
Maulana baru akan tidur. Ia habis mencuci muka dan berpikir untuk mandi malam ini. Akan tetapi, didengarnya sang adik berteriak-teriak tak karuan, membuatnya menabrak pintu kamar mandi dan kehilangan sebelah sendalnya karena berlari dan hampir jatuh tengkurap.
Stefani berdiri di depan dapur, berteriak ketakutan seakan melihat hantu. Tangannya mengibas-ngibas tak karuan. Tak lama setelah ia sampai ayahnya datang dengan sebuah sapu yang akan dijadikan senjata karena kaget. Benda itu digenggam erat-erat tangkainya.
“A-da apa, Maulana? Kenapa adikmu?”
Maulana tidak menjawab dan hanya menangkap tangan Stefani. Kemudian menguncang-guncang tubuh adiknya itu supaya sadar. Begitu Stefani membuka matanya, bukannya menjawab pertanyaan Maulana, gadis itu malah menangis dengan lega, membuat ia dan ayahnya makin panik saja.
Jadi dituntunnya Stefani ke ruang tamu. Sementara ayahnya mengambilkan minuman untuk adiknya itu.
“Minum dulu! Apa yang terjadi?” tanya Maulana.
Stefani dengan tangan yang gemetar mengambil gelas yang disodorkan padanya. Begitu ia selesai meneguk air minum, tampaknya Stefani menjadi lebih tenang dari tadi.
“Aku melihat sesuatu, makanya berteriak!”
“Apa yang kamu lihat?” tanya Maulana.
Kepala Stefani mengeleng. “Tidak tahu. Aku melihat sesuatu yang terbang mendekat, makanya jadi berteriak. Rasanya menakutkan sekali.”
Maulana tidak mengerti dengan penjelasan Stefani. Ia tidak paham karena tidak melihat hal yang sama. Yang dilihatnya Stefani hanya berteriak-teriak saja. “Apa itu kecoak?” tanya Maulana menerka.
Stefani terdiam sebentar, seolah berpikir, walau kelebatan ketakutan di dalam tatapan Stefani masih terlihat. “Mungkin memang kecoak. Saya tidak melihatnya dengan begitu jelas!’ Tawa yang Stefani keluarkan dari mulutnya terdengar canggung.
Memang apa yang bisa dilakukan pada seorang wanita yang sedang ketakutan sekarang? Tentu saja hanya seperti ini.
“Kamu membuaku takut saja, Stefani! Kupikir ada penjahat mana yang datang dan tiba-tiba menyergapmu!” kata Maulana sedikit lega.
Stefani terkekeh sedikit, tetapi ketakutannya tidak juga hilang.
“Mau Ayah temani sampai kamu tidur?” tanya ayah Maulana.
Stefani menatap pria yang merawat mereka seorang diri dengan berkaca-kaca. Kemudian ia mengeleng. “Ayah harus istirahat. Ada banyak hal yang harus dikerjakan besok. Kak, kalau bisa saya juga mau ikut untuk mencari rumah.”
__ADS_1
Maulana tersentak kaget. Stefani mendengar semuanya.
***
“Ayah menyuruhnya melakukan apa?” tanya Stefani dengan senang.
Ia bersorak gembira saat mendengar kata: Aku sudah mengurusnya untukmu, dari papa Daisy barusan. Ia ingin memamerkannya pada Daisy, betapa dirinya juga bisa menarik perhatian keluarga gadis itu. Namun, buat apa ia melakukan itu. Keluarga yang kini tinggal dengan Daisy, dibandingkan Ibnu dan Aida jelas tak ada apa-apanya.
“Aku meminta dia untuk tinggal di luar lingkungan ini.”
Sekali lagi Stefani bertambah senang. Itu artinya dia tidak perlu bertemu dengan Stefani lagi untuk kedepannya. Ia merasa senang sekali sekarang jadi semangatnya membumbung tinggi untuk datang ke kampus. Padahal tadi saat bangun di pagi hari keengganan mengelayut begitu manja padanya.
“Terima kasih, Pa!” kata Stefani sambil menyarangkan ciuman ke pipi Ibnu.
Daisy yang asli pasti tak pernah bertingkah seimut ini sampai-sampai Ibnu kaget melihat tindakannya yang tiba-tiba. Ia berlari keluar sebelum mendapatkan peringatan dari Aida yang tampak tak senang.
Handoko tampak murung menanti di samping mobilnya. Stefani tergoda untuk bertanya kenapa Handoko tampak tak begitu semangat. Atau apakah reaksi daisy saat mendengar kalau dirinya tidak bisa tinggal lagi secara gratis di pavilliun.
Namun, hal itu tidak ditanyakan Stefani walau sudah masuk ke dalam mobil. Pastinya hubungan darah yang selama ini dijalani membuat lidahnya kelu untuk bertanya.
“Pak Handoko tidak usah tunggu di parkiran. Nanti akan aku telepon setelah kelas usai!” kata Stefani sebelum turun dari mobil di parkiran.
“Baik, Nona!”
Stefani membanting pintu mobil hingga tertutup dan mundur beberapa langkah sebelum berbalik. Beberapa teman sekelasnya terlihat memperhatikan dari tepi lapangan parkir. Ingatan bagaimana mereka memperlakukan Stefani saat itu kembali datang. Tangannya terkepal erat supaya tidak melampiaskan kemarahan dengan tiba-tiba.
Jangan lakukan apapun yang bisa merugikanmu! Abaikan mereka! Begitu Stefani menyuruh dirinya di dalam hati.
Ia menaiki tangga menuju lobi gedung kampus dengan langkah cepat.
“Daisy!”
Di dalam hati Stefani menyuruh dirinya untuk mengabaikan panggilan. Anggap saja angin lalu, katanya pada diri sendiri. Tetapi, ia dihentikan dengan cara lainnya. Tangannya direngut tiba-tiba, hingga ia harus berbalik dan melihat sipemanggil walau pun tidak ingin.
__ADS_1
“Mau apa?” tanya Stefani tidak senang.
Brian bernapas pendek-pendek dan memegangi lututnya kini. Ia mengibaskan tangannya meminta Stefani untuk memberinya waktu mengembalikan irama napasnya.
Stefani bersedekap karena tak senang bertemu dengan Brian. Pria yang selalu menganggunya saat dulu berada di tubuh asli ini ingin dihindari. Tetapi, ia tak bisa melakukannya karena saat ini adalah Daisy.
“Jika kamu tidak cepat memberitahuku apa maumu, aku akan pergi sekarang!” ancam Stefani.
Brian menarik tangan Stefani kembali. Lalu menegakkan tubuhnya kini, bersiap memberi jawaban atas tindakan penghentiannya barusan. “Apa kamu mau balas dendam pada Stefani?”
“Eh? Apa?” tanya Stefani kaget.
Apa maksudnya dengan balas dendam padanya? Bukankan selama ini Brianlah yang memberikan dirinya begitu banyak masalah?
“Jangan pura-pura baik terus. Bukannya kamu kesal padanya karena menganggu Mas Dika. Aku punya cara untuk mengacaunya!” kata Brian tersenyum.
Stefani benar-benar tertarik dengan pembahasan itu. Ia ingin membicarakannya lebih lanjut, tetapi sebaiknya bergegas untuk naik ke lantai dua tempat kelas mereka berada. “Kita harus membicarakan ini! Kamu harus menjelaskan padaku rencananya!” kata Stefani. Ia harus membuat Brian menemuinya lagi.
“Tentu saja, karena ini tidak akan seru jika tidak kita lakukan bersama!”
Stefani tidak begitu paham dengan senyuman yang muncul di wajah Brian, tetapi itu sedikit menakutkannya.
Brian pergi lebih dulu menaiki tangga, sementara Stefani berjalan dengan lambat seperti tidak terburu-buru. Tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang. Hampir saja Stefani tersungkur terjatuh.
“Ah, maaf, aku tidak sengaja!” Si penabrak berdiri mengejek di depan Stefani.
Stefani kenal gadis yang melakukan perundungan dengan cara yang biasa seperti ini. Karena gadis itu tersenyum, Stefani juga tersenyum. Lalu ia melayangkan sebuah tamparan ke wajah gadis bernama Lola itu. Tampaknya Lola sama sekali tidak menyangka kalau Stefani akan melawan. Apa Daisy sebodoh itu membiarkan dirinya dirundung.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Apa? Jika kamu pikir aku akan tersenyum dan bilang tidak apa-apa, itu benar-benar bukan gayaku, kamu tahu!” Stefani meninggalkan Lola setelah menjawab pertanyaan gadis itu.
“Ini tidak seperti dirimu!” teriak Lola di belakangnya.
__ADS_1