
Daisy melihat taman tempat ia bertemu mamanya di dalam mimpi lagi. Tempat itu semakin indah saja sejak terakhir kali dilihatnya. Ia memperhatikan beberapa bunga yang bermekaran di tepi taman yang di tengahnya telah berdiri meja besi dengan ukuran cantik, juga kursi dengan motif yang sama.
Lalu di mana mamanya berada sekarang? Hari itu Daisy tidak sempat mengatakan kepada wanita yang sudah melahirkannya itu betapa Daisy merindukan. Kali ini Daisy bertekad harus bisa mengatakan apa yang ingin dikatakan.
“Daisy ... apa kamu tahu kenapa aku memberimu nama sebuah bunga?”
Suara hangat yang sudah lama sekali ingin didengarnya kembali datang juga. Air mata Daisy bertumpuk di pelupuk. “Tidak, Ma, saya tidak tahu!” jawabnya dengan suara parau.
“Kalau begitu aku akan memberitahumu kenapa memberimu nama sebuah bunga yang cantik dan kecil!” Lalu Daisy bisa merasakan wanita yang melahirkannya itu ada di belakang. Jemarinya mengenggam tangan Daisy dan menuntunnya ke kursi di tengah taman cantik itu.
Daisy mengikuti mendiang mamanya dan duduk dengan nyaman di atas kursi taman dengan motif yang cantik tersebut. Ia sabar menanti, tetapi tampaknya sang mama tidak segera memberitahu apa yang ingin diketahui.
“Daisy adalah nama bunga yang artinya hari yang bersinar. Jika diberikan kepada anak perempuan bukankah kamu tahu apa keinginan Mama untukmu?”
“Ya!” Daisy mengangguk.
Tangan lembut mamanya memeluk Daisy sedikit, membuatnya ingin menangis juga merasa penuh syukur. Ia berharap bahwa tidak perlu terbangun dari mimpi. Namun, tentu itu hanya sebuah harapan yang tidak akan pernah terjadi saja.
“Kamu sudah mengalami hari-hari yang berat Daisy. Tapi, kamu akan tahu bahwa yang kamu alami akan membuat semuanya jadi lebih baik. Jalan di depan bahkan lebih panjang, hanya saja kamu tidak akan lagi sendirian.”
__ADS_1
Berapa pun Daisy berusaha untuk tidak menangis, ia ternyata sama sekali tidak berhasil. Air mata tetap lolos dari kawalannya dan meluncur turun di pipi Daisy yang mulus. Ia berdiri dan memeluk mamanya yang tidak akan pernah bisa ditemui kembali walau di dalam mimpi.
“Daisy ... papa menyayangimu!”
Kalimat terakhir membuat Daisy sangat terkejut. Ia melepaskan pelukannya, ingin mengatakan kalau semua itu hanyalah sebuah kebohongan. Akan tetapi, mamanya sudah lenyap. Padahal Daisy hanya berkedip tak lebih dari nol koma satu detik. Kini yang ada di depan matanya hanya pedar pelan bintang dari cat.
“Ini di mana?” gumam Daisy pelan, kebingungan.
***
Stefani tidur dalam kemarahan. Ia tidak tenang dan terjaga beberapa kali, tetapi hanya berguling dan kembali memejamkan mata. Perasaannya mendadak menjadi tidak enak, tetapi ia hampir tidak mengatakan apa-apa. Begitu ia mendengar Azan subuh samar-samar didengarnya ketukan di pintu.
Matanya lekas terbuka. Dadanya berdentum-dentum cemas. Ia memejamkan mata kembali, berharap terbangun di kamar Daisy seperti beberapa hari ini. Tetapi, ketukan di pintu kembali terdengar berikut dengan suara yang memanggil nama aslinya.
“Stefani! Kamu tidak bangun?” tanya suara lelaki yang dikenalinya sebagai Maulana.
“Sudah, biarkan saja dia. Mungkin sedang waktunya itu ....” Suara lelaki yang lebih serat dan dalam menyahut.
Lalu terdengar suara seperti bertepuk tangan dan kemudian langkah kaki menjauhi pintu kamarnya dengan segera. Barulah setelah itu Stefani mendudukan diri, memperhatikan sekitar yang sama sekali tidak dikenali. Langit-langit yang berbeda selama beberapa hari ini. Kamar yang lebih luas dibandingkan di pavilliun dengan ranjang yang lebih empuk.
__ADS_1
“Astaga! Ini tidak mungkin terjadi! Astaga!” pekik Stefani tertahan.
Rasanya Stefani ingin berlari ke rumah Daisy dan menarik-narik gadis itu, meminta semuanya dikembali ke hari kemarin saja. Akan tetapi, mana bisa ia melakukan hal seperti itu.
“Kenapa semua terjadi padaku!” seru Stefani sambil mengapai bantalnya dan melemparkannya dengan keras ke seluruh ruangan.
Salah satu bantal membentur sesuatu alat make up yang ada di meja rias. Ia bertanya-tanya dari mana Stefani mendapatkan semua uang untuk membeli alat rias.
“Stefani kenapa ada suara barang pecah? Apa kamu jatuh?” tanya Handoko sambil mengetuk pintu lagi.
Stefani mendengkus seketika. Ia berderap ke arah pintu kamar menariknya hingga terbuka dan melotot pada Handoko yang tampak terkejut dengan kemunculannya yang tanpa suara.
Pria itu seperti mendapatkan sebuah penampakan yang begitu dikenali, tetapi terlalu terkejut untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya.
“Jangan campuri urusan saya, Ayah! Tolong! Biarkan saya sendiri!” seru Stefani.
Mulut Handoko terbuka dan tertutup karena terkejut. Ia kemudian menyisir rambutnya dengan jari-jari dan kemudian menatap Stefani tidak mengerti.
“Apa kamu kesal pada sesuatu, Stefani?” tanya Handoko.
__ADS_1
Stefani baru saja akan pergi ke dalam kamarnya lagi. Ia berbalik dan memandang dengarn heran pada pertanyaan itu. “Ya, saya menyesal sudah lahir!” katanya dengan berani.