Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Kembali ke Tubuh yang Asli (2)


__ADS_3

Maulana mendengar kalimat yang melintas keluar dari mulut adiknya itu. Ia terkejut. Bergegas meletakan piring-piring yang akan diletakannya di meja makan untuk wadah sarapan. Langkah kakinya dengan cepat mengantar Maulana ke tempat ayah dan adiknya berada.


“Ada apa ini?” tanya Maulana pada kedua orang itu.


Ayahnya menatap dengan air mata yang tergenang, sementara Stefani, sang adik malah memalingkan wajah dengan cara yang tidak wajar. Tidak ada salah satu dari kedua orang tersembut yang tampaknya akan memberitahu padanya apa yang sebenarnya terjadi.


“Ayah,” panggil Maulana dengan tidak nyaman.


Matanya memaksa untuk mengatakan sesuatu, tetapi sekali lagi tidak ada salah satu dari kedua orang itu yang akan memberikan keinginan Maulana. Karena ia tak bisa memaksa ayahnya, Maulana menatap sang adik. Perasaan adiknya mungkin tidak nyaman karena mimpi buruk. Bisa jadi juga karena tamu bulanan gadis itu yang datang semalam. Tetapi, pasti akan membaik kembali saat waktu berlalu. Mereka baru berbaikan.


“Stefani, bisa kamu ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Maulana.


Stefani awalnya tidak menoleh kepada Maulana. Ia memanggil nama adiknya itu sekali lagi untuk menegaskan kalau ia membutuhkan jawaban dari Stefani. Adik Maulana itu menole dengan wajah masam yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata.


“Aku tidak punya kepentingan untuk menjelaskannya pada Kakak.”


Nada ketus yang begitu dikenalnya itu, yang sesekali meluncur dari mulut Stefani dulu, yang kadang-kadang membuatnya bertindak kasar karena marah. Ia akhirnya mendengarnya lagi. Padahal Maulana berharap kalau kehidupan beradik kakaknya tidak akan kembali ke tahap itu lagi.


“Barusan kamu bilang apa?” tanya Maulana.


Tangannya terkepal. Ia bertanya-tanya bagiana mana yang salah dari pertanyaannya. Ia yakin kalau sama sekali tidak bermaksud buruk pada Stefani. Ia hanya ingin bertanya kenapa ayah dan adiknya bertengkar, bukankah hal wajah jika melihat ketengangan dalam keluarga dan Maulana bertindak sebagai penengah.


Stefani tidak menjawab, hanya meliriknya dengan gusar sedikit dan kemudian berbalik. Gadis itu membanting pintu kamar keras-keras di depan Maulana dan sang ayah.

__ADS_1


“Apa yang terjadi padanya?” tanya Maulana tidak mengerti.


Handoko mengeleng perlahan. Tangannya mulai mengurut dada. Maulana kurang lebih mengerti apa yang dirasakan ayahnya. Bukan hanya karena khawatir saja, tetapi juga karena merasa sudah melakukan sebuah kesalahan makanya hal ini terjadi.


“Sudahlah! Mungkin ini hanya karena suasana hatinya kurang baik saja!” Handoko berbalik dan pergi ke dapur, mengambil piring-piiring yang ditinggalkan Maulana di tepi meja makan dan meletakannya di depan masing-masing kursi yang jumlahnya sama dengan mereka.


“Ayah ... aku tidak bodoh untuk paham apa yang coba dikatakan Stefani!” ujar Maulana.


Apa yang sedang dikerjakan Handoko berhenti. Ia duduk perlahan di kursi. Air matanya yang tadi tergenang mulai turun. Ia susah payah menghapusnya segera dengan punggung tangan. Ia berusaha tidak terisak, tetapi jelas tidak berhasil. Suara isakan itu membuat perasaan Maulana menjadi pilu.


“Aku akan memanggilnya! Dia harus tahu kalau ....”


“Tidak! Tidak! Biarkan saja Maulana. Ini salahku yang tidak bisa membesarkan kalian dengan baik. Biarkan saja!” suruh Handoko dengan suara parau. “Ayo, kita sarapan! Kamu akan ke kantor, kan?” Handoko memaksakan dirinya untuk tersenyum.


Hanya saja melihat semua itu membuat perasaan Maulana menjadi bertambah tidak nyaman. Bukankan mereka semua sudah akur kemarin. Bukankah yang ada di meja makan dan tertawa mendengar cerita Maulana kemarin adalah Stefani. Bagaimana mungkin semuanya jadi tiba-tiba berubah begini. Di mana salahnya berada sebenarnya?


Setelah memperhatikan langit-langit kamarnya selama beberapa menit dan bahkan tidak merubah posisi tidurnya sedikit pun, Daisy memutuskan kalau dirinya kemungkinan sedang berhalusinasi. Ia mungkin begitu rindu dengan langit-langit kamarnya sehingga memimpikan hal ini.


Ia duduk, menanggalkan selimutnya yang tiba-tiba terasa lembut di jemarinya dan kemudian melipat segera. Ia merapikan tempat tidurnya yang juga terasa lebih lebar. Kepalanya masih meneriakkan kalau Daisy masih bermimpi.


Ia mendengar suara pintu diketuk, menyangka kalau yang datang adalah Maulana atau Handoko yang membangunkannya untuk sarapan.


“Nona ... apa Anda sudah bangun?”

__ADS_1


Aksi beres-beres Daisy mendadak berhenti. Ia mencoba untuk mendengarkan baik-baik, tetapi suara itu tidak lagi terdengar. Akan tetapi, saat Daisy kembali akan membereskan ranjangnya. Suara Raise yang sudah lama tidak menyapanya kembali terdengar.


“Raise ... itu kamu?”


Raise tertawa dan itu sangat nyata untuk Daisy. Ia kembali menengadah menatap bintang di langit-langit yang berpedar pelan, juga ranjangnya yang mendadak menjadi besar. Matanya mengitari ruangan dan mengenali sebagai kamarnya sendiri.


Daisy berlari ke arah cermin besar di dalam ruangan dan  memandangi pantulan dirinya sendiri. Ini memang dirinya, bukan wajah milik Stefani lagi. Ia terpekik kegirangan dan melompat-lompat senang.


“Nona! Nona! Apa yang terjadi!” teriak Raise panik setelah mendengarkan teriakan Daisy.


Daisy bergegas menuju pintu dan membuka daun pintu lebar-lebar. Begitu melihat wajah Raise, Daisy lekas memeluk tubub pelayannya yang paling dekat itu.


“Ini kamu, kan? Benar-benar Raise?” tanya Daisy tidak percaya.


“Ten-tu saja, Nona! Anda membuat saya takut! Apa yang terjadi! Astaga ... Nona!’ Raise menunjukkan berbagai ekspresi di wajahnya. Dari mulai senang, kemudian takut, berlanjut pada kebingungan.


Jelas itu terjadi, karena Daisy mendadak jadi aneh dari biasanya. Daisy mungkin bersikap sangat menyebalkan beberapa waktu lalu ini. Ia pasti sudah menyulitkan semua pelayannya. Ia sudah menyulitkan banyak orang yang kenal dengan dirinya. Walau ia juga belajar banyak hal dengan hal itu.


Daisy berhenti bersorak dan meloncat. Ia berdehem sedikit untuk mengendalikan dirinya sendiri. “Bisa kamu siapkan pakaianku sementara aku mandi, Raise?” tanya Daisy elegan dan anggun.


Raise tampak menemukan majikannya yang beberapa waktu lalu hilang. Matanya berbinar-binar senang. “Apa yang ingin Anda gunakan, Nona?” tanya Raise dengan penuh semangat.


Daisy berpikir sebentar. “Sesuatu yang nyaman seperti cardingan dan jins.”

__ADS_1


Kepala Raise meneleng, ia berpikir atau malah menatap Daisy dengan heran. “Baiklah, Nona, saya akan menyiapkannya!” jawab Riase walau keningnya masih berkerut karena berpikir.


Daisy berbalik dan berjalan ke kamar mandi. Ia rindu dengan sabun aroma terapi yang digunakan. Tetapi, menghentikan langkahnya segera. “Jam berapa Pak Handoko sampai?” tanyanya.


__ADS_2