Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Restoran Tanpa Rasa Pedas


__ADS_3

“Ingat untuk tugas Minggu depan, kumpulkan pada asisten dosen. Minggu depan tidak ada kelas dari saya karena saya sedang keluar kota!”


Penjelasan dosen mengakhiri pertemuan mata kuliah siang itu. Semua pelajaran berputar di dalam kepala Daisy, menyesakan membuatnya agak binggung dan saki tentu saja. Ia tidak berada di jurusan Bahasa untuk kuliah yang diambil sebenarnya.


Astaga, parah sekali! Penelitian! Daisy memijat-mijat dahinya, kemudian membereskan buku catatan yang ada di mejanya.


“Kak Azzam cari siapa?”


Nama yang diserukan oleh mahasiswa yang keluar lebih dulu itu menyita perhatian Daisy. Ia menarik releting tas selempangnya dan bergegas menuju pintu. Baru sampai depan kelas saja, Azzam yang berjanji akan makan siang bersamanya melambai.


Padahal Daisy beranggapan kalau Azzam sama sekali tidak serius waktu itu. Keberadaan Azzam di depan kelasnya kini, memperlihatkan keseriusannya.


Mahasiswa lain yang menyapa melambai pamitan pada Azzam, membiarkan Daisy mendekat dan tampak canggung.


“Mau makan di mana?” tanya Azzam.


Daisy tidak punya ide. Jangankan ide, kejutan mendadak ini membuatnya sama sekali tidak lapar.


“Terserah saja, saya bisa makan apa saja kok.” Daisy menyadari kesalahannya. “Kecuali yang terlalu pedas!”


Daisy tidak bisa makan-makanan peda di tubuh aslinya dan tetap akan begitu saat berada di tubuh Stefani. Perutnya pasti tak akan merasa nyaman setelah makan-makanan yang mengandung terlalu banyak bubuk cabai.


“Oke! Bagaimana kalau tempat yang aku pilih. Tidak ada makanan pedas di sana!”


Diasy menelengkan kepala, sedikit tidak percaya. Akan tetapi, tidak memiliki pilihan lain selain ikut.


Ia membiarkan Azzam memimpin jalan ke depan. Namun, Azzam menantinya di anak tangga sehingga bisa berjalan bersisian.


“Wajahmu tidak baik? Apa pelajarannya sesusah itu?”


Daisy segera menyentuh wajahnya. Ia jadi ditertawakan oleh Azzam karena itu. Sepanjang jalan Daisy hanya menunduk saja.


Pelajarannya tak sesusah itu. Hanya saja karena ini adalah hari pertamanya mengikuti mata kuliah yang berbeda, tak satu pun perkataan dosen yang bisa dipahaminya.

__ADS_1


“Ada beberapa yang tidak kumengerti, tapi pasti bisa kuatasi!” kata Daisy menjawab dengan pasti.


Kebingungan yang melandanya hanya bersifat sementara saja. Pada akhirnya, Daisy akan bisa melewati semua. Bukankah ia berhasil keluar dari kebingungan karena tiba-tiba ada di tubuh Stefani, walau bagaimana semuanya terjadi masih belum bisa dipahaminya. Ia ingin bertemu dengan Stefani yang ada di tubuhnya sekarang dan kemudian bertanya, sebenarnya apa yang terjadi pada mereka.


Masih perlu beberapa usaha untuk bisa menemui Stefani tentu saja, karena gadis itu jelas tak mau bertemu dengan Daisy.


“Kalau kamu butuh bantuan, katakan padaku!” kata Azzam meyakinkan.


Daisy menoleh sebentar pada Azzam, merasa heran dengan kebaikan pria itu. Pastinya Stefani tidak berlaku cukup baik pada Azzam.


“Stefani pasti bodoh sekali kalau tidak menyadarinya,” gumam Daisy pelan.


“Apa?” Azzam rupanya mendengar sekilas, untuknya tidak jelas.


Daisy hanya mengeleng, kaget dengan gumamanya yang keluar begitu saja dari mulutnya. “Tidak ada! Aku akan melakukannya jika kesulitan. Jadi di mana tempat yang tidak ada makanan pedasnya itu?” tany Daisy berharap berhasil mengalihkan perhatian Azzam.


Azzam menatap Daisy lama, mencoba mencari tahu kenapa Daisy tidak mau memeberitahunya. Tetapi, kemudian memutuskan kalau tidak ada gunanya untuk memaksa Daisy memberitahu apa yang terjadi. “Ikut saja!” Lalu Azzam kembali diam dan memperhatikan Daisy cukup lama.


Daisy mengangguk. Pengalaman pertamanya tiga hari yang lalu kalau tidak salah. Ia antusias berkendara menggunakan motor. Ada banyak hal yang bisa dilihat saat berkendara dengan kendaraan roda dua tersebut.


Mereka berdua sampai di parkiran, menyusuri deretan kendaraan hingga sampai pada motor bebek yang digunakan Azzam untuk pergi kuliah. Azzam menyerahkan sebuah helm pada Daisy, meminta gadis yang tampak tidak mengerti itu memasangnya di kepala. Butuh beberapa kali percobaan buat Daisy untuk memakai helm, tetapi ia merasa sangat aman saat menggunakannya.


“Kita akan keluar dari kawasan universitas, tidak apa kan?” tanya Azzam setelah Daisy naik ke atas motornya.


“Apa tidak terlambat kalau bertanya sekarang?”


Azzam terkekeh kecil di depan Daisy. Bahu pria itu berguncang. “Beberapa orang selalu memiliki ide lain saat sudah di dekat dengan tujuan.”


“Kalau kita akan keluar dari kawasan universitas, kamu tidak bisa menyebutnya sebagai dekat. Itu masih disebut jauh!”


Azzam tertawa lagi. “Apa hanya perasaanku saja atau kamu semakin hari semakin lucu?”


Apa Stefani tidak bersikap ramah pada Azzam? Daisy curiga kalau gadis itu sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dibayangkannya selama ini. Stefani bukan gadis ramah yang murah senyum. Juga bukan gadis lemah yang terus-terusan diganggu. Gadis itu lebih bersikap manipulatif untuk beberapa hal.

__ADS_1


Azzam melajukan motornya keluar halaman parkir. Mereka berbelok ke jalan keluar seperti yang dikatan Azzam. Desau angin yang timbul di sekitar membuat Daisy memilih untuk tidak bicara, begitu juga Azzam. Rasanya percuma saja saling berteriak seperti orang tuli di tengah jalan. Lagi pula tempat tujuan mereka sama dan ada banyak waktu untuk bicara nantinya.


Tempat makan itu kecil, tetapi ramai dan isinya nyaris mahasiswa dari universitas mereka. Untungnya dengan segera Azzam menemukan bangku kosong di sudut. Begitu Daisy menghenyakan bokongnya di kursi, Azzam menyodorkan menu padanya.


“Coba periksa! Sesuai janji atau tidak?”


Daisy mengerjap selama beberapa saat dan tersenyum. “Terima kasih,” katanya pada Azzam.


Ia mencermati menu. Hanya ada dua jenis makanan yang level sedikit pedas karena menggunakan saus sambal yang lainnya lebih smooth dan tampak enak. Jangan lupakan banyak taburan keju di atasnya.


“Benar, kan?” Azzam terdengar bangga.


Daisy sama sekali tidak mau mengecilkan hati pemuda itu. Ia mengangguk. Lalu tiba-tiba perut Azzam mendengkur pelan.


“Maaf, sebaiknya kita mulai pesan sekarang!’ ajak pria itu pada Daisy.


Daisy berusaha menahan tawa, tetapi hal yang didengarnya terlalu memalukan untuk tidak ditertawakan. Apalagi Azzam tampaknya sama sekali tidak keberatan menjadi sumber kebahagiaan Daisy. Di dalam hati Daisy meralatnya. Azzam melakukan hal ini karena saat ini dirinya tengah ada di tubuh Stefani.


“Ide bagus!” Daisy menyerahkan menu pada Azzam. “Bisa bantu pesankan menu yang enak?”


Azzam berpikir sebentar mendengarnya. “Semuanya enak!”


“Aku tidak pernah makan di sini. Bagaimana kalau yang kupesan adalah menu biasa saja. Akan lebih menyenangkan mendapat rekomendasi dari orang yang biasa makan di sini!” Daisy bertindak benar. Sebab ia melihat Azzam tampak senang menerima menu dan mulai mencari hal yang akan disukai Daisy.


Tak lama pelayan datang dan mencatat pesanan keduanya, tentu saja atas rekomendasi Azzam.


“Aku melakukan hal yang benar dengan memintamu memesan, kan?”


Azzam tersipu mendengarnya.


“Apa yang kamu lakukan dengan benar?”


Daisy menoleh pada orang yang menyapanya dan tahu kalau ia akan mendapat masalah.

__ADS_1


__ADS_2