor monyet yang salah masuk ke kandang singa. Mata mereka menyebalkan dan entah mengapa Daisy juga paham kenapa Stefani marah padanya, walau gadis itu salah sudah menganggu Mahardika.


Setelah menutup pintu pavilliun dengan benar, Daisy masuk ke kamar yang sudah digunakan hampir sepuluh hari.


Ia menaruh tasnya di atas meja belajar di samping meja rias dan mencharger ponselnya. Daisy sudah terbiasa melakukan hal kecil macam ini bahkan di dalam tubuhnya sendiri. Ia tak memiliki Mama untuk mengajarinya, tetapi ia justru tak mau orang lain membencinya karena sikap.


Lalu dibersihkan wajahnya di kamar mandi dan kemudian barulah ia merebahkan diri di ranjang. Hari ini sangat melelahkan, pikirnya.


Ia terlelap segera setelah itu dan bermimpi. Mimpi yang rasanya begitu nyata untuk dirinya. Ini adalah kamarnya di rumah utama, barang-barang semasa kecilnya ada di sana. Begitu sadar di mana ia berada, Daisy berlari ke cermin dan terkejut karena tubuhnya yang menyusut.


“Daisy!” Suara hangat yang dikenalnya kembali terdengar.


Air matanya tergenang ketika mengingat siapa pemilik suara itu. Ia berbalik dan melihat mamanya tersenyum di ambang pintu kamar.


“Apa yang terjadi, kenapa putri cantikku menangis? Kemarilah!”


Bahkan tanpa diminta pun Daisy akan pergi ke sisi ibunya, memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu dengan kerinduan dan mengatakan bagaimana sang papa memperlakukan Daisy selama ini.


“Apa kamu ingat yang sudah Mama katakan padamu saat kecil?”


“Ya, sebelum dihargai orang lain harus menghargai orang lain. Hubungan manusia itu adalah hubungan timbal balik.”


“Pintar sekali putri kecil Mama!” puji wanita itu.


“Maafkan Mama karena kamu harus mengalami begitu banyak hal yang membingungkan Daisy, tetapi kamu harus melihat dari berbagai sudut untuk bisa menjadi orang yang tidak mudah dimanfaatkan!”


Daisy tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh mamanya.


“Apa Mama akan pergi?’ tanya Daisy.


Ia memeluk pinggang wanita yang sudah melahirkannya itu lebih erat. Ia tidak mau berpisah secepat ini. Mereka baru bertemu lagi setelah delapan tahun. Entah Daisy bermimpi atau tidak, ia tak wanita itu menghilang.


“Maafkan Mama Daisy.” Wanita itu tersenyum membelai tangan Daisy, mengurai pelukannya. “Kamu bisa menemuinya! Dia tidak bisa datang kemari karena seseorang sudah menolak bantuannya. Tetapi, dia akan datang padamu karena kamu memerlukannya.


Daisy benar-benar binggung dengan maksud perkataan mamanya.

__ADS_1


“Ma ....”


“Mama akan pergi sekarang!”


Tiba-tiba semuanya memburam, seolah luntur seperti cat yang disiram air. Daisy menangis, napasnya menjadi sesak. Lalu ia merasakan semuanya berguncang dan suara lain memanggil namanya.


***


Maulana tahu kalau adiknya telah dewasa dan tidak baik baginya untuk masuk tanpa izin ke dalam kamar. Tetapi, ia mendengar isak tangis ketika membuka pintu pavilliun dan takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap adiknya.


“Stefani! Stefani!’ Maulana menguncang tubuh gadis yang meringkuk di ranjang itu.


Agak takut dan juga sekaligus penasaran tentang apa yang sedang dimimpikan adiknya itu. Namun, guncangan yang dilakukannya di bahu Stefani, belum juga memanggunkan adik perempuannya itu. Ia menjadi semakin khawatir saja.


“Stefani, kumohon bangunlah!” pinta Maulana.


Perlahan, seolah mendengar permintaan maulan gadis itu bergerak sedikit lalu membuka mata.


“Kakak?” tanya Stefani seolah tidak percaya kalau ia sudah bangun.


Ia tidak pernah benar-benar memperhatikan Stefani. Walau melindungi adiknya dari jauh seperti melakukan pekerjaan berat yang ada di rumah dan menjauhkan para serangga dari adik perempuannya, ia nyaris tidak tahu apa yang disukai dan tidak disukai Stefani.


“Tidak! Saya tidak sakit. Hanya bermimpi!”


Senyum Stefani terlihat sedih di mata Maulana. “Apa yang kamu mimpikan?” tanya Maulana.


Ia marasa sedang mengali kuburannya sendiri. Akan tetapi, ia harus tahu apa yang dimimpikan adik perempuannya.


“Ibu!”


Jantung Maulana serasa diremas, menyakitkan. Suaranya tertahan di tenggorokan. Stefani tidak pernah bertemu dengan ibu mereka. Wajah sang ibu hanya dari foto saja. Jadi, pasti kerinduan pada sosok itu lebih besar lagi dibandingkan dirinya.


Maulana jadi mengingat semua kalimat kasar yang dituduhkan pada sang adik selama ini. Rasanya ia tak menyangka kalau sudah melakukan hal jahat. Jika Stefani menjadi seperti ini, Maulana dan sang ayah yang sudah membentuk sejak awal.


“A-pa kamu ingin sesuatu?’ tanya Maulana pada Stefani.

__ADS_1


Mata adik perempuan Maulana itu masih sayu, tampak tak bersemangat. “Tidak! Aku hanya ingin tidur saja, bisakah Kakak pergi untuk melihat rumahnya dengan Ayah saja?’ tanya Stefani padanya.


Maulana berdiri, padahal bermaksud mengambilkan minuman di dapur, tetapi tak jadi. “Baiklah! Aku akan katakan pada Ayah kalau kamu sedang tidak enak badan!”


Stefani tersenyum. Maulana seolah tahu kalau adik perempuannya memaksakan diri.


“Terima kasih.”


Saat Maulana menarik pintu kamar Daisy supaya tertutup kembali, Stefani sudah beringsut untuk kembali merebahkan diri. Saat pintu sudah benar-benar tertutup, Maulana mendengar Stefani menangis kembali, suaranya lebih kecil dari sebelumnya.


Perasaan Maulana mendadak menjadi buruk. Ia memilih masuk ke kamarnya sendiri dan membereskan barang-barang yang dibawa dari kantor. Ia kemudian mandi, berharap bisa mengusir perasaan buruk yang datang saat mendengar nama ibu mereka di sebut-sebut.


Maulana buru-buru keluar saat mendengar ayahnya memanggil Stefani dari ambang pintu. Ia menempelkan telunjuknya di bibir supaya sang ayah berhenti memanggil.


“Ada apa?” tanya Handoko penasaran.


“Nanti aku ceritakan Ayah! Apa Ayah mau mandi dulu?”


“Tidak! Kita langsung ke sana saja. Panggil Daisy sekarang!” Handoko bermaksud memanggil putrinya lagi.


Tetapi, Maulana dengan sigap mendorong Handoko keluar dari rumah dan menutup pintu di belakang.


“Ada apa?’ tanya ayah Maulana terdengar tidak senang.


Maulana mengunci pintu lebih dulu dan menarik ayahnya kembali menjauhi pavilliun. “Kita berangkat pakai motor saja, Yah, Stefani bilang kita pergi berdua saja!” kata Maulana sama sekali belum menjawab pertanyaan ayahnya.


“Maulana! Ayah tidak suka dengan sikapmu yang seperti ini!’ tegur Handoko.


Maulana berhenti melangkah, membiarkan ayahnya berjalan di sisi sebelum bicara. “Stefani bilang dia bermimpi tentang Ibu. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan karena itu.”


Mulut Handoko terbuka, lalu tertutup kembali. Sepertinya perasaan sang ayah sama dengan putranya ini.


“Terima kasih sudah melindungiku!” kata Handoko pada Maulana.


“Apa Ayah tahu apa yang disukainya? Dia tadi menangis!”

__ADS_1


Handoko diam sebentar. “Nanti kita singgah di toko kue. Ayah rasa tahu apa yang bisa membuat perasaannya menjadi lebih baik.


__ADS_2