
Stefani bilang dia tak akan datang sore ini. Azzam sedikit kecewa memang, tetapi tidak membuatnya malas untuk menemui ayah dan kakak gadis itu. Ia sudah mandi dan sedikit berdandan. Sampai ibunya heran dengan tingkahnya yang tidak biasa.
“Kamu mau ngapelin pacar?” tanya wanita yang sudah melahirkan Azzam saat ia berteriak menanyakan sisir yang menghilang dari dalam kamarnya.
“Bukan!” Azzam tak berani mengatakan kalau orang tua dari calon pacarnya yang akan datang sebagai penyewa rumah.
Tadi saat mengambil kunci, ia bilang kalau orang itu adalah kawan dekatnya. Tetapi, Azzam yakin tidak berbohong. Stefani adalah orang yang paling dekat dengan hatinya saat ini.
“Gayamu itu loh, sampai segitunya? Ibu jadi ingin tahu siapa yang datang!” runggut wanita yang sudah mulai menua itu.
“Ada cewek, Bu! Tadi Dika liat!” seru adiknya Azzam berteriak dari belakang.
Kalau saja bocah itu berada di dekatnya, ia pasti menghadiahkan sebuah jitakan kecil di kepala Dika. Hanya saja, ia terlalu antusias bertemu dengan kakak Stefani saat ini. Ia tak berniat merusak penampilannya hanya untuk mengejar Dika yang bisa ditemui tiap hari.
“Azzam keluar, Bu!” seru Azzam sebelum direcoki begitu banyak pertanyaan tentang yang dikatakan adiknya barusan.
Azzam masih sempat mendengar pertanyaan yang diserukan ibunya di belakang, tetapi mengabaikan semua hal tersebut. Ternyata di depan rumah yang sudah ditunjukkan tadi siang sudah ada dua orang pria. Yang satu dikenali Azzam sebagai ayah Stefani, yang lain cukup muda dan mirip dengan gadis yang disukainya itu.
“Apa Bapak menunggu lama?” tanya Azzam dengan napas agak sesak karena berlari ke arah depan rumah kontrakannya.
“Tidak! Kamu baru saja sampai!” Ayah Stefani tersenyum lalu menoleh kepada pria yang jauh lebih muda darinya itu. “Dia anak saya, kakanya Stefani. Maulana!”
Maulana yang baru dikenalkan ayah Stefani mengulurkan tangan. Azzam bergegas menyambut tangan pria itu, menyebutkan namanya. “Azzam, Kak!”
Alis mata Maulana terangkat, seperti mendapatkan sebuah ilham yang sejak dahulu ditunggunya. Ia menolah segera kepada ayahnya yang tersenyum senyum senang.
“Mari masuk!” ajak Azzam, membukakan pintu gerbang lagi dan setengah berlari ke pintu masuk rumah dan membukanya dengan tergesa-gesa.
Di belakang kedua pria yang datang berbisik-bisik, mungkin menilai, atau melakukan hal lainnya. Azzam tak peduli, yang jelas ia harus memperlihatkan rumah yang paling bagus pada kedua pria itu.
__ADS_1
Kali ini Azzam tak masuk ke dalam, tetapi mengutak-ngatuk ponselnya berusaha menghubungi Stefani yang tidak datang. Padahal ia berharap kalau gadis itu ikut juga kali ini.
Azzam: Kamu baik-baik saja, kan?
Azzam mengirim pesan yang berbunyi seperti itu. Tetapi, Stefani tampaknya sedang tidak memegang ponselnya. Karena hampir sepuluh menit menunggu, balasan pesannya sama sekali belum di balas. Jadi, Azzam berjongkok di depan teras, memandangi sudut yang dinikmati Stefani tadi. Ingin tahu apa yang sebenarnya dipandangi oleh gadis yang disukainya itu. Tetapi, lama ia berjongkok, ia tetap tak menemukan apa yang dipandangi Stefani.
Ting! Ponselnya Azzam berbunyi.
Azzam dengan malas mengambil ponselnya dan memandangi layar. Matanya terbelalak dan senyum langsung muncul di mulutnya.
Stefani: Aku baik-baik saja, hanya sedang malas keluar. Apa ayah dan kakakku sudah sampai?
Azzam: Sudah. Mereka sedang ke dalam rumah untuk melihat lagi. Seharusnya kamu juga datang. Akan kutunjukan ruangan yang paling bagus di rumah ini.
Stefani: Katakan pada ayahku. Dia akan mengatakannya padaku seadainya setuju menyewa rumahmu.
Artinya Stefani menyerahkan segalanya kepada ayahnya. Jadi Azzam berdoa dalam hati semoga kedua pria yang di dalam menyukai rumah ini. Ia bisa melihat Stefani setiap hari karena itu.
“Dia pria yang bernama Azzam?” tanya Maulana saat masuk ke ruangan pertama.
“Kenapa? Dia baik, kan? Juga tampan!” Handoko menunjukkan beberapa barang yang ada di dalam kamar supaya di periksa dengan lebih teliti oleh putranya itu.
Dahi Maulana berkerut, tidak suka dengan perkataan ayahnya. Ia memaksa otaknya membayangkan wajah Azzam.
“Sama sekali tidak tampan! Dia hanya terlihat seperti manusia!” ujar Maulana dongkol. Ia menyibak beberapa benda yang tertutup dan mengakui kalau kondisi barang di dalam ruangan itu baik.
Ia kembali lagi ke pintu, menyadari kalau ayahnya tampak senang dengan ekspresi wajahnya. Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi menyuarakan protes tak bersemangat miliknya.
“Dia memperlakukan Stefani dengan baik. Bahakn bersikap sopan pada kita, kan?”
__ADS_1
“Pria seperti itu hanya berkelakukan baik kalau ada maunya. Dia harus melewati kualifikasi dariku sebelum mendekati adik perempuanku!” tegas Maulana.
Ayahnya tertawa terbahak-bahak. “Pasti kualifikasi yang kamu terapkan di luar akal sehat. Apa kamu memintanya memunculkan emas dari dalam tanah?’ tanya Handoko.
Sebenarnya kualifikasi dalam benak Maulana lebih baik lagi. Ia ingin seseorang yang mendekati adiknya dari keluarga yang baik, menyukai Stefani, menerima sikap kekanak-kanakan yang kadang muncul dari gadis itu. Lalu memiliki pekerjaan yang baik sebelum benar-benar resmi diakuinya.
“Aku tidak akan membiarkan seorang pria yang suka tebar pesona!” guman Maulana dengan terang-terangan.
Handoko terkekeh lebih keras dari sebelumnya. “Biarkan adikmu menilai orang lain, Maulana. Denga begitu ia akan tahu mana orang jahat dan orang baik dengan benar. Kesalahan kita adalah membiarkan sikapnya sampai sekarang. Jadi, kali ini kita harus membimbingnya dengan baik.”
Maulan tersentak. Tahu kalau melindungi dari belakang memang tidak benar.
“Aku tahu Ayah! Tapi, tetap saja aku tidak terima kalau Stefani didekati oleh bocah ingusan yang hanya mengandalkan cinta saja.”
“Hanya karena kamu belum jatuh cinta, kamu mengatakan kalau perasaan orang lain tidak murni. Tidak boleh begitu!” Untungnya Maulana tidak mau bersiteru sekarang. “Bagaimana menurutmu rumah ini. Aku belum tanya berapa uang sewanya, tetapi dia tampaknya sangat ingin Stefani ninggal di sini!”
“Jika menurutkan kata hati, aku mau berbohong, Ayah! Tetapi, rumah ini memang bagus! Aku ragu kalau kita bisa menemukan rumah bagus seperti ini lagi!”
Handoko tersenyum. Ia menepuk-nepuk bahu Maulana karena bangga. Lalu berjalan keluar lebih dulu. Maulana menyusulnya segera dan saat menutup pintu, ia melihat kalau ayahnya sedang bercakap-cakap dengan Azzam.
“Ibu saya ada di rumah sekarang kalau Bapak mau menemui,” kata Azzam.
Begitu melihat Maulana, pria muda itu mengangguk. Mau tak mau Maulana mengakui keramahan Azzam.
“Apa tidak masalah kalau langsung ditemui sekarang?’ tanya Handoko pada Azzam.
“Ya, tidak apa-apa dong, Kak, ibu saya tentu senang akhirnya ada yang mau menyewa!”
Ayah Maulana, Handoko menoleh ke arah dirinya dulu. Ia mengangguk, memberi persetujuan.
__ADS_1
“Kalau begitu, ayo!” ajak Azzam.
Ia pergi ke pintu rumah dahulu, mengunci pintu lagi lalu kemudian mendahuli kedua tamu yang datang untuk menemui ibunya.