Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Siapa yang Merundung? (2)


__ADS_3

Ada banyak hal yang tidak diketahui Handoko sebagai seorang Ayah. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika datang bulan pertama Stefani. Ia tidak tahu apa yang disukai gadis-gadis saat berkumpul. Ia juga tidak tahu mana mainan yang diinginkan oleh anaknya. Lalu hari ini ia tidak tahu kalau putrinya mengalami hal buruk sebagai seorang Ayah.


“Ah, dia mau menyelesaikan sendiri, ya?” tanya Handoko pelan sekali.


“Ya, walau aku memaksanya untuk ikut membantu mencari tahu, tetapi dia tampak tidak mau. Dia mengaku tidak tahu siapa orang yang sudah menyebabkan ini semua. Apa tidak ada kemungkinan kalau Nona Daisy yang sudah melakukan semuanya?” tanya Maulana ingin tahu.


“Tidak! Jika Nona Daisy berhubungan dengan orang seperti itu pasti Ayah tahu. Ayah hampir bersamanya sepanjang waktu.” Handoko walau pun berkata seperti itu tetap curiga kepada Nona majikannya itu. Bagaimana pun gadis yang usianya sama dengan Stefani putrinya memang agak aneh belakangan. “Ayah akan bicara dengan adikmu nanti!”


Maulana terdengar bernapas berat, sehingga mau tidak mau Handoko mengangkat kepalanya untuk memastikan kalau putranya itu baik-baik saja.


“Jika Ayah bertanya padanya dia akan mengira kalau aku mengadu. Bisa saja selanjutnya ia tak akan mau mengatakan apapun walau sudah dihajar dengan lebih parah!” ungkap Maulana.


Di dalam hati Handoko sama sekali tidak bisa menyangkal. Ia membuang napas seperti yang dilakukan Maulana tadi. Ia tak menyangka sikap acuh tak acuhnya kepada sang putri akan berefek seperti ini. Ia melakukan semua itu hanya supaya Stefani tidak merasa kalau ia menekan gadis itu. Apalagi sejak gadis itu menjadi pemurung saat SMP.


“Aku bersalah padanya!”


Andai saja Handoko sedikit saja lebih dekat dengan Stefani. Andai saja saat gadis itu menjadi pemurung dan menolak segala bentuk perhatian, ia masih saja berusaha untuk mendapatkan perhatian putrinya, mungkin Stefani akan mengandalkannya saat ini.


“Sebenarnya kita berdua bersalah!” Walau Maulana tertawa, tetapi ia tampak menunjukkan kesedihan atas apa yang terjadi di keluarga mereka.


***


“Kalung!”


Daisy langsung duduk dengan tiba-tiba seperti orang yang mengigau. Ia menoleh ke arah kiri dan kanan, tidak menemukan apapun selain dirinya dan kamar kosong.

__ADS_1


Dari luar terdengar keributan, pintunya terbanting keras terbuka dan Handoko serta putra Maulana masuk dengan memasang kuda-kuda akan menyerang. Mereka dengan siaga memerika sapa yang sudah terjadi sehingga Daisy berteriak.


“Ada apa? Ada apa?” tanya Maulana beruntun sambil berputar kiri dan kanan.


“Tidak ada! Aku hanya bermimpi!” Daisy mengerucutkan bibirnya malu. “Kenapa kalian menendang pintu seperti itu, bagaimana kalau engselnya lepas? Kita jadi harus mengantinya!”


“Engsel yang lepas bisa diganti!” Handoko berkata dengan lemah. Ia bersandar pada dinding dekat pintu, tampak sedikit pucat dan khawatir.


“Itu benar. Kalau terjadi sesuatu padamu, bahkan pintu tidak bisa membuatnya menjadi sedikit lebih mudah!” Maulana menambahkan. Namun, ia tak tampak pucat, tetapi tetap khawatir. “Aku membawakan makanan pesananmu. Mandilah dan keluar. Ah, mandilah dengan air hangat, perasaanmu akan membaik kalau kamu melakukan itu!”


Daisy mengangguk. Ia menunggu sampai Handoko yang keluar paling akhir menutup pintu. Barulah kemudian bernapas dengan lega sendirian. Ia berteriak karena dalam keadaan sedikit sadar menemukan hal lain yang terjadi padanya saat itu. Kalung. Hari itu Azzam memberinya sebuah kalung berbentuk daun semanggi.


“Di mana ya Stefani yang asli meletakan benda itu?” tanya Daisy agak bingung.


Ia yakin kalau memakai kalung itu sebelum tidur hari itu. Tetapi, saat ia kembali ke tubuh Stefani untuk kedua kalinya, kalung itu sudah tidak ada di lehernya kembali. Pasti kalung itu telah disimpan Stefani di suatu tempat.


Saat Daisy beringsut untuk sampai di tepi ranjang, ia merasakan kalau kondisi pinggangnya sudah lebih baik dari sebelumnya. Tampaknya selain karena benturan, rasa sakit juga karena kelelahan mental. Ia berdiri dengan hati-hati untuk merasakan apakah berdiri tegak mematahkan anggapannya soal pinggang. Akan tetapi, sama sekali tidak begitu.


Daisy menyambar handuknya yang tergantung di depan kamar mandi dan masuk. Ia menyalakan pemanas pada shower terlebih dahulu sebelum kemudian berdiri di bawah shower merasakan air hangat menyentuh kulitnya. Seperti kata Maulana air hangat membuatnya merasa lebih baik dan kini ia berdiri dengan perasaan yang paling baik sejak pagi tadi.


Daisy bahkan bersenandung kecil saat akan keluar dari kamar.


Di meja makan makanan pesanannya sudah ditata di piring. Selain itu sebagai tambahan ada telur mata sapi yang masih panas berada di atas piring di tengah maja makan.


“Duduklah! Makanan tidak terlalu enak kalau dingin sekali.” Handoko melambai-lambaikan tangannya seperti orang memanggil menyuruh Daisy duduk.

__ADS_1


Maulana sendiri sudah menghabiskan bagiannya dan tampak bermaksud memindahkan telur untuk dimakan dengan nasi. Walau tampak sangat kekurangan, tetapi kedua orang itu menikmati acara makan yang sederhana itu.


Daisy yakin kalau makan pagi, siang, dan malamnya memiliki begitu banyak menu. Tetapi, sayang sekali tidak ada seorang pun yang bisa makan seperti ini dengannya. Alih-alih bergabung dengan papa dan mama tirinya di bawah, Daisy lebih memilih makan sendirian di kamarnya.


“Mau telur?” tawar Maulana karena Daisy terus saja memandanginya.


Daisy mengeleng pelan lalu menyendok makanan pesanannya. Walau sudah diminta tidak pedas, makanan itu masih memiliki rasa panas. Memang tidak mungkin kalau jenis kwetiau goreng yang dimakan akan biasa-biasa saja.


“Kenapa wajahmu jadi memerah begitu? Apa benar-benar pedas?” tanya Maulana dengan cemas.


“Tidak! Tapi tetap saja pedas. Tidak mungkin tidak diberi cabai, kan?”


Maulana menoleh pada ayahnya yang baru mulai makan seperti Daisy. “Aku mengatakan pada mereka kalau tanpa cabai, kan, Ayah?”


“Ya, kamu mengulanginya empat kali karena takut pedagang itu lupa dengan pesanan. Tepi, sepertinya dia tetap lupa.” Handoko menjawab setelah menelan makanannya. “Mau Ayah buatkan mie goreng? Tadi Ayah juga beli mie di mini market.”


“Tidak! Saya bisa menghabiskannya!” kata Daisy bertekad.


Selama ini ia menghindari makan pedas karena diet. Sehingga jadi kebiasaannya untuk tidak makan cabai. Akan tetapi, Stefani memiliki tubuh yang cenderung lebih kurus dibandingkan Daisy dan tampaknya tidak mudah gemuk juga.


“Kalau begitu aku akan menyediakan susu untukmu! Katanya susu bisa menghilangkan pedas dengan cepat.”


Daisy juga pernah mendengar hal itu, tetapi tidak percaya sama sekali. Sebab dengan tubuhnya yang asli, ia sudah mencoba hal itu dan sama sekali tidak membantu.


Daisy menyendok lagi makanan yang ada di dalam piring, kali ini dengan porsi yang lebih kecil lagi. Ia berhasil menelan suapan keduanya dengan mata pedih dan mulut yang panas. Susu disodorkan padanya segera saat ia mencoba menyambar air putih.

__ADS_1


“Kalau selesai makan, mau bicara dengan Ayah?” Handoko menginterupsi saat Daisy menghabiskan susunya.


__ADS_2