Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Temukan Apa yang Berbeda (2)


__ADS_3

“Pagi, Stefani!”


Daisy mengangkat kepalanya sedikit dan menemukan Azzam berdiri sambil menyengir di depan pagar rumah. “Pagi!” sahutnya tanpa semangat dan kemudian kembali menundukkan pandangan.


Belum beberapa jam sejam kakek misterius yang bahkan tidak diketahui muncul dari mana dan kemudian menghilang entah ke mana dilihat Daisy. Kepalanya sedikit pusing. Ia jadi tak terlalu awas dengan sekitar karenanya. Dan bukan hanya Maulana saja yang khawatir akan kondisinya sekarang. Azzam yang baru menyapa jadi sedikit ingin tahu, sedikit khawatir juga.


“Daisy, apa kamu mengalami susah tidur?’ tanya Azzam.


Entah bagaimana Maulana sudah ada di samping Daisy, dengan pakaian kerja dan juga tas berisi beberapa alat bantu kerjanya. Ia tak membawa laptop pulang karena merepotkan. Seperti halnya membawa Mahardika ke rumah.


“Kenapa aku harus susah tidur? Tempat tidurku nyaman,” jawab Daisy.


Azzam mendorong motornya dengan kaki, menyesuaikan kecepatan Daisy. “Lalu, kenapa wajahmu jadi begitu? Muram, banyak pikiran? Ada tugas yang tidak selesai?”


Daisy berhenti menoleh pada Maulana yang tak bisa mengejar Daisy, karena harus menunggu Handoko untuk diantar ke rumah keluarga Aghra untuk bekerja. Tatapannya tajam, seolah pedang yang ingin melukai Azzam. Untung saja, Azzam terlalu memperhatikan Daisy kini--mungkin wajah Stefani yang ada di mata semua orang.


Daisy menghentikan langkahnya. “Menurutmu apa yang berbeda dari saya, Azzam?”


“Ah?” Azzam menganga mendengar pertanyaan yang diajukan padanya.


Ia menoleh ke arah Maulana dan Handoko yang akan melaju ke arah yang sama dengan mereka. Apakah ingin bertanya? Begitu pikir Daisy sampai Maulana melewati mereka begitu saja.


“Ti-dak ada yang berbeda darimu!” jawab Azzam sedikit tergagap, tampak tak yakin dengan jawabannya sendiri.


“Kamu ragu! Padahal saya benar-benar ingin tahu!” runggut Daisy.


Kepalanya sakit, pertanyaan yang diajukan si kakek tadi terngiang lagi di telinganya. Akan tetapi, Daisy tak tahu jawabannya dan ke mana ia bisa bertanya. Apa yang berbeda saat itu?


“Kamu mau ke mana! Kampus arahnya bukan ke sana!” seru Azzam keras-keras. Ia menyalakan starter motornya dan melaju mengejar Daisy. Ia berhenti di samping gadis yang sama lagi. “Akan aku tunjukkan dari mana harus berjalan di sini! Kamu akan tersesat jika tidak memperhatikan!” Azzam berujar dengan yakin.

__ADS_1


Akan tetapi, Daisy tidak meyakini itu. Ia menerima sodoran helm dan naik di jok belakang motor Azzam.


Azzam melaju perlahan, berkata angkutan jenis apa yang lewat di depan gang dan menunjukkan hal te tempat berhenti sebelum menyambung dengan kendaraan kampus yang ternyata lewat di depan sana. “Tapi, aku lebih suka kamu ikut denganku saja. Toh, kita searah!”


“Jangan modus!” balas Daisy lekas.


Ia ingat dengan keinginannya untuk menghindari Azzam untuk sementara. Ada masalah yang masih belum selesai di kampus. Hal yang harus diselidiki sehingga jika ia pindah ke tubuhnya kembali, Stefani yang asli tidak akan kesulitan. Yang paling penting adalah mencari perbedaan apa yang menyebabkannya pindah tubuh hampir seminggu yang lalu.


***


Azzam penasaran dengan apa yang dipikirkan Stefani. Gadis itu merenung hampir-hampir tidak tahu kalau ada dirinya di depan. Makanya Azzam berteriak dan mendapatkan lirikan tajam dari Maulana yang keluar di belakang Stefani.


Gadis itu tidak menyahut walau mulut Azzam letih berbicara. Tidak masalah yang penting Stefani mau ikut dengannya. Ia tergelak saat Stefani kembali fokus saat ia menanyakan apakah Stefani mau pulang pergi bersamanya.


“Jangan terlalu banyak bengong!” Ia memberanikan diri mengusap kepala Stefani.


“Bukannya tadi Kak Azzam sama Stefani? Di mana dia?” Andien, gadis yang belakangan sering terlihat bersama Stefani belakangan ini menyapa Azzam saat parkir di tempat khusus motor.


“Ah, dia turun di depan. Kenapa?” tanya Azzam ingin tahu.


“Tidak ada, hanya heran saja. Kenapa diturunkan di depan. Kalian kan sudah pacaran, tidak masalah kalau mengumumkan hubungan.”


Azzam tertawa. Andai saja memang benar begitu. Tetapi, Stefani sudah dengan tegas memberi jarak. “Yah, kalau memang begitu bagus. Tapi, kami tidak pacaran. Tidak juga teman tapi mesra. Hanya berteman saja, seperti yang lainnya.”


“Kenapa? Stefani tidak menyukai Kakak?”


Azzam sama sekali tidak mengerti kenapa hubungannya menjadi menarik buat orang lain. Ia tak perlu dimaklumi apa lagi dikasihani. Toh, perlakukan mereka itu tidak membuatnya menjadi dekat dengan tiba-tiba pada Stefani. Tidak juga membuat gadis itu membuka hati.


“Tidak tahu! Katanya mau berteman saja!”

__ADS_1


“Sayang sekali!” kata Andien pelan.


Sekali lagi Azzam tidak mengerti. Apanya yang dimaksud dengan sayang sekali. Tetapi, ia memilih tidak ambil peduli saat ini. Tidak ada yang berubah kalau ia bertanya atau mendapatkan jawaban dari ketidak mengertiannya.


“Ah, itu Stefani!” Andien berseru.


Azzam menoleh seketika, tetapi tidak ada Stefani seperti yang diserukan Andien di sana. Saat ia menoleh kembali pada Andien untuk menyuarakan ketidak sukaannya atas lelucon itu, Andien tengah bereskpresi terluka  hanya saja tak tahu karena apa.


“Saya permisi ya, Kak!” pamit gadis itu pada Azzam sambil berlari lebih dulu menaiki tangga menuju lobi. Padahal mereka bisa saja berjalan bersisian, toh ke arah yang sama.


***


Semalam, Mahardika dipanggil Papi lagi. Pria yang membesarkan Mahardika itu menanyakan apa saja yang sudah dilakukan untuk meminta maaf kepada Daisy.


Mahardika hanya bisa diam saja, sebab memang tak meminta maaf pada gadis itu. Sebagai gantinya ia mengatakan membawa Daisy makan kemarin, juga mengantarnya pulang. “Awalnya kami makan bersama!” kata Maharrdika pada akhirnya.


Setelah itu senyum Papi terkembang, merasa puas karena sudah mendengar sebuah perkembangan. “Bagus! Harus begitu ... karena kalian akan menjadi suami istri. Harus saling menghargai, memaafkan, dan mengerti.”


Di dalam kepalanya Mahardika berteriak kalau itu bukan Daisy. Semua obrolannya itu membuat Mahardika tidur dengan tidak tenang. Ia bermimpi buruk, terjatuh ke dalam lubang tanpa dasar. Walau ia berteriak tidak ada yang menolongnya.


Mbak Gotik: Tuan bilang Anda bisa datang hari ini.


Pesan itu membawa secercah cahaya di dalam kehidupan Mahardika seketika. Rupanya ia masih bisa berusaha mengembalikan tunangannya ke tempat semula. Semangatnya yang sempat pudar karena seharian kemarin harus harus bertemu dengan Stefani dan mimpi buruk yang menyertai menghilang. Bak embun yang diterpa panas matahari.


Mahardika: Saya akan ke sana. Apakah pagi ini bisa?


Mahardika memperhatikan jam yang terletak di sebelah kanan paling atas layar ponselnya. Jam lima pagi. Ia masih bisa bergegas menjalankan rutinitas dan singgah di rumah orang pintar yang asistennya berpakaian gotik itu.


Mbak Gotik: Silakan. Tuan menunggu Anda.

__ADS_1


__ADS_2