Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Teman (3)


__ADS_3

“Aku tidak tahu alasanmu tiba-tiba berteman dengan Stefani! Tetapi, tidakkah sekarang kamu bisa berhenti?” tanya Azzam.


Langkah Andien yang berjalan di depannya berhenti seketika. Wajah gadis itu memerah karena manahan amarah dan ia tampaknya sangat kesal dan juga sedih dalam waktu bersamaan.


“Kak Azzam masih saja pura-pura tidak tahu?” tanya Andien.


Kening Azzam berkerut. Apa yang tidak diketahuinya? Bahwa Stefani memintanya untuk menjadi teman saja. Bahwa gadis itu masih butuh waktu untuk mencari tahu perasaannya sendiri pada Azzam. Atau ada hal lain yang belum diketahu Azzam?


“Dari wajah Kak Azzam, aku tahu kalau Kakak malah memikirkan Stefani saat ini!” Suara Andien terdengar mengejek Azzam. “Apa tidak ada di dalam pikiran Kakak orang lain?” tanya Andien pada Azzam.


Azzam menelengkan kepala. Ia sedikit mengerti apa yang sedang coba dijelaskan oleh Andien. Tetapi, ia bukanlah pria yang terkenal sehingga ada banyak gadis yang menyukainya. Kalau pun ada yang mengatakan menyukai Azzam, ia tak percaya, sebab jelas gadis itu berbohong.


“Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana Kakak melewati semuanya dengan polos seperti ini! Dan aku yang menyukai Kakak harus terima dengan ketidak pekaan Kakak!” Andien membuang napas frustrasi. “Jangan antar aku. Aku bisa pergi sendiri ke ruang kesehatan!”


Azzam masih mencerna apa yang dikatakan Adien padanya. Ini sangat mengejutkan dan tidak bisa dipercaya. Bahwa selama ini Andien mendekati Stefani karena ingin akrab dengannya. Akan tetapi, Azzam tidak bisa membiarkan Adien memiliki harapan terlalu banyak. Ia sendiri masih mengantungkan harapan untuk mendapatkan perhatian Stefani. Ia tahu kalau ada dinding pemisah yang didirikan Stefani untuknya. Bahkan kini rasanya semakin tebal saja.


Karena tidak jadi mengantar Andien ke ruang kesehatan, Azzam kembali ke kelas Stefani. Pemuda itu tidak bisa masuk karena kelas Stefani telah dimulai. Gadis itu juga tampaknya terlalu berkonsentrasi mengikuti kelas hingga tak menyadari dirinya yang menunggu di luar.


Azzam memutuskan keluar saja untuk menenangkan diri. Buku-buku di perpustakaan sudah tidak bisa membuatnya menghilangkan segala pikiran buruk dan kekhawatiran tentang hubungannya. Azzam memikirkan untuk duduk nongkrong di kafe saat seseorang memanggilnya.


“AZZAM!”


Azzam menyipitkan matanya. Ia melihat seorang gadis menjulurkan kepalanya dari jendela mobil sambil melambai. Ia menelengkan kepala berusaha mengingat siapa gadis itu.


“Daisy?” katanya tidak percaya.


Daisy jelas bukan berasal dari fakultas Sastra, jadi tidak mungkin ia kebetulan lewat. Azzam menyeberangi lapangan parkir mendekati gadis itu.

__ADS_1


Daisy membuka pintu mobil dan turun. Ia melambai kembali pada Azzam saat pemuda itu sudah semakin dekat. “Apa kabar?” tanya Daisy ramah.


Azzam merasa seperti bertemu dengan orang yang dikenal saat ini. Tetapi, ia baru saja bertemu dengan Daisy kemarin. Jadi tidak mungkin ia tiba-tiba saja langsung menjadi akrab dengan Daisy dalam pertemuan pertama.


“Baik, bagaimana dengamu?” tanya Azzam berbasa-basi.


“Seperti yang kamu lihat! Sangat baik.” Daisy menunduk dan memberitahu kalau di dalam mobil ada ayahnya Stefani serta teman satu jurusan gadis itu. “Di dalam ada Pak Handoko dan temanku! Ah, bisakah kamu memanggilkan Stefani ke sini? Aku ingin berbicara padanya tentang para pembully.”


Azzam terkejut sekali. Ia memandang Daisy dari atas sampai bawah. Seingatnya Daisy tidak tampak seperti teman akrab Stefani. Sampai saat ini ia tidak pernah mendengar Stefani menceritakan tentang kawan akrabnya.


“Ah, dia sedang ada kelas sekarang! Mungkin satu jam lagi baru selesai!” Azzam menepis kecurigaannya pada Daisy. Bisa saja karena Stefani tidak percaya padanya, gadis itu tidak menceritakan tentang kawan akrab.


“Begitu? Sepertinya aku terlambat datang. Tidak masalah! Aku bisa menunggunya di kafe dekat sini!” kata Daisy. Ia menunduk ke dalam mobil. “Pak Handoko sudah makan siang?” tanya Daisy.


“Eh, belum Nona, nanti saja!” tolak Ayah Stefani itu.


“Aku tidak masalah!” jawab perempuan di dalam sana.


“Kalau begitu mobilnya di parkir di parkiran saja. Kalau di sini nanti menganggu bis kampus!” usul Azzam.


“Ide bagus! Azzam naik sekalian!” Daisy memaksa Azzam.


Karena menjadi orang yang memberikan usul, Azzam terpaksa naik ke bangku penumpang sebelah sopir. Ia memberi salam pada ayah Stefani yang segera menyelakan mesin begitu ia masuk ke dalam. Mereka parkir dan turun setelah itu.


“Bagaimana kamu tahu kalau kafe ada di sebelah sana?” tanya Azzam.


Daisy segera memimpin jalan setelah semua orang turun dari mobil. Ia yakin tidak pernah melihat Daisy di sekitar sini. Untuk orang sekelas Daisy, tampaknya ia tidak akan berkeliaran daris atu kafe kampus ke kafe lainnya karena gabut.

__ADS_1


Daisy diam terpaku selama beberapa saat. Lalu gadis itu berbalik dan tertawa. “Stefani pernah memberitahuku!”


***


Hampir saja!


Daisy bernapas lega karena tidak ada yang bertanya lagi padanya setelah ia memberikan jawaban. Ia berharap Azzam tidak langsung menanyakan soal bagaimana Daisy mengetahui kafe di jurusan Sastra pada Stefani. Gadis itu tidak akan membantu dan hanya mengatakan hal buruk saja.


Ia melirik tempat di mana dirinya dipukuli sebagai Stefani. Rasa kesal karena pada akhirnya yang terlibat adalah Stefani yang asli dan juga Brian membuatnya hampir mendengkus. Azzam bisa saja curiga lagi pada dirinya.


Sejak tadi ia bisa merasakan tatapan Azzam yang tidak menyenangkan.


“Kamu juga pesan, Azzam!” suruhnya pada Azzam.


Handoko duduk di meja lainnya. Tetapi, Daisy berhasil memaksa pria tua itu pindah ke meja yang sama dengan mereka. Ia juga memaksa Handoko memesan makanan yang ingin dimakan dan berjanji kalau akan membiarkan Stefani makan siang bersama mereka juga nanti. Sopirnya itu masih saja sungkan sehingga Daisy memesankan makanan sendiri.


“Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Stefani?”


Azzam tersedak teh manis yang baru datang dan diteguknya. Wajah pemuda itu memerah bagai tomat ranum.


“Hu-bungan apa maksudmu!” Suara Azzam mendadak melengking dan ia memandang khawatir pada Handoko.


“Kenapa kamu jadi malu begitu? Pak Handoko tidak akan menentang kalau kamu menyukai anaknya. Kamu itu baik, Azzam!” Daisy tersenyum-senyum saat mengatakannya. Ia senang bisa mengungkapkan betapa baiknya Azzam di depan orang lain. Menjadi Stefani selama beberapa hari sangat menyenangkan dan kini terbawa sampai saat ia menjadi Daisy.


Telapak tangan Azzam diletakan di dekat dahinya. Ia berusaha bersembunyi dengan cara seperti itu. Padahal tidak ada hal yang memalukan dengan mengatakan perasaan sendiri.


“Aku tidak tahu dari mana kamu mendengarnya! Bukankah kamu terlalu pandai menebak?”

__ADS_1


Daisy lekas menyadari kalau ia terlalu banyak bicara sekarang. Ia terkekeh kecil.


__ADS_2