Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Apa yang Kamu Miliki


__ADS_3

Daisy melihatnya. Akhirnya, ia bisa bertemu dengan tubuhnya. Akan tetapi, kondisi tubuhnya tidak sebaik itu sekarang. Keadaannya aneh, penuh emosi dan saat Daisy mendekat, ayah Stefani ada di sana berusaha menenangkan hati tubuhnya.


Lalu tubuhnya melihat Daisy, terkejut selama satu detik dan dengan kemarahan yang jelas bergegas mendekat ke arahnya.


Sensasi panas, perih, dan sakit yang menjalar di pipinya, menyadarkan Daisy kalau bukan pilihan yang tepat mendekati tubuhnya, Mahardika, juga Handoko. Hanya saja semua sudah terlambat. Sebab pipinya telah ditampar.


“Andai kamu tidak ada!”


Walau ia tidak tahu siapa yang ada di dalam tubuhnya sekarang, Daisy tahu kalau apa yang dikatakan adalah untuknya.


“A-apa ...?” Kata-kata Daisy tengelam dalam teriakan penuh nafsu membunuh yang dirasakannya. Ia setra merta mundur dan Mahardika lekas menghentikan perbuatan buruk yang dilakukan tubuhnya.


“Siapa kamu sebenarnya?” Mahardika menarik tangan Daisy menghempaskan tangannya ke bawah.


Daisy menjadi deg-degan karenanya. Kalau benar Mahardika menyadari dirinya ada di tubuh Stefani, ada beberapa rencana yang bisa dicoba Daisy. Ia tak butuh orang lain untuk berpihak padanya.


Daisy menatap Mahardika penuh harap.


“Kenapa kamu bertindak seperti orang gila begini!” teriak Mahardika.


Ia kemudian menarik Daisy yang sedang mengamuk dan menariknya pergi dari ke dalam mobil.


Hati Daisy mencelos mendengar hal itu. Memang apa yang sebenarnya diharapkan Daisy dari Mahardika? Ada beberapa banyak kasus bertukarnya jiawa seseorang? Daisy hanya bisa menghela napas saja.


“Stefani, apa kamu baik-baik saja?” tanya Handoko, ayah Stefani pada Daisy.


Daisy meyakinkan diri, kalau ia berpikir positif maka semua hal menjadi baik pada akhirnya. Dunia tidak pernah membebankan sesuatu pada seseorang tanpa memberi jalan keluar.


“Ya, Ayah, saya baik-baik saja!” jawab Daisy sambil menyentuh pipi Stefani yang kini berdenyut.


Semua hal yang terjadi begitu mengejutkan untuknya. Apa-apaan dengan kemarahan yang ditunjukan tubuhnya tadi. Kenapa jiwa yang ada di dalam tubuhnya menundingnya sebagai biang kerok? Ini semua salahnya? Yang benar saja, Daisy sama sekali tidak ingin semua ini terjadi. Ia tidak pernah berharap hal seperti ini terjadi.


“Masih ada kuliah?” tanya Handoko padanya.


Daisy terhenyak dan mengeleng. Tatapan mata lelaki tua bernama Handoko itu tampak penuh dengan kecemasan. Padahal ia baik-baik saja. Hal-hal seperti ini tidak akan mempengaruhi Daisy cukup banyak. Sekali lagi Daisy terhenyak, kini ia ada di tubuh Stefani bukan miliknya yang sebenarnya.

__ADS_1


Bagi Handoko, sudah dua kali putrinya ditampar. Jadi pasti pria tua itu khawatir setengah mati.


“Tidak, Yah, saya sudah selesai kuliah untuk hari ini. Saya baik-baik saja, jangan khawatir.”


Stefani menyentuh tangan keriput milik Handoko. Ia tidak tahu bagaimana Stefani bersikap kepada ayahnya. Jadi ia melakukan hal yang dipikirnya benar saja.


Dari mata Handoko jatuh air. Sepertinya tamparan yang mendarat di pipi Stefani, lebih melukai pria tua itu. Daisy terenyuh melihat itu semua. Andai papanya juga seperti ini, betapa bahagia Daisy.


Dihapusnya air mata yang membasahi pipi keriput itu. Lalu diulang lagi kalimat yang sudah dua kali diucapkan. “Saya baik-baik saja, Ayah, sungguh.” Daisy tersenyum dengan ceria, seolah bisa mengalahkan matahari.


“Ya, ya! Ayah bisa melihatnya! Bagaimana kalau pulang dengan Ayah? Kamu mau, kan?”


Daisy mengangguk, tahu kalau tidak bisa menolak. Sebab perasaan lelaki yang wajahnya mulai keriput itu begitu sensitif kini.


***


Stefani membanting pintu mobil milik Mahardika keras-keras setelah dirinya turun. Ia benar-benar tidak peduli dengan kenyataan kalau bisa saja pintu tersebut lepas, atau lecet. Ia sama sekali tidak peduli.


Ia berjalan dengan menghentak-hentakan kakinya. Sementara Mahardika memanggilnya di belakang, menyuruh Stefani untuk berhenti berjalan.


“Apa yang kamu mau dariku!” teriak Stefani marah.


“Berhenti! Daisy aku memintamu untuk berhenti!” seru Mahardika.


Langkahnya panjang-panjang untuk menyusul Stefani yang setengah berlari kini. Ia tak mau beradu pendapat pada Mahardika. Selama berada di dalam mobil Mahardika, ia menyadari kalau dirinya sudah sangat keterlaluan. Akan tetapi, ia tetap tak mau mengatakan kalau dirinya salah. Stefani tidak salah dengan sikapnya.


Bukankah keberadaan musuh harus disingkirkan sebelum berhasil mengacau kehidupan yang susah payah didapatkan? Jadi kenapa Stefani harus mengalah.


Mahardika berhasil menyusul Stefani, mencekal pergelangan tangannya dan menarik supaya gadis itu berputar dan menatapnya. Napasnya sedikit sesak karena pengejaran ini. Ia mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum kemudian berbicara dengan Stefani.


“Ini sama sekali tidak lucu! Apa kamu paham maksudku?” tanya Mahardika.


“Setelah gadis itu menyatakan cinta padamu, kamu tampaknya sangat tertarik padanya ya, Mas Dika! Kamu suka sama Stefani, kan?”


Kening Mahardika berkerut. Ia kemudian tertawa.

__ADS_1


Daisy berjengit karena tawa dari tunangannya itu.


“Aku sama sekali tidak tahu kalau kamu berbakat dalam mengalihkan pembicaraan seperti ini. Seharusnya kamu sudah mengambil tempat di perusahaan ayahmu jika sangat berbakat!”


Stefani tahu kalau hal itu sindiran, tetapi ia sama sekali tidak peduli. Toh, ia sudah memiliki segalanya sekarang sejak menjadi Daisy.


“Yah, aku akan mengatakannya pada Papa nanti! Mas tenang saja! Kembali ke masalah kita sekarang! Mas suka sama Stefani, kan!” tudingnya kembali.


Mahardika menatap Stefani dengan serius. “Sepertinya aku sudah menjelaskan keseriusanku padamu waktu itu! Apa kamu lupa?” tanya Mahardika.


Mana mungkin Stefani ingat. Saat itu pasti setelah ia menyatakan perasaan pada Mahardika dan berakhir dengan tamparan dari Daisy. Saat itu ia masih belum membulatkan tekad untuk mengunakan cairan biru di dalam botol kecil.


“Ya, sudah lupa!” seru Stefani tidak peduli.


Mata Mahardika melebar dan ia mengeleng. “Daisy, kamu tidak bisa bersikap kelewatan! Apa yang kamu lakukan di kampus tadi hal yang tidak benar!”


“Lihat-lihat ini! Mas kembali membela Stefani. Padahal Mas bilang tidak melakukannya!”


Stefani harus membuat Mahardika menyerah dengan pembahasan ini. Semakin lama ini bergulir di antara mereka, kemungkinan Mahardika untuk menjauh semakin besar. Setahu Stefani pria selalu mengalah terhadap pasangannya.


“Ini bukan tentang gadis itu! Ini tentang teman-temanmu!” Mahardika mengambil napas kembali. “Daisy, apa kamu tahu betapa irinya orang lain melihat dirimu?”


“Apa peduliku?” tanya Stefani lekas.


Ia sudah lama berada di posisi itu dahulu. Ia iri dengan orang-orang yang memiliki orang tua lengkap. Ia iri dengan adik-adik yang memiliki kakak yang baik. Ia juga iri pada kehidupan yang bahagia milik yang lainnya.


Saat dirinya memiliki hal yang membuarnya iri dahulu, kenapa harus peduli terhadap orang lain lagi?


“Kamu harus peduli. Karena itu tanggung jawabmu! Apa yang kamu miliki adalah tanggung jawabmu!” seru Mahardika bijak.


Stefani berteriak, lalu meninggalkan Mahardika yang sama sekali tidak mengejarnya lagi. Bagi Stefani hal tersebut malah bagus, karena pembahasan berakhir di sana. Lalu ia bisa membuat Daisy yang ada di tubuhnya menjauh sekarang.


“Mana Mama?” tanya Stefani pada Raise yang menyambutnya di kamar.


Tampaknya Raise kaget karena pertanyaannya. Pelayan itu memandang Stefani seolah sedang menanyakan apakah matahari terbit dari barat sekarang.

__ADS_1


“Aku tanya di mana Mama?” tanya Stefani sekali lagi.


Agak enggan Raise menjawab tampaknya. Ia butuh waktu beberapa lama sebelum memberikan jawaban. “Mungkin ada di taman belakang, Nona!”


__ADS_2