Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Pria yang Memanggilku dengan Wajah Merah


__ADS_3

Apakah Daisy akan menjadi jahat saat berharap kalau ayah Stefani adalah papanya? Tetapi, ia ingin sekali memiliki papa seperti ayahnya Daisy. Walau ia jelas-jelas tahu kalau keinginannya itu tidak akan menjadi kenyataan.


Akan tetapi, setiap kali ayahnya Stefani menatapnya, keinginan untuk memiliki hal yang hanya jadi mimpinya saja jadi semakin besar.


Jika ia dan Stefani nanti bisa duduk bersama dan tertawa pada takdir yang terjadi pada mereka, Daisy akan berkata, Kamu sangat beruntung karena memiliki ayah dan kakak seperti mereka. Kini Daisy agak khawatir tentang Stefani.


Ia menempati tubuh Stefani, tak yakin kalau gadis itu masih ada di tubuhnya ini.


“Astaga ... aku benar-benar harus bertemu dengan tubuhku secepatnya. Lalu mencari di mana jiwa Stefani!” serunya panik.


Ia menutup mulut segera untuk mendengar sekeliling. Kalau-kalau ayah Stefani kembali ke dalam untuk mencari sesuatu. Atau kakaknya yang balik untuk mengambil yang ketinggalan. Tetapi setelah beberapa lama, ia tahu kalau dirinya sendirian.


Saat mencari pakaian tadi, Daisy menemukan dompet lusuh dengan gaya vintage di dalam lemar. Terselip di antara tumpukan pakaian dalam. Entah Stefani sudah memiliki yang baru, atau karena alasan tak memiliki uang, Daisy mengambil dompet dan memasukan uang yang diberikan oleh kedua lelaki yang bertanggung jawab atas hidup Stefani itu ke dalamnya.


Ia telah memasukan buku catatan sesuai mata kuliah yang harus diikuti hari ini. Ia memilih mengenakan baju kaus dan jelanan jins hitam serta sepatu kets.


Daisy dengan semangat menyandang tas berisi barang-barang Stefani. Ia keluar dan menunduk saat melewati seorang pelayan. Ia takut kalau pelayan yang melihatnya akan mengatakan sesuatu yang jahat. Tubuhnya telah membuat masalah dua hari yang lalu. Tetapi tidak ada yang terjadi. Para pelayan itu hanya meliriknya sedikit dan bersikap seolah ia tak ada.


Ia sampai di gerbang depan dan keluar dari samping. Tetapi, ia tak lantas berjalan lagi.


“Bagaimana aku pergi kuliah?” tanya Daisy dengan frsutrasi.


Pada saat menjadi Daisy yang biasanya, ia mengunakan mobil. Sehingga ia bahkan tidak pernah berpikir menggunakan angkutan kota untuk pergi ke universitas. Daisy jadi mondar-mandir di depan pos satpam selama hampir satu menit.


Mungkin melihatnya yang kebingungan, satpam yang bertugas keluar dari pos dan mendekatinya.


“Apa uangmu hilang, Stefani?” tanya Pak Satpam sambil berkacak pinggang.


Daisy berhenti mondar-mandir. Ia menatap Pak Satpam dengan penuh tanya. Lalu menyadari kalau dirinya yang sedang ditanyai. Ia menghela napas dan mengeleng, menyuruh dirinya untuk bersikap lebih sopan.

__ADS_1


“Ti-dak! Aku hanya bingung!”


Pak Satpam membuka topinya, menelengkan kepala sebelum bertanya, “Bingung kenapa?”


“Aku tidak tahu ke sekolah naik apa?”


Pak Satpam diam, mencoba berpikir. Lalu wajahnya menjadi pucat. Ia menoleh ke kiri dan kanan dengan cepat. “Apa maksudmu tidak tahu harus pergi sekolah naik apa?”


Daisy tahu kalau berbohong itu tidak baik. Bahwa walaupun ia berpikir kalau ini adalah kebohongan terakhirnya, tetapi akan ada kebohongan lain sebagai tambahan nanti. Daisy tidak siap dengankonsekuensi yang akan dialami Stefani yang tidak bersalah. Tapi, Daisy sadar betul tidak ada yang akan percaya kalau ia mengatakan hal yang sebenarnya sekarang.


“Maafkan aku!” kata Daisy akhirnya memilih tak menjelaskan apapun.


Ia membiarkan imajinasi orang lain membantu dirinya sendiri. Pak Satpam berkacak pinggang sekarang membuang napas ke langit. “Ayahmu memang berkata kamu kemungkinan mengalami masalah saat pergi ke kampus.”


Daisy mengangkat kepala, terharu dengan perhatian keluarga Stefani. “Ayah bilang apa?” tanyanya.


“Tunggu di sini sebentar!” kata Pak Satpam padanya.


Sekitar lima menit menunggu, Pak Satpam kembali ke tempat Daisy dengan mengenakan pakaian bebas. Ia juga mendorong sebuah motor matic bersamanya. “Ayo aku antar, sekalian akan kutunjukkan kendaraan mana saja yang bisa kamu naiki untuk pulang dan halte mana saja yang dekat dengan rumah ini!”


Daisy benar-benar sangat terbantu dengan itu. Begitu Pak Satpam menghidupkan motor. Daisy melombat ke atas jok belakang.


“Sebaiknya duduknya jangan miring,” saran Pak Satpam pada Daisy.


***


Ada dua halte yang dekat dengan rumahnya. Daisy benar-benar baru tahu itu. Dari kedua halte, yang paling dekat adalah pemberhentian yang dilewati angkutan kota.


“Jadi, nanti pulang naik angkot warna merah saja,” kata Pak Satpam yang baik itu pada akhirnya menuntaskan penjelasan soal cara pergi ke kampus seorang diri.

__ADS_1


Di belakang si satpam, Daisy mengangguk-angguk. Memperhatikan angkot yang melintas di sisi kanannya, label, serta nomor angkutan kota yang tertera di sisi kanan kaca depan. Di dalam hati ia berkata akan mencoba keseruan mendebarkan bergabung dengan orang-orang ini nanti.


Daisy diturunkan di depan gedung fakultas bahasa. Hampir saja ia tadi meminta si satpam untuk mengantarnya ke fakultas Ekonomi. Kalau saja seorang pria yang memakai kemeja sederhana dan topi berwarna hitam yang tengah berjalan ke dalam tidak berhenti dan meneriakan namanya.


“Terima kasih, Pak!” kata Daisy berusaha seramah mungkin seperti halnya Stefani.


Si satpam mengangguk dan pergi melaju keluar dari pelataran halaman parkir gedung Bahasa.


“Siapa itu Stefani?” Pria yang meneriakan namanya tadi mendekatinya.


Daisy langsung digerayangi kepanikan. Ia tidak kenal satu pun teman Stefani. Ditambah lagi ia sibuk berpikir tentang bagaimana caranya untuk menemui tubuhnya semalam, bukannya mencari tahu siapa saja orang yang dekat dengan Stefani yang kemungkinan akan ditemui ketika masih menjadinya.


“Si-apa, ya?” kata Daisy berusaha mengingat lelucon yang dilakukan anak-anak satu jurusannya dulu ketika kesal dengan seseorang di kelas.


Pria itu tertawa dan hal yang terjadi membuat Daisy lega. Tetapi tidak menghilangkan rasa takutnya. Tetap saja ia harus menyebutkan mana orang yang sedang mengajaknya berbicara ini. Atau ia sebenarnya punya pilihan lain. Berbohong.


“Lucu sekali, Stefani! Hanya karena aku tidak jadi datang ke rumahnya Daisy kamu jadi pura-pura begini!”


Sambil menertawakan kepanikannya sendiri Daisy mengingat orang yang mungkin diundang Stefani. “Maaf, Azzam!” katanya sambil tersenyum.


Untung saja ia membuka pesan di ponsel Stefani dan menemukan banyak sekali pesan dari orang bernama Azzam. Ia berdoa semoga tebakannya benar.


“Azzam?” Mata pria itu melebar dan tampak senang sekarang.


Ia terkekeh kecil seperti menyebutkan mananya terang-terangan adalah hal yang diharapkan selama ini.


“Ya, kamu ... Azzam, kan?”


Daisy menelan ludah susah payah. Bagaimana kalau pria yang sedang bicara dengannya ini bukan Azzam.

__ADS_1


Pria itu mengosok lehernya sedikit. Pipinya agak merah. Dari reaksi yang diperlihatkan seharusnya tebakan Daisy benar.


__ADS_2