
Rasanya senang sekali melihat Handoko lagi. Walau kali ini ia melihat Handoko sebagai Daisy dan bukannya Stefani. Pria itu tampaknya sedang makan atau membereskan rumahnya tadi. Ia ingat pada Stefani yang diseret keluar dari rumah. Apakah Handoko sedikit karena putrinya kembali membuat masalah.
“Maaf, Nona, tidak ada yang mengabari kalau Anda akan keluar pagi ini!” Napas Handoko pendek-pendek saat sampai di depan Daisy.
Daisy tersenyum, memberikan yang paling manis untuk Handoko. “Ini rencana dadakan, Pak, maafkan saya!” katanya pada Handoko.
Pria tua itu tersenyum sebentar memandang Daisy hampir-hampir tidak berkedip. Daisy penasaran dengan apa yang membuat Handoko menjadi seperti ini. Tetapi, ia tidak menanyakannya walau pun ingin.
“Apa kita bisa pergi sekarang, Pak?” tanya Daisy.
Handoko terkesiap, terengut dengan pemikirannya sendiri, menoleh dengan cepat ke kiri dan ke kanan seolah ada seseorang yang menepuk pundaknya dan menyadarkannya. Ia mengangguk dan tergesa-gesa membuka pintu mobil bagian penumpang.
“Saya duduk di samping saja Pak. Tidak apa, kan?”
Handoko lekas menutup pintu kembali dan mengangguk. Ia bergegas memutar setengah badan mobil dan membuka pintu bagian samping sopir, menunggu dengan canggung kedatangan Daisy.
“Terima kasih, Pak!” ucap Daisy sesaat akan masuk ke dalam.
Ia menunggu dengan tenang, sambil mengenakan sabuk pengaman. Lalu Handoko sampai di kursi sopir dan menyalakan mobil.
“Nona mau ke mana hari ini?” tanya Handoko.
“Ke kantornya Mahardika, Bapak tahu alamatnya kan?” tanya Daisy. Ia bersedia mengarahkan nanti seadainya mendapata gelengan kepala dari Handoko.
“Saya tahu Nyonya, saya pernah menganatar Maulana ke sana saat perlu motor untuk mengantar Stefani!” kata Handoko.
Seketika Daisy ingat dengan Maulana yang bekerja sebagai asisten atau bisa jadi bawahan langsung Mahardika. Bagaimana bisa ia melupakan hal itu. “Ah, benar juga! Kalau begitu mohon bantuannya, Pak!”
Handoko menekan pedal gas dengan perlahan mobil melaju meninggalkan halaman. Sebelum mobil sampai di depan pagar, gerbang besi itu melaju terbuka secara otomatis. Mereka berbelok ke kanan ketika sudah keluar dan melaju sedikit lebih cepat.
“Saya minta maaf karena harus mengusir Daisy tadi, Pak!”
Melihat reaksi pria di sampingnya yang sedang menyetir, Handoko tahu tentang itu. Bisa jadi juga melihat sesuatu telah dilakukan pada Stefani.
__ADS_1
“Apa sudah terjadi sesuatu tadi, Pak?” tanya Daisy sedikit khawatir.
Tiga hari bersama dengan pria tua ini Daisy menyadari bahwan Handoko menyayangi putrinya, mungkin tidak bisa mengungkapkan perasaan dengan benar. Bisa jadi canggung karena tidak tahu apa yang dilakukan untuk membuat seorang anak gadis merasa senang. Tetapi, tampaknya pria itu itu berusaha.
“Saya merasa hubungan saya dan Stefani akhirnya membaik. Tetapi, malah terasa lebih buruk dari sebelumnya. Dia bertanya kenapa saya harus bersikap baik sekarang setelah begitu banyak pengabaian yang diterima.”
Daisy paham. Tidak ada orang tua yang tak menyayanginya. Mungkin caranya salah seperti hal papanya dan Handoko, pria tua yang sedang menjadi sopir Daisy saat ini. “Dia mungkin hanya tidak paham saja, Pak!”
Kantor Mahardika terlihat jelas sekarang.
“Saya jadi bercerita hal yang tidak perlu pada Nona. Maafkan saya!” kata Handoko merasa malu.
Daisy terkekeh kecil, menutup mulutnya saat melakukan itu dan Handoko terpana saat melihatnya. “Saya malah senang bisa mengobrol.”
“Padahal banyak orang yang lebih sepadan dalam segi pikiran dan pengetahuan yang bisa mengobrol dengan Anda. Saya sama sekali tidak akan bisa mengiringin Anda kalau sudah bicara tentang sesuatu yang lebih maju!” kata Handoko merasa nyaman.
“Biasanya yang bicara seperti itu kemungkinan karena terlalu pintar!” puji Daisy.
Mobil berhenti di depan lobi kantor. Handoko akan melepas sabuk pengaman dan keluar untuk membukakan pintu. Tetapi, Daisy mengahalanginya.
Daisy merogoh tas kecilnya bersisi beberapa helai uang kas dan dompet kartu kredit dan ATM.
“Tidak Nona, saya tunggu di dalam mobil saja. Maulana tadi sudah membuatkan saya kopi. Kami juga sudah sarapan!”
Ada sekelebat ekspresi yang membuat Daisy menyangka kalau Handoko berbohong. Namun, ia sekali lagi tak bisa mendesak supaya pria tua yang membesarkan Stefani dan Maulan seorang diri setelah istrinya meninggal itu untuk jujur.
“Kalau begitu parkir di sana, ya, Pak! Itu parkir khusus pemilik. Biasanya hanya diisi mobil Mahardika saja jadi aman. Saya juga biasa parkir di sana. Kalau urusan saya sudah selesai, saya akan susul Pak Handoko di sana!” terang Daisy.
“Baik, Nona!”
“Sebentar ya Pak!” kata Daisy sambil meraih gagang pintu keluar dan mendorongnya hingga terbuka.
***
__ADS_1
“Mau apa kamu kemari?” tanya Mahardika.
Biasanya pria itu akan mempersilakan Daisy duduk, menanyakan apa yang ingin diminum, mengatakan kalau Daisy bisa menelepon dan menyuruh Mahardika untuk datang ke rumah saja alih-alih kalau dirinya sendiri yang muncul. Bentuk perhatian kecil yang seperti itu yang di dapatkan Daisy.
“Ayahmu sudah meneleponku semalam, aku akan ke rumahmu nanti sore. Jadi kamu tidak perlu kemari!” Mahardika kembali bicara, belum juga menyuruh Daisy duduk.
“Aku rasa harus kemari!”
“Untuk apa? Mengatakan kalau aku harus berbohong? Dengar, aku tidak akan berbohong!” kata Mahardika.
Ia mengangkat kepala dan terpana. Gadis itu memakai kalung pemberiannya saat ulang tahun. Secercah kebahagiaan menyeruak di hati Mahardika. Ia berjuang sekuat tenaga untuk tidak terlihat senang.
“Aku kemari untuk minta maaf! Tetapi, aku hanya akan mengatakannya padamu saja! Bukan aku yang melakukan semua itu!” tegas Daisy.
Mata Mahardika terbelalak lebar, tidak menyangka akan mendengar penyangkalan yang kekanak-kanakan seperti itu. Tetapi, ia ada di sana untuk bisa menerima perkataan Daisy begitu saja. Walau benar Daisy yang kemarin dan hari ini berbeda.
“Kamu berharap aku percaya?” tanya Mahardika.
“Tidak! Karena kamu tidak akan melakukannya. Tetapi, aku harap kamu tahu kalau yang melakukan kekacauan bukan aku. Aku tahu hubungan pertunangan ini baru, tetapi pasti Mas Dika bisa membedakannya!”
Mahardika merasa kalau kepalanya berdenyut pelan. “Kalau begitu terserah saja!” katanya.
“Aku akan pergi sekarang.”
Ketika Mahardika mengangkat kepala, Daisy sudah mencapai pintu. Gadis itu sama sekali tidak menoleh ke belakang untuk tahu bagaimana Mahardika bereskpresi sekarang. Ia menghela napas dan berdiri.
“Daisy, tunggu!” Ia serasa tengah berbicara dengan orang yang berbeda.
Daisy berhenti. Menoleh ke belakang dengan segera dan menunggu apa yang akan dikatakan Mahardika padanya. Tetapi, Mahardika jelas tak mengatakan apapun sampai benar-benar dekat dengan Daisy.
“Jadi, kenapa kamu memintaku menunggu?” tanya Daisy dengan tidak sabar.
Sekali lagi Mahardika menghela napas. “Aku hanya ingin mengantarmu keluar!”
__ADS_1
“Tidak perlu!” Daisy menjulurkan kepalanya sedikit dan melihat melalui bahu Mahardika. “Sepertinya ada banyak pekerjaan!”
Karena Daisy menolak, Mahardika tahu kalau tidak bisa memaksa. Jadi ia membantu Daisy menarik pintu dan membiarkan gadis itu pergi.