
Maya bergerak gelisah di kursi di depan Daisy. Ia kadang mengangkat kepala, menoleh ke kiri dan ke kanan kemudian menunduk kembali. Ia mencoba mengeser kursi sampai merasa nyaman, tetapi sama sekali tidak menemukan kenyamanan yang diinginkan.
“Jadi, apa yang akan kamu pesan sekarang?” tanya Daisy.
Selama menjadi Stefani selama hampir sebulan, ia makan di kafe dekat kampus lebih sering dari sebelumnya. Ia tahu beberapa menu yang bisa dinikmati tanpa harus menyiksa diri seperti semur dan rawon.
“Aku tidak makan,” jawab Maya.
“Kalau minum?” tanya Daisy. Ia memperhatikan menu makanan dan sama sekali tidak berpikir kalau Maya sedang ketakutan saat bersamanya. Ia baru tahu saat Maya menolak lagi tawarannya.
“Tidak usah!”
Daisy lekas meletakan menu yang sedang diperhatikan dan kemudian memandang Maya dengan saksama. Dibandingkan dengan Lola yang memang jelas-jelas memanfaatkan keberadaan Daisy untuk menarik orang-orang di sekitarnya. Tujuan Maya sendiri mendekati Daisy masih terbilang ambigu. Kadang-kadang Maya membelanya, kadang juga membiarkan saja sikap orang-orang di dekat mereka.
“Kamu takut padaku?”
Pertanyaan yang diajukan Daisy membuat Maya tersentak kaget. Dugaan Daisy tepat di sasaran dan membuat Maya tidak bisa menyembunyikan apapun seketika. “Tidak! Bukan begitu! Aku hanya--.”
Daisy menghela napas pelan dan menatap Maya yang masih ada di sana. Gadis di depannya itu bisa melarikan diri kalau mau, tetapi tidak melakukan hal itu. “Jadi--kalau bukan takut, ada apa? Maya, aku tahu kalau sebelumnya melakukan kesalahan padamu!” Dalam hati Daisy menambahkan karena kesalahan Stefani semuanya jadi runyam. “Aku tidak sengaja! Saat itu ada begitu banyak masalah dan aku tidak tahu harus melakukan apa! Aku harap kamu tidak salah paham!” kata Daisy.
Pandangan Maya yang awalnya ketakutan mulai tenang. Ia bisa menatap Daisy tanpa mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Maafkan aku! Aku hanya berpikir mungkin sudah melakukan kesalahan sehingga kamu berperilaku seperti itu!”
“Tidak! Kalau pun aku marah, itu bukan padamu! Aku benar-benar minta maaf!” kata Daisy. “Jadi bisakah kita kembali berteman?” tanya Daisy.
Maya memandang uluran tangan Daisy dengan heran sebentar dan kemudian meletakan telapak tangannya di atas tangan Daisy. “Apa benar-benar jadi teman?” tanya Maya.
Daisy merasa heran dengan perasaan senang yang diperlihatkan oleh Maya. Padahal ia yakin kalau Maya memiliki banyak teman selain dirinya. Ia yakin kalau Maya bukan orang tertutup seperti dirinya.
__ADS_1
“Ya, tentu saja! Kamu adalah teman wanita pertamaku!” kata Daisy.
Yah, jika ia memasukan Stefani ke dalam daftar, Maya akan jadi yang kedua. Akan tetapi, membayangkan kalau Stefani menjadi temannya juga membuat Daisy merinding. Ia bisa saja bertengkar setiap hari dengan gadis itu.
Wajah Maya menampakan kesenangan yang sama. Ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Daisy.
“Sebagai teman, aku ingin kamu memesan makanan, oke? Aku tidak suka makan sendirian!” tegas Daisy.
Daisy bisa melihat keraguan di mata Maya. Tetapi, pelan-pelan ia mengambil menu yang lain dan membacanya. Daisy mengangkat tangan untuk memanggil pelayan kafe yang berlalu lalang mencatat pesanan atau mengantarkan.
“Saya mau soto dan teh manis!” Daisy meletakan kertas menu dan menoleh pada Maya. “Kamu mau makan apa?”
“Sama saja!” jawab Maya yakin.
***
“Yah, kita memang tidak seakrab itu, tapi bolehkan kalau seperti ini?” tanya Andien sama sekali tidak merasa aneh dengan sikap Stefani.
Stefani mendengus mendengarnya. Mungkin Daisy tidak tahu kalau ia berbakat sekali mengumpulkan orang-orang menyebalkan disekelilingnya. Lihat saja Andien yang bahkan tidak pernah menyapa Stefani sebelum bertukar jiwa, kini bersikap seolah “sahabat sebenarnya” dengan mudah.
“Apa kamu tahu kalau perasaan Azzam tidak akan tiba-tiba menyukaimu walau kamu berusaha sangat akrab denganku?” Stefani sama sekali tidak suka berpura-pura.
Tubuh Andien lekas menegang dengan cepat. Saat Stefani menoleh pada gadis itu dilihatnya Andien terlihat pucat. Tampaknya ia sudah menebak dengan sangat tepat tujuan Andien mendekati dirinya. “Aku hanya berkata yang sebenarnya, oke? Jangan bersikap seolah aku mengatakan kalau akan melukaimu!”
“Kamu tahu?” tanya Andien masih pucat.
“Tahu apa? Soal kamu suka Azzam atau yang lainnya?” tanya Stefani sambil tersenyum sedikit. Ia suka melihat wajah pucat Andien yang kesulitan melarikan diri dari pertanyaannya. “Aku tahu! Hanya Azzam yang tidak tahu kalau kamu menyukainya!”
__ADS_1
Stefani meninggalkan Adien. Ia pergi ke kelas. Beberapa orang hanya melirik dirinya yang masuk ke dalam kelas. Sementara kebanyakan dari mereka hampir tidak peduli dengan kedatangan Stefani seperti biasa.
Andien tiba lebih cepat dari yang diduga Stefani. Gadis itu langsung duduk di bangku kosong sebelah Stefani dan memutar badannya untuk bisa menatap wajah Stefani langsung.
“Kemampuanmu memulihkan diri cepat sekali ya? Aku sempat berpikir kalau kamu akan pulang ke rumah hari ini dan baru menemuiku besok!” sindir Stefani.
“Kalau begitu aku tidak perlu bersikap baik padamu seperti biasa, kan? Toh, kamu sudah tahu apa tujuanku sebenarnya mendekatimu. Makanya semua akan jadi lebih mudah!” seru Adien.
“Aku akan katakan padamu kalau sia-sia saja kamu mendekatiku! Aku sama sekali tidak tertarik untuk membantu hubunganmu dengan Azzam. Aku tidak punya kuasa pada perasaan seseorang!”
“Aku tidak butuh!” Andien menyambar dengan cepat. “Aku hanya ingin kamu menjami ketersediaan waktu Azzam untuk dekat denganku!”
Stefani mendengar itu jadi tertawa. Ia kesal sekaligus tidak menyangka kalau Andien akan lekas memberitahu apa yang dibutuhkan oleh gadis itu tanpa basa-basi.
“Rupanya kamu tidak paham dengan maksudku, ya? Bukankah aku sudah bilang tidak bisa membantumu!”
“Kamu akan membantuku!”
Dari mana keyakinan Andien berasal. “Kenapa?”
“Aku tahu banyak hal tentang pembullymu waktu itu! Bukannya kamu bilang kalau akan menyelesaikannya sendiri!”
Bahkan saat berada di tubuH Stefani, Daisy sudah melakukan hal yang merepotkan. Stefani menyugar rambutnya dengan jari-jari sebelum menyesal sudah ikut dengan rencana Brian. Pria kekanak-kanakan itu meninggalkan masalah padanya.
“Tidak perlu! Aku tahu mereka semua, tujuan, bahkan siapa yang menyuruh mereka melakukan itu!” tegas Stefani.
Stefani bisa melihat kalau Adien nampak terkejut dengan prkataannya.
__ADS_1