
Maulana keluar dari kantor pukul setengah empat sore. Lebih cepat setengah jam dari yang seharusnya. Tentu saja pekerjaannya sudah selesai dan izin telah dikantongi dengan aman dari Mahardika. Ia menyapa satpam dengan klakson saat keluar dari gerbang depan dan terhindar dari lampu merah secara ajaib di jalanan.
Hari itu dipikirnya adalah sebuah keberuntungan, sampai ia melihat Stefani adiknya dipapah oleh seorang gadis melewati parkiran untuk mencapai halte.
“STEFANI!” pekiknya tidak percaya.
Segera Maulana melupakan motornya yang tidak terparkir dengan benar. Juga helmnya yang masih terpasang di kepala dan belum dilepas. Ia tidak ingat bahkan pada tas yang kini berisi laptop tergantung di bagian depan motor. Yang jelas, Maulana hanya ingin dengan cepat mencapai adiknya yang terlihat sakit dan kesulitan berjalan.
“Dia siapa Stefani?”
Maulana juga melupakan gadis pemapah adiknya yang didorong menjauh beberapa langkah karena kepanikannya.
“Saya tidak apa-apa, Kak.” Stefani menepuk punggung tangan Maulana dengan lembut, menghentikan sikap pria muda itu yang dinilainya sedikit norak. “Dia Kakakku, Andien, namanya Maulana! Kakak almameter jurusan sini juga. Hanya kini kerja nyasar di perusahaan.” Stefani masih sempat-sempatnya berusaha melawak.
Andien tidak tertawa, hanya memperhatikan Maulana hampir tak berkedip.
“Kamu kenapa?” tanya Maulana sekali lagi.
Ia tak percaya seseorang yang dipapah baik-baik saja. Memangnya Maulana anak kecil yang bisa ditipu. Ia yakin betul sudah terjadi hal yang gawat dan tidak akan membiarkannya begitu saja.
“Tadi jatuh, Kak,” jawab Stefani.
Maulana lekas menoleh pada gadis bernama Andien. Rupanya gerakan kepalanya yang tiba-tiba membuat Andien terkejut. “Apa benar dia jatuh?”
Andien melirik Stefani terlebih dahulu sebelum kemudian dengan ragu-ragu mengangguk. Maulana yang melihat gelagat kalau kedua gadis itu tengah bersekongkol menipunya menjadi dongkol. Memang apa salahnya berkata jujur.
“Baiklah! Kalau memang kamu baik-baik saja!” sahut Maulana sama sekali tidak menahan diri menujukkan kemarahannya. “Ayo kita pulang sekarang! Terima kasih sudah membantu adikku, Andien!”
Ya, sama-sama Kak. Hati-hati!” Andien tidak bergerak dari tempatnya dan hanya melambai saat melihat Stefani dan Maulana pergi.
__ADS_1
Dengan hati-hati Maulana membimbing Stefani menuju halte, motornya melintang terparkir di sana. Untungnya tidak ada satu pun kendaraannyang lewat da merasa terganggu dengan keberadaan motor itu.
“Kamu akan menjelaskan padaku apa yang terjadi di rumah, kan?” Maulana bertanya saat memutar motornya di jalanan dan membiarkan Stefani berdiri sendirian selama beberapa detik.
Stefani menghela napas dalam dan kemudian mengangguk. “Ya, saya akan memberitahu semuanya di rumah nanti. Bisakah kita pergi sekarang?” tanya Stefani.
Maulana tidak tahu kenapa Stefani tampaknya tak senang dengan sikapnya. Bukankah wajar jika dirinya khawatir pada adik perempuan semata wayangnya ini.
***
Daisy memegang erat-erat bahu Maulana yang melaju sekitar 15 km/ jam di jalanan. Motor itu berhenti sekitar sekali di lampu merah dan berbelok ke gang kecil. Tahu-tahu saja Daisy sudah mengenali jalanan yang dilaluinya tadi pagi saat berangkat ke kampus. Apakah Azzam sengaja berputar jauh tadi pagi?
“Tadi pagi berangkat dengan siapa?’ tanya Maulana saat mereka memasuki perumahan.
“Azzam!”
“Dia melakukan itu karena saya belum tahu jalan ke kampus yang paling dekat!” Daisy pikir ia harus membalas jasa Azzam yang sudah membawanya ke kampur tadi pagi. Ia bisa merasakan kalau Maulana akan membuat masalah dengan Azzam jika bertemu sore ini.
Apalagi Azzam punya janji untuk meminjamkan buku pada Daisy.
“Kamu bisa naik taksi online. Tidak terlalu mahal kalau berangkat dari sini ke kampus.”
Daisy sama sekali tidak memikirkan kemungkinan itu tadi pagi. Kalau pun terpikir pasti ongkosnya dua kali liat biasanya karena dipesan saat jam sibuk.
“Baiklah! Saya akan naik taksi atau ojek online saja besok!” Pastinya ini adalah jawaban yang diharapkan Maulana darinya. Namun, ternyata dugaan Daisy salah. Sebab saat mereka berhenti di depan rumah kontrakan dan Daisy bisa melihat wajah Maulana kembali, pria itu tak tampak senang. “Ada apa lagi, Kak?”
“Padahal kamu bisa minta tolong diantarkan olehku, kenapa harus pesan taksi atau ojek online segala?” dengus Maulana kesal.
Daisy tidak tahu reaksi seperti apalagi yang diinginkan Maulana darinya. Maka ia berbalik lekas dan mendorong salah satu pintu gerbang terbuka. Ia tetap membiarkan pintu gerbang terbuka supaya Maulana mendorong motrnya masuk ke halaman.
__ADS_1
“Jadi, apa kamu akan mengatakan padaku kenapa dengan kakimu dan juga pakaianmu? Kamu agak berjingkat saat berjalan tadi.”
Jika keingin tahuan Maulana diarahkan ke tempat lain, pastinya pria itu akan menjadi penemu. Akan tetapi, Maulana mengarahkan keingin tahuannya untuk membuat Daisy kesal. Padahal jika mengesampingkan rasa nyeri di pinggangnya, juga ngilu di lututnya, Daisy masih baik-baik saja.
“Saya masih mempunya jawaban sama, kalau saya sama sekali tidak apa-apa. Tapi, Kakak tidak akan percaya. Jadi akan saya katakan kalau saya memiliki masalah dengan beberapa gadis!”
“Dengan beberapa gadis? Apa ini soal laki-laki? Apa kamu memiliki kekasih di kampus?” Suara Maulana meninggi disusul dengan sesuatu yang terdengar jatuh dengan cara berisik.
Maulana dan Daisy menoleh ke arah asal suara dan menemukan Azzam sedang berjongkok memunggut sesuatu.
***
Seharusnya Azzam tidak berperilaku seperti ini sebab dirinya adalah yang paling tahu siapa saja yang dekat dengan Stefani di kampus. Selain keberadaan Andien yang aneh, tidak ada hal seperti seorang pria yang sedang mendekati Stefani saat ini.
Akan tetapi, teriakan Maulana yang bertanya apakah Stefani memiliki kekasih di kampus membuatnya kaget setengah mati. Seluruh indranya mendadak jadi mati rasa dan tiba-tiba saja pegangannya pada lepas dari buku-buku yang dibawa.
Ia menjadi kembali mati rasa--kali ini pada hatinya--saat mata kedua kakak beradik itu tertuju padanya. Azzam membayangkan sebuah lubang besar tiba-tiba saja muncul di tengah-tengah halaman sehingga ia bisa meloncat masuk ke dalamnya.
“Ada apa Azzam?’ tanya Stefani segera.
Azzam rasanya mau berlari dan memeluk gadis itu untuk berterima kasih karena sudah menyelamatkannya dari kecanggungan. “I-ni, kamu tadi mencari buku ini di perpustakaan, kan? Aku membawakannya untukmu. Kapan tugasnya di kumpulkan?” Azzam melirik ke arah Maulana.
“Minggu depan!” jawab Stefani.
Gadis itu berjalan pelan-pelan ke arah Azzam. Seketika Azzam menyadari kalau ia sudah melakukan kesalahan dengan meninggalkan Stefani begitu saja di kampus tadi. Harusnya ia tetap di sana sehingga bisa menjaga gadis yang disukainya itu.
“Mereka merundungmu lagi?” seru Azzam lekas dan tidak memikirkan kalau hal itu tak seharusnya disebutkan.
“Siapa yang dirundung?”
__ADS_1