Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Pengakuan Brian (2)


__ADS_3

Brian ternganga, tidak percaya dengan apa yang didengar. Ia mengikuti Daisy dengan pandangan matanya sampai gadis itu masuk ke dalam gedung kampus. Ia mengaruk kepalanya sendiri dan kebingungan.


Saat kemudian ia sadar, perasaan marah dengan cepat menguasai Brian. “Dia bilang membuangku?” Ia tak percaya kalau mengucapkan hal itu sendiri sekarang.


Ia pikir tak boleh membiarkan hal buruk seperti ini terjadi pada dirinya. Maka ia mengejar Daisy yang telah berlari kecil menaiki tangga. Ia tidak menemukan gadis itu di lobi dan menyusulnya naik ke kelas. Ia menemukan Daisy di sana.


BRAK!


Semua orang di ruang kelas termasuk Daisy terkejut saat Brian menghantamkan telapak tangannya pada meja kecil di depan Daisy yang terhubung dengan kursinya.


“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Daisy tidak mengerti. Ia menatap Brian seperti melihat orang aneh di dunia ini.


“Apa maksudmu dengan membuangku. Hubungan kita bukan sesuatu yang bisa kamu tentukan seperti itu. Kamu tidak berhak membuangku dengan cara seperti ini!” seru Brian tidak terima.


Seketika terdengar dengungan di sekeliling Brian karena ucapannya. Tetapi, Brian jelas tidak peduli.


“Tidakkah kamu seharusnya menarik ucapanmu itu. Aku terdengar seperti seseorang yang akan berselingkuh denganmu, padahal kita tidak memiliki hubungan apa-apa!” kata Daisy. Ia menutup sebelah wajahnya dengan telapak tangan.


“Tapi, kamu yang mengatakan itu sebelumnya!” Brian tidak mau disalahkan seperti sebelumnya.


Daisy mengambil napas dan membuangnya secara pelrahan selama beberapa kali. Setelah selesai ia memandang tepat ke pupil Brian tanpa berkedip. “Brian, aku tahu kamu menyukai Stefani. Aku tahu dan Stefani sepertinya juga mengetahui hal itu. Tapi, aku akan katakan ini dengan jujur padamu. Bukan begitu caranya untuk mendekati seorang gadis.”

__ADS_1


“Aku tidak--.”


“Kamu menyangkal dan terus saja menganggunya disaat bersamaan. Apa kamu pernah memikirkan bagaimana rasanya diganggu. Hanya anak kecil yang menganggu orang yang disukai. Karena memang seperti itu mereka berekspresi.” Daisy melihat Brian tersentak dan menegakkan tubuhnya dengan ponggah. Pemuda itu akan menyangkal sekali lagi saat Daisy menghentikan aksi tersebut sebelum terjadi. “Kamu sudah berusia 20 tahun! Kamu harusnya tahu cara mendekati seseorang dengan lebih baik. Kalau kamu menganggunya, kamu hanya akan membuat Stefani melarikan diri!” terang Daisy.


“Aku sudah bilang! Aku tidak suka pada gadis miskin itu!” teriak Brian dengan wajah memerah.


Daisy tidak akan memaksa Brian untuk mengaku. Ia juga tidak akan memaksa Brian untuk melakukan hal lainnya. “Kalau begitu berhenti mengangguku. Aku memiliki sedikit waktu untuk mengerjakan hal seperti menganggu Stefani dengan membulinya!”


Wajah Brian terasa panas. Rasanya ia bisa berteriak kembali, tetapi kini suara bisikan dari seluruh kelas semakin keras saja. Brian hanya bisa menyelamatkan diri untuk pergi ke luar kelas. Kalau bisa tidak masuk kuliah saja saat ini.


“Awas kamu!” ancam Brian sebelum akan pergi.


Kepala Daisy baru saja akan menunduk saat mendengar kalau Brian melancarkan ancaman padanya. Apa katanya tadi, awas? Ia hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala mendengar bunyi ancaman Brian yang sama kekanak-kanakan dengan sikapnya.


“Sekarang mau apa dia? Balas membulliku?” runggut Daisy pelan.


Ia membaca semua catatan yang secara asal-asalan dicatat oleh Stefani saat berada di tubuhnya. Sungguh catatan yang sangat keterlaluan. Bagaimana bisa Stefani bertahan dengan catatan asal-asalan seperti ini di kelasnya sendiri.


“Dai-sy!”


Daisy kenal suara yang menyapanya. Itu Maya, temannya saat sebelum Stefani merasuki tubuh. Ia mengangkat kepala dan melihat Maya memandanganya takut-takut. Entah apa yang ingin dikatakan oleh gadis bernama Maya ini.

__ADS_1


“Apa?” tanya Daisy lekas.


“Nanti siang mau makan siang bersama?” tanya Maya hati-hati. Seolah-olah Daisy adalah ranjau yang akan meledak dengan penekanan suara sedikit saja.


Kata “Bersama” membuat Daisy menyandarkan punggungnya di kursi dan memandang ke belakang Maya, pada para gadis yang berbisik-bisik dan telah mengutus Maya untuk menyampaikan undangan.


“Katakan pada Lola aku tidak tertarik!” jawab Daisy.


Daisy masih mengingat tamparan Lola di pipinya saat meminta maaf atas kesalahan Stefani yang mengamuk. Ia bukan orang yang pendendam, tetapi tidak bisa membiarkan kesewenang-wenangan terjadi, apalagi pada tubuhnya sendiri.


“Daisy, kumohon!” kata Maya dengan nada suara memelas.


“Kenapa kamu yang memohon padaku? Kalau mereka ingin mengajakku makan siang harusnya disampauikan sendiri. Tata krama macam apa ini?” tanya Daisy tidak senang.


Raut wajah dan gesture tubuh Maya semakin gelisah. Akan tetapi, ia tidak memaksa kembali. Ia berbalik untuk pergi ke teman-temannya yang siap meminta jawaban.


Daisy bukan orang yang akan membiarkan kesewenang-wenangan terjadi. “Maya!”


Maya lekas berbalik dengan senang. “Ya!” sahutnya.


“Kamu mau makan siang denganku? Hanya kamu saja, oke?” tegas Daisy di akhir pertanyaannya. Wajah Maya kembali pucat kini.

__ADS_1


__ADS_2