Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Tidak Ada yang Berjalan Sesuai Rencana


__ADS_3

“Saya tidak mengatakan kalau Anda berbohong, Nona! Tidak! Saya hanya berkata kalau putri saya sama sekali tidak membuat masalah!” kata Handoko sambil tertunduk.


Ayah Daisy membuang napas keras-keras. “Entah siapa yang salah dalam hal ini, aku akan memutuskannya setelah mendengar dari kedua belah pihak. Kamu bilang kalau Mahardika juga ada di sana, kan?” tanya Ibnu pada Handoko.


Daisy tiba-tiba berdiri. Wajahnya merah karena marah. Ia menunjuk-nujuk Handoko saat membela diri. “Bagaimana mungkin kamu bicara begitu padaku? Papa mau akau dipermalukan bagaimana lagi! Kenapa tidak kirim aku sangat jauh saja sekalian!” teriak Daisy.


Anak perempuan Ibnu yang bernama Daisy itu menghentakan kaki dan pergi. Pelayan yang ditugasi untuk melayaninya berlari menyusul di belakang.


“Nona, hati-hati saat berlari di tangga. Nanti Anda jatuh!” Pelayan Daisy berteriak.


Hanya ada Handoko, Aida, dan Ibnu saja yang ada di sana sekarang. Ibnu memandangi tukang kebun yang diminta Daisy untuk menjadi sopirnya tadi pagi itu. Pria yang bahkan berlari mengejar Daisy saat anaknya jatuh dan membiarkan putrinya sendiri menangis.


“Apa sikapnya sangat keterlaluan pada putrimu?” tanya Ibnu.


“Saya tidak bisa mengatakan kalau sikap Nona keterlaluan, Tuan. Putri saya juga sudah melakukan kesalahan tak termaafkan pada Nona, jadi saya maklum kalau Nona menyimpan dendam! Tetapi, saya tak mau dipisahkan dengan putri saya.”


Wajah Handoko tampak pilu. Ibnu bisa melihat penyesalan di dalam sikap pria itu.


“Daisy juga tidak pernah memberontak seperti ini! Sejak aku menikah dengan Aida, ini adalah kali pertama ia datang sendiri ke ruang makan dan menikmati hidangan tanpa mempedulikan kami!” Ibnu membuang napas.


Handoko tidak mengatakan apa-apa dengan pengakuan Ibnu. Tetapi, lelaki itu belum bangun dari duduknya di lantai.


“Bangunlah, tidak ada hal buruk yang akan menimpa putrimu. Percayalah padaku!”


Barulah Handoko mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca dan tampak begitu banyak penyesalan yang terasa di dalam tatapannya. Ia berdiri perlahan.


“Saya benar-benar berharap Tuan dan Nyonya akan melakukan hal yang adil. Saya akan sangat berterima kasih!” kata Handoko. “Saya permisi, Tuan, Nyonya!” Handoko mundur perlahan, setelah beberapa langkah ia berbalik dan benar-benar keluar dari ruang makan.


“Ini yang ingin kukatakan padamu, Sayang!” Aida akhirnya bicara setelah kediamannya.


“Yang kamu tanyakan pada Daisy tadi?” tanya Ibnu.


Aida mengangguk. “Ya!” jawab Aida cepat. “Daisy datang tadi saat aku sedang duduk minum teh di belakang. Ia tampak seperti orang yang akan menangis karena minta tolong hal seperti ini. Jadi aku berjanji padanya akan melakukan hal itu!” jelas Aida pada suaminya.

__ADS_1


Sekali lagi Ibnu membuang napas berat. Kepalanya sedikit berdenyut karena masalah putrinya. Seperti yang dikatakannya pada Handoko, Daisy sama sekali tidak pernah menampakan sebuah pemberontakan sebelumnya. Malahan, ia diam saja apapun yang dilakukan, seolah sudah terlanjur kecewa dengan yang sudah dilakukan Ibnu untuknya. Jadi hal yang terjadi begitu aneh dan mengejutkan.


“Apa ini bukan hanya rencana Daisy saja, Sayang?” tanya Aida.


Ibnu memandang wanita yang sudah menjadi istrinya hampir delapan tahun itu. Ia tak meminta Aida untuk mencintai Daisy, tetapi bisa memberikan kasih sayang walau hanya sedikit pada putrinya.


“Daisy bukan gadis yang seperti itu!”


Aida tersenyum, mengulurkan tangan meminta digenggam.


Ibnu menyetujuinya, mengenggam jemari wanita yang dinikahinya itu erat-erat. “Mungkin hanya kekhawatiran kita saja!”


***


“Jangan masuk ke dalam!” teriak Daisy pada Raise yang mengiringinya.


Raise tampak terkejut. Tetapi, tak mengatakan apa-apa. Jadi ia berdiri di siluet kota pintu dan menghilang ketika daun pintu dibanting tertutup oleh Stefani.


Begitu masuk ke dalam, Stefani berteriak dan melemparkan apa saja yang ada di dalam kamar ke lantai. Ia benar-benar kesal sekali. Kenapa tidak ada keberuntungan yang datang padanya. Padahal ia sudah melakukan semua cara. Ia sudah melakukan semua hal yang diketahui akan dilakukan gadis yang kini tubuhnya dirasuki.


Stefani kaget dengan suara serak yang bertanya dengannya. Ia menoleh dan kakek tua yang memberinya botol kecil yang membuat tubuh aslinya dan Daisy bertukar tersebut muncul.


“Apa?” tanya Stefani kesal.


“Apa kamu sudah merasa menyesal sudah melakukan hal tidak wajar ini?” tanya si kakek.


Stefani menyeringai. “Mana mungkin saya menyesal. Memang apa yang harus saya sesali dengan yang saya dapatkan sekarang? Saya tidak menyesal!”


Kakek tua itu menghela napas dan tertawa terkekeh. “Rupanya masih belum sadar, ya? Kamu masih butuh ini?” Si Kakek memberikan botol kecil lainnya pada Stefani. Isi cairannya masih biru seperti yang kemarin.


“Untuk apa ini?” tanya Stefani tidak paham. Apa ia harus berganti tubuh dengan orang lain yang lebih hebat dibandingkan Daisy.


Hal itu jelas sekali tidak mungkin. Karena Stefani sama sekali tidak memiliki teman yang lebih baik nasibnya dari Daisy. Akan tetapi, ia tetap menerima botol yang disodorkan padanya. Jaga-jaga kalau ia menemukan hal yang baik.

__ADS_1


“Aku tidak perlu mengucapkan terima kasih ....”


Si kakek sudah tidak ada lagi di dalam kamar bersama Stefani. Pintu kamar masih tertutup, lalu jendela juga. Ia juga penasaran bagaimana cara lelaki tua itu masuk.


Tiba-tiba bulu kuduk Stefani berdiri. Kenapa ia tak memikirkan hal itu sebelumnya. Lelaki tua itu bukan manusia. Karena jika manusia tidak akan bisa muncul seperti ada dan tak ada.


“Raise!” teriak Stefani.


Ia berlari ke pintu dan membukanya segera. Raise tidak ada, sepertinya langsung pergi setelah Stefani mengusirnya tadi.


“RAISE!” teriak Stefani lebih keras.


Samar-samar suara langkah kaki bergegas mendekat dari kejauhan. Dari arah tangga Raise kemudian melangkah dengan tergesa-gesa. Pakaian Raise sudah berganti, tampaknya ia akan kembali ke kamarnya untuk istirahat.


“Ya, Nona?”


“Aku mendengar suara seseorang tadi! Tolong periksa jendela!”


Raise nampak terkejut dengan yang dikatakan Stefani. Ia kemudian bergegas meninggalkan Stefani sendirian, pergi ke arah lorong kembali.


Stefani menyusulnya dengan marah. Kenapa tidak melakukan apa yang diperintahkan? Begitu kira-kira pikir Stefani.


Akan tetapi, Raise sedang menghubungi para penjaga di depan meminta mereka memeriksa di bawah jendela dan ke kamar Daisy secepatnya. Pelayang kepercayaan Daisy memang sangat tanggap.


“Sebentar lagi penjaga akan datang Nona!”


Belum selesai Stefani berpikir, dua orang berpakaian satpam berlari ke arah mereka.


“Katanya ada suara orang di dalam kamar! Tolong periksa!” perintah Raise.


Sementara yang lainnya memeriksa ke dalam kamar, yang tersisa berjaga di dekat Stefani, merentangkan tangan seolah akan ada bahaya yang menerjang dari depan. Stefani merasa lucu sekaligus senang. Bahkan ayah kandungnya tidak melakukan hal ini dulu.


“Tidak ada siapapun di dalam kamar,” lapornya pada Stefani dan Raise. Kemudian penjaga itu berbicara dengan radio panggilnya. “Kata mereka juga tidak ada orang di bawah jendela Nona.”

__ADS_1


Stefani sudah tahu jawabannya jadi tidak mengatakan apa-apa tentang suara yang didengar.


“Kalau begitu aku akan kembali ke kamar! Mungkin hanya perasaanku saja,” kata Stefani pergi.


__ADS_2