
Teman-teman satu kelas Daisy, mengambil kelas yang berbeda dengannya. Jadi, ia tidak harus mencari orang lain ke rumah masing-masing seperti halnya Maya. Daisy hanya perlu ke kampus dan datang ke kelasnya saja.
Saat ia mencapai lorong, orang-orang sudah selesai mata kuliah dan ribut merencanakan makan siang di mana. Namun, ketika ia mencapai pintu kelas, suasana ribut itu mendadak menjadi hening. Semua mata memandangnya dengan cara yang tidak menyenangkan.
Sudah biasa. Semuanya seudah pernah dialami Daisy. Seperti saat ibunya meninggal dan begitu banyak isu miring yang menerpa keluarganya. Semuanya memandang Daisy hampir seperti sekarang.
“Lola, bisa kita bicara sebentar?” tanya Daisy. Ia tersenyum, seolah-olah tidak ada masalah dengan dirinya dan semua orang.
Lola menelengkan kepala tidak paham lalu kemudian kembali mengobrol dengan teman di depannya, mereka tertawa menganggap Daisy tidak ada.
Jadi Daisy mendekat, masuk ke dalam. Beberapa mahasiswa lain berdiri, termasuk Brian. Mereka bersikap waspada seolah Daisy adalah musuh berbahaya.
“Jika kalian melakukan sesuatu yang buruk padaku! Ini tidak akan selesai hanya dengan kata maaf. Aku ke sini dengan niat baik!” Daisy sama sekali tidak takut.
Para jagoan kelasnya itu mengambil jarak, tidak berusaha mendekat kembali. Para gadis yang tadi mengobrol berhenti lalu berdiri, sikap mereka mengancam. Seolah seorang binatang yang siap menerkam.
“Lola, bisa kita bicara sebentar?” tanya Daisy kembali.
“Apa yang mau kamu bicarakan denganku, ah? Kamu mau memakiku seperti maya, menamparku? Dengar ya Daisy ....”
“Aku minta maaf!” kata Daisy memutus panjangnya keluhan Lola. Ini harus berhenti di sini saja, tidak boleh lebih lama lagi.
Lola terdiam, tampak terkejut dengan perkataan Daisy. Entah tak menyangka atau sebenarnya tak mengharapkan hal itu terjadi. Teman Daisy itu mencebik dan menoleh pada teman bicaranya tadi dulu.
“Kamu bercanda? Setelah semuanya kamu mau bercanda seperti ini?” tanya Lola dengan melebarkan matanya.
“Aku tidak ingat sama sekali, ada begitu banyak tekanan Lola,” kata Daisy. Alasannya sama dengan yang dikatakan pada Maya tadi.
“Tidak ingat? Kamu punya kelainan? Atau kepribadian ganda?” kata Lola mengejek.
__ADS_1
Bukan kelainan atau kepribadian ganda, tetapi jiwanya dan jiwa Daisy bertukar tempat.
“Maafkan aku. Aku tidak memintamu untuk akrab kembali denganku. Aku hanya mengatakan kalau aku menyesal atas apa yang terjadi,” kata Daisy.
Ia kemudian mundur dan berbalik pergi setelah mengatakan hal itu.
“Kamu pikir bisa pergi begitu saja? Astaga, wanita buruk satu ini! Bagaimana bisa kamu pikir semuanya mudah?” kata Lola.
Tiba-tiba saja ia sudah menarik tangan Daisy, membuat gadis itu berhenti dengan kening berkerut.
“Apa?” tanya Daisy tidak mengerti. Rasanya tidak ada yang harus mereka bicarakan lagi. “Bukannya aku sudah minta maaf? Apalagi?” tanya Daisy.
“Kamu pikir pemintaan maafmu bisa membuat sakit hati kami hilang begitu saja? Kamu waras?” Lola membelalakan mata untuk terlihat menakutkan. Akan tetapi, Daisy sudah melewati hal yang lebih menakutkan dari ini. Ia sudah melalui banyak hal yang menakutkan.
Daisy mendengus. “Jadi?”
Sebuah tamparan melayang ke pipi Daisy. Rasanya pedih dan panas, tetapi Daisy sama sekali tidak bergeming. Ia sudah merasakan hal yang lebih pedih dari sekedar pembalasan dan rasa malu belaka.
Lola mundur. Daisy tidak tahu kenapa demikian. Ia hanya menatap tetap ke pupil Lola, dan tersenyum. Saat tidak ada yang berkata apa-apa lagi padanya, ia berbalik dan kemudian keluar dari pintu kelas.
***
Handoko melirik parkiran, berharap menemukan putrinya di sana. Akan tetapi, seingatnya Stefani tidak berada di fakultas yang sama dengan Daisy, makanya tidak mungkin kalau Handoko bisa menemukan putrinya di sini.
Dari kejauhan, undakan yang mengantar semua orang menuju teras gedung fakultas, Daisy, nona yang dilayani Handoko terlihat. Langkah kakinya lebih cepat dari akan naik tadi, terlihat tergesa-gesa dan tak awas. Beberapa kali Handoko melihat kalau gadis yang seusia putrinya itu hampir jatuh.
Setelah lebih dekat, Handoko bisa melihat mata gadis itu berlinangan. Ia bukannya dengan tidak sengaja hampir jatuh berkali-kali, tetapi penglihatannya kabur karena air mata. Pipinya juga merah, bebentuk bekas telapak tangan.
“No-na?”
__ADS_1
Daisy berhenti beberapa langkah di depan Handoko, mengangkat kepala, dan tersenyum. “Kita pulang sekarang, Pak!” katanya.
Walau suaranya gemetar, gadis itu sama sekali tidak ingin memperlihatkan betapa sedih atau bagaimana perasaannya sekarang. Begitu selesai menjawab pertanyaan Handoko, ia memutari mobil dan kemudian masuk ke dalam. Tidak ada luapan emosi selain yang tidak bisa dikendalikan gadis itu di wajahnya.
Handoko masuk juga ke dalam mobil, menyalakan mesin dan kemudian melaju keluar dari tempat parkir. Daisy sama sekali tidak bicara sepatah kata pun sampai mereka bergabung di jalanan utama. Itu pun karena Handoko mengusiknya.
“Nona ... Anda benar baik-baik saja?” tanya pria tua itu dengan khawatir.
Daisy seusia Stefani. Seharusnya ia menangis saat sakit dan berteriak saat marah. Kehidupannya malah lebih baik dibandingkan putri Handoko, entah kenapa Daisy terlihat begitu dewasa layaknya seseorang yang hidup dengan tekanan di sepanjang hidupnya.
“Ya, Pak, saya baik! Ini bukan apa-apa!” jawabnya.
Getaran pada suara Daisy masih saja ada. Juga genangan air matanya yang sesekali dijentik dengan telunjuk untuk mengenyahkan benda itu dari sana. Malahan, Daisy mungkin berharap kelenjar air matanya mengering seketika itu juga.
“Tapi, Anda tidak terlihat begitu.” Handoko mendesak.
Ia tak bisa melihat anak seusia putrinya yang seharusnya masih bisa bersandar begitu tegar.
“Ini akan berlalu, Pak, saya bisa menjalaninya selama ini. Jadi, tidak apa-apa. Mereka akan datang lagi ketika membutuhkan saya!”
Dada Handoko serasa ditikam, dicabik-cabik, kemudian dilemparkan. Kata “Ketika Membutuhkan” menyadarkannya betapa berat kehidupan gadis berusia 20 tahun di sampingnya. Ia telah terbiasa dibuang dan kemudian ditarik kembali. Ia biasa disakiti, kemudian tidak menolak untuk dibujuk.
Handoko tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia melaju dengan tenang, mengatakan dalam hatinya sendiri kalau Daisy pasti akan bisa bersandar pada papapnya di rumah.
Satpam kembali membuka pintu gerbang otomatis saat mobil milik Daisy berada di depan gerbang. Mereka bahkan menyongsong mobil sampai masuk dan mengucapkan salam pada Daisy.
Sama halnya dengan Handoko yang terpana pada bekas luka yang dilihat di pipi Daisy, satpam itu juga. Mereka terpana sesaat, bertanya-tanya dalam hati dan saling sodok sebelum akhirnya tersenyum pada majikan kecil mereka.
“Anda harus mengompresnya nanti, Nona.”
__ADS_1
Dari kaca spion tengah Handoko bisa melihat air mata Daisy menetes. Padahal ia melakukan hal yang sama seperti pada orang lain. Apakah tidak ada yang berkata seperti itu di dalam rumah besar pada Daisy sebelumnya? Tidak mungkin seperti itu, kan?