Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Apa Menikah Juga Sebuah Hukuman? (2)


__ADS_3

Ibnu menendang kaki meja karena tergesa-gesa keluar. Ia berjalan terpincang-pincang saat mencapai pintu dan membukanya. Akan tetapi, Stefani, putrinya Handoko itu tidak ada di sana.


Bagaimana bocah 20 tahun bisa menanyakan hal seperti itu pada Ibnu. Beraninya gadis yang kehidupannya tidak sesulit dirinya bertanya apa itu sebuah hukuman. Ia ingin bertemu dengan gadis itu lagi, bertanya apakah Daisy pernah menyebutkan sesuatu. Akan tetapi, ia segera menepis semuanya. Bisa saja ia salah mendengar tadi.


“Ini hanya karena aku banyak pikiran,” gumam Ibnu sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.


“Loh, Mas sudah selesai? Aku baru mau panggil buat makan malam!”


Ibnu memejamkan matanya beberapa detik, untuk mengusir segala pikiran yang menganggunya tadi. Ia berbalik dan tersenyum lembut pada wanita yang dinikahi hampir 8 tahun.


“Ya, ternyata selesai lebih cepat. Kamu harusnya tidak usah menyusulku. Aku akan ke ruang makan saat sudah selesai, kan?”


Aida cemberut. “Makan sendirian itu sama sekali tidak menyenangkan, Mas.”


Harusnya mereka punya anak. Akan tetapi, ternyata Aida sudah beberapa kali keguguran dan akhirnya dinyatakan tak bisa memberikan keturunan lain untuk Ibnu. Ia harus bersabar pada Daisy yang terus-terus membuatnya sakit kepala.


“Apa kita sebaiknya memanggil Daisy?” tanya Aida.


“Bukan ide bagus, Aida. Dia tidak akan senang makan bersama kita.”


“Memangnya apa salah kita? Bukankah sudah waktunya dia menerima keluarga ini bagaimana pun bentuknya?” Aida berujar.


Tidak semudah itu. Sama dengan keputusan yang diambil 20 tahun lalu sehingga harus meninggalkan Aida. Walau ia sama sekali tidak menyesal mengamil keputusan itu dulu. Ia tak bisa membayangkan jika tak setuju saat diajukan penawaran oleh keluarga Aghra.


“Menurutmu apa yang dimasak oleh koki hari ini?” tanya Ibnu, dengan segera mengalihkan pembicaraan.


“Bagaimana kalau Mas yang tebak hari ini!” suruh Aida.


“Ah, kamu sudah mengintip ke ruang makan ya?” tebak Ibnu.

__ADS_1


Dari ekspresi Aida, ia yakin kalau tebakannya benar sekali. Jadi ia mengalungkan lengan ke pinggang wanita itu dan beriringan mereka ke ruang makan. Di sana dua pelayan menarikan kursi. Tak lama mereka sudah makan dengan lahap. Hidangannya sedikit berbeda dari kemarin, tetapi semuanya enak.


Ibnu dengan cepat melupakan pertanyaan yang diajukan Stefani tadi. Hal yang membuatnya terkejut.


***


Seluruh tubuh Daisy gemetar. Perutnya juga menjadi tidak nyaman. Ia merasa mual kini. Begitu banyak ingatan masa kecilnya yang tiba-tiba saja tumpang tindih datang ke dalam kepalanya.


Ia melangkah dengan gontai berjalan menelusuri taman. Begitu menyadari menanyakan hal yang seharusnya tidak ditanyakan, Daisy kabur dengan cepat tanpa aba-aba.


Ingatan paling segar yang bisa diingat oleh Daisy adalah saat ia mendengar ayahnya menelepon pada seseorang berujar penuh syukur karena pada akhirnya sang istri meninggal tanpa dirinya harus ikut campur.


Entah itu adalah sebuah candaan atau apa. Rasa sakitnya yang dirasakan oleh Daisy yang saat itu berusia 12 tahun tidak terkira rasanya. Bagaimana bisa pria yang dipanggilnya Ayah berkata seperti itu.


“Apanya yang akan memberikan keluarga padaku?” tanya Daisy sambil tertawa, menengadah ke atas langit, menatap kegelapan yang menguasai bagian atas sana.


Apanya yang bintang, di mana bulan berada. Kota besar tempatnya berada terlalu banyak polusi sehingga tak bisa melihat titik cahaya yang selalu dinyayaikannya saat masih kecil dahulu.


Jika bisa terlahir kembali, Daisy benar-benar ingin mendapatkan keluarga seperti Maulana dan Handoko. Mereka mungkin tidak memiliki uang yang bisa dibelanjakan sebanyak Daisy, tetapi mereka memiliki sesuatu yang lebih besar dibandingkan itu semua.


“Kamu masih saja mencoba merebut posisiku!” gumam Daisy sama sekali tidak mengerti pemikiran Stefani.


“Kenapa kamu hanya berdiri di sana saja? Ayo masuk!” seru Maulana yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu.


“Ya! Saya masuk, Kak!” kata Daisy melangkah.


Namun, tiba-tiba saja seluruh tubuhnya tidak bisa terkontrol dan tubuhnya ambruk menghantam lantai.


Maulana terpekik karena kaget, ie bergegas membantu Daisy untuk duduk kembali. Handoko juga datang karena teriakan Maulana.

__ADS_1


“Ada apa? Kenapa dengan Stefani?” tanya Handoko.


Tangannya yang keriput dan kasar meraba dahi putrinya dan terkejut sedikit.


“Dia panas sekali, Maulana! Angkat dia kembali ke kamarnya. Pantas saja sejak pulang tadi dia tidur terus!”


Maulana dengan sigap mengangkat Daisy ke dalam rumah. Pintu pavilliun ditutup oleh Handoko. Setelah Daisy dibaringkan kembali di ranjangnya. Handoko muncul dengan gelas dan beberapa butir obat. Salah satu obat dikenal Daisy sebagai paracetamol, yang lainnya tampak seperti vitamin dan obat flu yang menyebabkan kantuk.


“Minum ini dan kembalilah tidur. Aku akan tidur di luar pintu supaya bisa mendengar saat kamu bangun!” kata Handoko padanya.


Mata Daisy memperhatikan dengan saksama tubuh tua itu. Lantai di bawah dingin, bahkan kalau dialas kasur tipis yang digunakan untuk duduk. Tubuh Handoko tidak akan kuat. Malahan setelah dirinya, Handoko adalah orang yang akan sakit.


“Tidak! Ayah akan tidur di dalam kamar! Kakak juga!’ tegas Daisu tidak peduli dengan protes yang didapatkannya dari keduanya.


“Bagaimana kalau kamu ingin minum di tengah malam?” tanya Maulana.


“Saya bisa mengambilnya sendiri ke dapur. Saya hanya kepanasan Ayah, Kak, saya akan baik-baik saja setelah tidur. Saya juga tidak kuliah besok, jadi bisa istirahat di rumah seharian!”


“Benar, ya, kalau kamu tidak akan bantu berkemas besok?” tuntut Maulana.


Daisy berpikir sebentar, mengingat beberapa pakaian yang tidak bisa diserahkan pengepakannya kepada Maulana dan Handoko karena memalukan. “Saya akan mengurus pakaian sendiri, tidak yang lainnya!” putus Daisy.


Maulana dan Handoko saling pandang. Tahu kalau apapun yang mereka katakan akan segera disela Daisy tanpa pikir panjang.


“Istirahatlah!’ suruh Handoko.


Daisy menerima obat dan mengengaknya dengan cepat. Gelas diserahkannya kembali pada Handoko. Ia tidak berbaring sampai Maulana dan Handoko keluar dan menutup pintu. Begitu pintu tertutup, ia berjingkat ke pintu dan mengunci pintu.


Setelah ia merasa aman karena sendirian sekarang, ia bisa merasa sakit di kepala, leher belakangnya. Seluruh tubuhnya juga ngilu. Rasa mual yang dirasakan saat keluar dari rumah besar tadi kembali terasa. Ia tergoda untuk lari ke toilet dan muntah di sana. Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya. Ia tak bisa muntah di sini.

__ADS_1


Jadi dengan langkah yang terseok-seok, ia membawa dirinya kembali naik ke ranjang. Tidur terlentang dan berharap semua perasaan tak menyenangkan di seluruh tubuhnya hilang. Ia tertidur karena pengaruh obat. Ia masih mendenga suara Ibnu yang tertawa karena bahagia setelah istrinya meninggal.


__ADS_2