Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Temukan Apa yang Berbeda (1)


__ADS_3

Brian menjatuhkan diri dengan gaya yang terlalu berlebihan. Ia tidak peduli dengan ejekan di wajah para gadis itu. Yang jelas apa yang diinginkan dilaksanakan.


“Jadi, apa lagi yang bisa kami lakukan?”


Brian menelengkan kepala, tampak bosan. Atau begitulah caranya buat menarik perhatian para gadis yang sejak kemarin dipekerjakan dalam perundungan terencana Stefani. “Aku melihatnya da Azzam di tempat yang sama baru saja. Tampaknya mereka tambah dekat saja. Bagaimana kalian menjelaskan itu?”


“Mereka tidak tampak seperti itu di kampus. Aku yakin kalau Stefani sudah menghindari Azzam sejak hari kamu mengancamnya. Di mana kamu melihatnya?” Ketua dari kelompok perundungan ini bertanya. Tampaknya ia tak percaya sebelum melihat sendiri.


“Di jalan Delima, daerah perumahan X. Kalian tahu tempat itu, kan?”


Ketua dari kelompok perundungan itu, Isla menegakan punggungnya. Dua orang temannya, Fatia dan Gusri juga ikut tertarik. Mereka menelengkan kepala dan tersenyum-senyum senang. “Jadi nanti kisah yang baru saja kamu sampaikan akan jadi bahan untuk kami?” tanya Fatia mewakili kali ini.


“Ya! Tampaknya memang seperti itu. Kalian bisa kan, menyampaikannya seolah -olah melihat kalau mereka bertemu?” tanya Brian. Alisnya terangkat, ini hanya salah satu ujian saja untuk ketiga orang itu.


“Tentu saja! Memangnya kamu pikir kami ini siapa? Kami akan menyelesaikannya dengan sangat baik!” kata Fatia sambil membusungkan dada.


Brian mencebik melihatnya, tetapi sama sekali tidak berkomentar tentang hal itu. Ia mengambil buku menu, memperhatikan apa yang kemungkinan bisa disukainya. Akan tetapi, sayang sekali, tidak ada salah satu dari daftar menu yang mampu membuatnya tertarik. Karena itu Brian hanya mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan.


“Aku pergi dulu, bayar pesanan kalian dengan ini!”


Ketiga gadis itu, yang kemampuan otaknya sama sekali tidak baik, tetapi memiliki keluarga yang memaksanya untuk mendapatkan gelar yang baik. Brian keluar dari kafe, melaju kembali ke jalanan. Kali ini tidak untuk mengikuti siapapun. Benar-benar hanya ingin pulang.


***


Mahardika tidak pergi ke kantornya kembali. Rasanya ia tak akan bisa memperhatikan berkas setelah mengalami hal tidak menyenangkan di rumah Daisy. Apa-apaan hal yang didengarnya itu. Buruk sekali.


Ketika ia sampai, papi dan maminya tengah pergi keluar. Mahardika diberitahu kalau ia akan makan malam sendirian saja. Yah, ia sama sekali tidak peduli. Ia sudah menjalani itu sering sekali sejak masik kecil.

__ADS_1


Ia naik ke lantai atas tempat kamarnya berada dan menjatuhkan diri dengan cara paling riuh. Ia tak berniat turun untuk makan malam kalau perlu hanya tidur saja dan kemudian pagi lagi nanti.


“Ah, sebenarnya apa yang sedang kulakukan?” tanya Mahardika pelan.


Dibalikan tubuhnya untuk menganti posisi tidurnya, begitu terlentang ia membaca kembali pesan dari si gadis gipsi yang mengatakan kalau tuannya tidak bisa dikunjungi hari ini.


Padahal Mahardika sudah begitu sangat optimis akan mendapatkan sedikit petunjuk untuk mengembalikan Daisy ke tubuhnya sendiri. Ia sudah tak bisa lagi bersikap baik pada tubuh Daisy yang kini diisi jiwa lain. Ia tak mau membenci wajah yang akan dengannya seumur hidup.


“Aku akan melakukan segala cara supaya kamu kembali lagi ke tubuhmu yang semula Daisy!” kata Mahardika pelan.


Ia menguap dan kemudian tertidur dengan cepat.


***


Langit-langit yang berbeda terlihat begitu terang di mata Daisy. Tubuhnya terasa semakin nyaman saja setelah minum obat dan kemudian tidur yang cukup. Seperti kata Handoko dan juga Maulana, kemungkinan Daisy kelelahan. Padahal yang dilakukannya hanya berpikir.


Seorang kakek tua sedikit bungkuk dengan tongkat kayu yang tampak layaknya akar duduk di kursi dekat jendela. Daisy pikir ia melihatnya karena masih saja mengantuk. Akan tetapi, kakek itu tetap saja tidak hilang walau ia mengucek matanya.


Kaget karena keberadaan seseorang yang tiba-tiba di dalam kamar, Daisy meloncat duduk, membuat kuda-kuda waspada.


“Apa aku mengejutkanmu, Nak?” Suara yang menyapa pendengaran Daisy itu agak serak.


“Si-apa?” tanya Daisy kebingungan.


Perasaannya tak bisa dideskripsikan dengan jelas kini. Walau takut pada, Daisy nyaris yakin kalau si kakek tidak akan melakukan hal yang berbahaya untuknya. Bukankah itu jenis perasaan asing terhadap orang yang tiba-tiba muncul? Daisy mungkin sudah sedikit gila karena kaget.


“Duduklah, tidak sopan berbicara dengan cara seperti ini. Aku tidak mau melakukan hal jahat padamu!” kata si kakek pada Daisy. “Duduklah!’ ulangnya sekali lagi karena Daisy tidak juga duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Perlahan Daisy turun, duduk dengan bersimpuh di tepi ranjang, sangat sopan. Si kakek yang duduk di kursi dekat jendela terkekeh. Akan tetapi, Daisy tak dapat melihat ekspresi wajah pria itu sekarang. Entahkah senang atau merasa geli dengan tindakannya.


“Kakek siapa?” tanya Daisy. “Bagaimana Kakek masuk ke kamar saya?” Ia menambah pertanyaannya.


Si kakek menelengkan kepala terlebih dahulu. “Panggil saja Kakek, saya tidak memiliki nama.”


“Baiklah!”


“Saya bisa masuk ke mana pun yang saya inginkan, terlebih ke tempat orang-orang yang membutuhkan arahan.”


“Saya tidak meminta petunjuk atau arahan,” kata Daisy tidak mengerti.


“Tapi kamu kebingungan. Karena itu saya datang padamu. Awalnya saya datang pada gadis satunya karena ia penasaran dengan kehidupan yang lain. Saya pikir dengan menunjukan padanya, dia akan sadar dan bersyukur dengan yang dimiliki, ternyata tidak. Saya salah, telah melepaskan kera yang serakah.”


Perkataannya sama sekali tidak bisa dimengerti Daisy. “Saya sama sekali tidak paham.”


Si kakek tersenyum lalu berdiri, tetapi bergerak menjauh dari Daisy. Ketika ia berbalik, Daisy baru tahu kalau wajah si kakek begitu bersih, tampak begitu familiar, tetapi tentu saja tidak pernah ada dalam ingatannya.


“Kamu mau kembali ke tubuhmu, kan?”


Daisy terkejut dan meloncat dari duduknya kembali. Kakinya terasa kesemutan karena lama ditekuk. Ia mencoba berdiri dengan benar, walau butuh beberapa saat untuk melakukannya. “Ba-gaimana Kakek bisa tahu?” Seharusnya Daisy tidak menanyakan itu. Kedatangan kakek itu saja sudah menakjubkan. Daisy yakin kalau pintunya dikunci. “Apa yang harus saya lakukan supaya bisa kembali ke tubuh saya?” tanya Daisy.


“Bukankah kamu sudah pernah kembali ke tubuhmu sebelumnya? Apakah hal berbeda yang kamu lakukan saat itu?”


Si kakek menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain. Sepertinya Daisy harus menemukan jawaban sendiri. Namun, ia butuh lebih banyak petunjuk sekarang. Daisy memejamkan mata mengingat-ingat.


“Jika kamu berhasil menemukan perbedaannya, aku akan kembali dan menjelaskan dengan benar caranya!”

__ADS_1


Daisy membuka mata kembali, tetapi kakek itu sudah tidak ada. Padahak kamar Daisy masih terkunci.


__ADS_2