
Hanya ada satu orang yang bisa tiba-tiba muncul seperti ini dan membuat Stefani tidak nyaman. Itu adalah kakek tua yang sudah memberinya cairan biru di dalam botol yang rasanya lebih mirip gula, tetapi sedikit wangi.
“Tentu saja saya sudah berubah! Memangnya Kakek pikir saya akan mengulangi kesalahan yang sama?” tanya Stefani.
Ia perlahan menoleh ke arah suara si kakek. Pria tua itu duduk di dekat pintu balkon memegangi tongkatnya erat-erat. Wajahnya menyiratkan kemarahan yang tidak dipahami Stefani. “Yang satu sudah belajar tentang hubungan keluarga dan lainnya tidak belajar apapun. Bagaimana bisa kalian diberikan kesempatan yang sama tetapi tidak menuai hal yang sama?” Si kakek tua terdengar terkejut.
“Saya tidak mengerti apa yang sedang Kakek katakan.”
“Tidak masalah kalau kamu tidak paham. Aku ke sini bukan untuk menjelaskan apa yang seharusnya kamu perlajari di sini. Aku hanya datang untuk mengatakan padamu kalau kesempatanmu sudah habis.”
“Apa?” Stefani benar-benar terkejut mendengarnya.
Jika kesempatannya sudah habis bagaimana dengan kehidupan yang sedang dijalani kini. Apakah akan berakhir begitu saja tanpa ada bekas. Ia belum menikmatinya dengan benar. Ia belum menyiapkan sesuatu untuk dirinya sendiri. Ia belum menjadi Daisy dan hidup nyaman.
“”Kakek tidak boleh begitu!” teriak Stefani murka.
Si kakek menghempaskan ujung tongkatnya ke lantai. “Stefani, aku memberimu kesempatan karena kulihat sedikit cahaya di hatimu. Saatitu kamu tidak membenci siapapun kecuali dirimu sendiri. Saat kamu telah menjadi Daisy dan berpikir memiliki kesempatan untuk mendapatkan segalanya sebagai orang yang kamu gantkan seluruh cahaya di hatimu tertutup.”
“Saya sama sekali tidak peduli dengan cahaya Kakek. Apa Kakek melihat bagaimana perlakuan ayah dan kakak saya?”
__ADS_1
“Mereka sama terlukanya denganmu! Apanya yang salah dengan itu?”
Stefani tertawa mendengarnya. Ia mengeleng beberapa kali dan kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk. Mulutnya terbuka dan tertutup ingin mengatakan sesuatu seoerti kakek tua yang sudah memberinya harapan kini memnghancurkannya kembali. Rasa pengkhianatan itu sangat menyakitkan dan membuat Stefani kesulitan bernapas.
Si kakek melewati Stefani dan berdiri di ambang pintu. “Pikirkan dengan baik apa yang harus kamu lakukan saat telah berada di tempatkmu semula. Pengantimu sudah melakukan banyak hal untuk merubah kehidupanmu, Stefani.”
“Aku tidak peduli apa yang dilakukannya pada kehidupan yang payah itu!”
Stefani mengambil vas bunga. Pikirannya mendadak menjadi gelap. Kalau tidak ada hal yang bisa dilakukannya lagi untuk tetap berada di dalam tubuh Daisy, Stefani hanya perlu memastikan kalau kakek tua yang memberinya cara untuk bertukar jiwa tertahan.
Vas itu pecah, tetapi tidak melukai si kakek tua.
Seperti kabut yang ditiup angin si kakek tua menghilang tiba-tiba dari hadapan Stefani. Seluruh tubuh Stefani menjadi lemas. Ia tak mau kembali ke tubbuhnya sendiri. Ia belum melakukan kesenangan apapun untuk dirinya sendiri.
***
“Sudah menemukan alasan kenapa kamu bisa kembali saat itu?” tanya si kakek tua yang tiba-tiba saja muncul dan tersenyum pada Daisy saat ia masuk ke dalam kamar.
Daisy terpana. Sekali lagi terkejut dengan kedatangan si kakek tua tiba-tiba. Namun, ia harus menerima semua hal dengan lapang dada sekarang. Jiwanya yang berpindah dari tubuhnya sendiri ke tubuh Stefani saja tidak bisa diterima nalar.
__ADS_1
Daisy mengeleng pelan. “Maafkan saya, Kek, saya belum menemukan apapun. Saya sudah berusaha, tetapi tidak menemukan alasan yang kemungkinannya benar.”
Si kakek memandanganya dengan tenang lalu tersenyum yang membuat perasaan Daisy menjadi nyaman. “Aku tahu tidak akan semudah itu untuk mengetahui alasannya. Tapi, terima kasih sudah berusaha. Aku akan memberikanmu hadiah!” kata si kakek tua.
Daisy menelengkan kepala tidak paham. Ia tidak yakin jika kegagalan juga bisa diberi hadiah. “Terima kasih, Kek.”
“Aku akan pergi sekarang!” Si kakek tua berdiri dan menatap lurus ke depan.
Pria tua itu tidak menatap Daisy sambil tersenyum dan menghilang dengan cara yang mengejutkan untuk Daisy. Ia sedikit takut karena hal itu. Jadi, Daisy memutuskan untuk keluar lagi dari kamarnya.
“Kenapa kamu keluar? Bukannya mau tidur?”
Daisy tidak bisa berkata kepada Maulana kalau ia baru saja melihat seorang kakek menghilang layaknya asap yang tertiup angin di dalam kamarnya. Maulana mungkin akan menganggapnya gila karena mengatakan hal itu.
“Saya haus, Kak!” alasannya.
Padahal ia masih merasakan beratnya teh yang diminum tadi di dalam perutnya.
Daisy dengan senang hati menerima tatapan tak mengerti dari Maulana. Lalu meninggalkan pria itu di belakang secepatnya.
__ADS_1