
“Kamu gil*!” makian itu akhirnya meluncur juga dari mulut Mahardika tanpa sengaja.
Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Stefani, gadis yang menjadi adik Maulana dan putrinya Handoko bisa jadi seperti ini. Kedua orang itu--Maulana dan juga Handoko--adalah orang baik jarang ditemukan. Tapi, gadis di depannya sama sekali tidak bisa diprediksi.
“Terima kasih atas pujiannya! Aku sangat senang karena Mas Dika sangat memahami diriku. Ini seperti aku sudah melakukan semua yang aku bisa dengan baik!” kata Stefani sambil tersenyum.
Mahardika merasa ingin melarikan diri sekarang. Seharusnya ia bisa bertahan dengan wajah Daisy yang kini dilihat. Tetapi, menyadari kalau jiwa yang di dalam adalah milik Stefani membuatnya merasa tertekan dan frustrasi.
Ikuti saja alurnya!
Sebuah suara di kepala Mahardika terdengar sangat tiba-tiba. Ia menoleh ke kiri dan kanan saking tak menyangka dengan pikiran itu. Siapa yang berbisik di dalam kepalanya, diri Mahardika yang satu lagi atau petunjuk yang selama ini ditunggu.
“Kenapa Mas Dika diam saja?” tanya Stefani sambil mengernyit.
Mahardika memandang gadis itu tanpa menjawab. Bersamaan dengan itu Raise, pelayan Daisy datang membawa nampan berisi teko teh dan cangkir. Di belakangnya pelayan lain membawa biskuit dan beberapa manisa yang cocok untuk dimakan bersama teh. Mahardika menunggu sampai Raise dan pelayan yang membawa kue menyelesaikan pekerjaannya dan pergi.
“Bagaimana bisa kamu pindah ke tubuh Daisy? Aku mendengar banyak fenomena aneh seperti penampakan makhluk yang tidak bisa disebut dengan manusia, tetapi tak pernah mendengar kalau ada jiwa yang tertukar. Ini bukan sinetron!”
“Baguslah kalau Mas Dika tahu kalau yang terjadi ini bukan sinetron!” kata Stefani dengan acuh tak acuh.
“Itu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku!” Mahardika meraih cangkir teh yang uapnya telah tinggal sedikit, merasakan dengan bibirnya sebelum benar-benar meneguk isinya. “Aku penasaran?” katanya dengan keingintahuan tinggi kembali.
Stefani bertumpang dagu. Tatapannya hampir-hampir tidak berkedip memperhatikan Mahardika. “Tiba-tiba saja aku sudah berada di dalam tubuh Daisy! Bagaimana aku bilang begitu?”
Alis Mahardika terangkat. Lalu kemudian dahinya berkerut. “Apa kamu pernah mempelajari hubungan sebab akibat. Tidak ada kejadian di Bumi ini yang tanpa sebab. Jadi, pindahnya dirimu ke dalam tubuh Daisy pasti ada alasannya!”
Stefani mengangkat bahu. “Mana kutahu! Mungkin Daisy yang sudah melakukan kesalahan sehingga bisa terjadi seperti ini!”
__ADS_1
Mahardika membenarkan hal itu. Tidak ada manusia yang bisa lepas dari kesalahan. Akan tetapi, ada orang-orang yang tidak menghindari kesalahan. Daisy mungkin melakukan beberapa kesalahan kepada papanya atau mamanya suatu ketika, tetapi apakah pantas dihadapkan pada pertukaran seperti ini.
“Sepertinya aku harus menjelaskannya pada Daisy kalau dia sudah kembali ke sini!”
Stefani tampak tidak senang dengan apa yang dikatakan. Ia menegakkan punggungnya dengan segera dan tampak akan menerkam siapa saja termasuk Mahardika. Ia menikmati menjadi Daisy dan tidak ingin kembali ke tempat seharusnya.
“Aku pikir kamu melakukan sesuatu yang tidak seharusnya Stefani. Atau aku hanya salah sangka!”
“Kalau Mas Dika sampai sangat perhatiannya denganku aku kan jadi menyesal menukar jiwa.” Stefani seketika menutup mulutnya dan berdehem.
Mahardika menyimpulkan kalau masalah yang terjadi pada pada Daisy adalah karena gadis di depannya ini.
***
Ini sangat menyesakkan. Daisy duduk dengan teh di sampingnya dan TV yang menyala di depan mereka. Acaranya adalah anime anak-anak produksi Jepang. Daisy tidak menyukainya, tetapi tidak punya pilihan lain untuk mengalikan perhatian. Ia bisa saja mengantinya chanel dengan sinetron yang sedang digandrungi ibu-ibu. Bahkan beberapa mahasiswi di kelas bahasa juga ikut-ikutan menonton dan bikin klub untuk membahas isi cerita. Tapi, sinetron bukanlah tontonan kesukaan Daisy. Tidak sama sekali.
“Bagaimana dengan kuliahmu, Nak?” tanya Handoko saat siaran televisi telah berganti dengan iklan.
Daisy mendapat firasat kalau kedua pria ini telah berbicara soal kejadian yang menimpa tubuh keluarga mereka di kampus. Hal yang kemungkinan akan menjadi masalah besar sebenarnya tetapi Daisy bersikeras untuk menyelesaikannya sendiri.
“Baik, Ayah, saya tidak memiliki kesulitan.” Pandai sekali kini Daisy berkata bohong. Ia sangat kesulitan karena materi yang dipelajari bukanlah yang biasa dikerjakan. Walau dengan modul, catatan, dan keterangan dari dosen cukup memberinya poin-poin apa yang harus dikerjakannya.
“Baguslah! Kamu anak yang pintar!”
Pintar? Mungkin dalam segi akademik Stefani adalah anak yang pintar. Akan tetapi, dalam segi sosial dan kekeluargaan, gadis yang kini tubuhnya digunakan Daisy sama sekali tidak pintar. Ia sangat bodoh sampai tidak menyadari kalau keluarga yang ada di sekelilingnya sangat menyayanginya.
“Kakakmu memberitahu aku sesuatu yang mengejutkan. Apa kamu tidak mau berkata sesuatu padaku? Misalnya apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?” tanya Handoko.
__ADS_1
Seperti dugaan Daisy. Ia tersenyum menanggapi kekhawatiran dalam pertanyaan pria itu.
“Ayah, saya baik-baik saja! Apa Ayah tidak bisa mempercayai saya sekali ini?”
Jawabannya segera dilihat Daisy dari tatapan Handoko. Tidak. Sangat gampang untuk ditebak. Daisy jadi ingin tahu bagaimana sikap Stefani saat menghadapi masalah. Menangis ataukah mengamuk seperti saat ia tiba-tiba kembali ke tubuhnya sendiri setelah tiga hari berada di tubuh Daisy.
“Saya tidak akan melakukan kesalahan yang Ayah takutkan!” kata Daisy.
Tentu saja ia tak akan melakukan kesalahan karena dirinya adalah Daisy, bukannya Stefani.
“Bukan ... Ayah tidak berpikir kalau kamu akan melakukan kesalahan Stefani. Hanya saja ....”
“Saya sadar dengan hal yang sudah saya lakukan, Ayah, jadi Ayah tidak perlu bersikap lunak dan berkata kalau saya tidak melakukan kesalahan!”
Handoko menghela napas, sedikit tampak frustrasi, tetapi juga tampak lega. “Ayah menyayangimu sama seperti pada Maulana! Jika Ayah diam dan mengabaikanmu, bukan berarti Ayah tak sayang, Stefani. Ayah hanya tak tahu bagaimana menghadapi seorang putri saja!”
Daisy memandang pria itu dengan tulus dan bertanya-tanya apakah papanya di rumah besar kini juga memiliki pikiran yang sama dengan Handoko.
“Terima kasih sudah menyayangi saya, Ayah!”
“Ayah selalu berharap kamu akan menjadi lebih dewasa setiap harinya!”
Tiba-tiba saja hati Daisy menjadi sakit karenanya. Sebab ia bukanlah Stefani yang asli. Bagaimana pria yang berharap anaknya memahami kecanggungan ini akan bersikap pada Stefani yang mendadak menjadi kekanak-kanakan lagi. Daisy khawatir dengan rasa kecewa yang akan dihadapi pria tua ini.
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi, Nak? Apa yang Ayah bisa bantu! Kakakmu bilang kalau Nona Daisy mungkin terlibat.”
Daisy membuang napas dalam. Tak seharusnya Maulana mengatakan hal seperti itu. Karena kepastiannya belum ada, bukti pun belum bisa dikatakan ada.
__ADS_1