
“Keputusanku untuk ikut keluar ternyata tepat sekali. Ah ... kamu tidak beranggapan kalau yang kamu lakukan ini salah, kan, Stefani?”
Daisy membelalakan matanya. Akan tetapi, Mahardika yang muncul dengan tiba-tiba tadi dan menjadi tameng untuk dirinya melengah segera. Tampaknya apa yang akan coba dihentikan oleh Daisy, tidak akan pernah dibiarkan oleh Mahardika.
“Be-nar, Mas, Stefani memang sudah keterlaluan!”
“Tidak! Tidak! Aku sedang bicara denganmu. Kamu Stefani, kan?”
“Mas Dika!” Daisy berteriak di belakang segera.
Bayangan kerunyaman yang terjadi di sekitarnya terbayang jelas oleh Daisy. Stefani pasti tidak akan membiarkannya tenang begitu saja jika mengetahui kalau Mahardika sudah tahu semua. Yah, tidak semua, tetapi kurang lebih Mahardika tahu bahwa yang ada di dalam tubuh Daisy adalah Stefani dan dalam tubuh Stefani adalah Daisy.
“Tidak, Daisy! Dia jadi semena-mena karena berpikir aku tidak tahu apa-apa. Jadi, aku harus menerangkan kepadanya. Aku tahu semuanya! Aku tahu kalau dia Stefani dan kamu adalah Daisy.”
Stefani tampak ketakutan. Tetapi, ia mencoba menyamarkan ketakutannya dengan tawa.
“Apa yang sebenarnya Mas Dika katakan? Aku adalah Stefani?”
Mahardika tersenyum simpul. Ia tetap berdiri di tengah-tengah antara Daisy dan Stefani. “Apa kamu tahu hadiah ulang tahun yang aku berikan pada Daisy?” tanya Mahardika.
Ketakutan di wajah Stefani sedikit banyak menghilang, tampaknya ia sudah mencari tahu isi semua kotak hadiah ulang tahun milik Daisy. “Tentu saja, karena aku ini Daisy Mas. Ah ... aku pikir Mas akan membuat lelucon macam apa.”
“Coba katakan padaku!” suruh Mahardika tanpa ekspresi.
Stefani membusungkan dadanya sedikit. “Mas Dika memberiku gaun yang sangat cantik. Raise bilang itu pasti sangat cocok dipakai pada pesta pengumuman pertunangan dua bulan lagi.”
Mahardika tertawa keras-keras. Seluruh tubuhnnya berguncang karena tawa itu.
Wajah Stefani memerah karena hal tersebut. “Ke-napa Mas Dika tertawa? Aku mengatakan hal yang benar kok! Gaunnya disimpan di lemari pakaian. Aku bisa meminta Raise untuk membawakannya kemari!” seru Stefani dengan panik.
__ADS_1
Mahardika mengibaskan tangannya. “Tidak perlu.” Ia berdehem dan memgambil napas panjang beberapa kali sebelum bicara kembali. “Saat kencan kami sebulan lalu Daisy menatap sebuah kalung sederhana di toko emas. Aku bertanya apa yang dia inginkan, tetapi dia menyuruhku menebaknya. Jadi, aku memberikan kalung itu pada Daisy secara sembunyi-sembunyi pada hari ulang tahunnya.”
Stefani mundur karena kagetnya. Ia menatap Daisy dan Mahardika bergantian. “Kalian bersekongkol, kan?”
“Bersekongkol dalam hal apa?” tanya Mahardika. “Membuatmu menjadi tunanganku atau membuatmu diam saat ini. Harap kamu tahu saja, awalnya aku muak dengan tingkah Daisy yang berubah tiba-tiba. Dia seperti bukan orang yang kukenal, tetapi setelah tahu kalau di dalam tubuhnya bukanlah dia yang sebenarnya, aku lega. Karena aku tahu kalau Daisy-ku akan kembali cepat atau lambat!”
Stefani mundur beberapa langkah lagi sebelum berbalik pergi kembali ke rumah utama. Ia tak sekali pun menoleh ke belakang.
“Harusnya Mas Dika tidak melakukan ini!”
Mahardika tersenyum sedih menatap Daisy. “Jadi kamu memintaku membiarkan saja sikapnya itu. Aku tahu dan aku tidak bisa berbuat apa-apa saat dia bersikap seperti dirimu. Aku kesal karena tidak bisa membantu saat kamu diperlakukan dengan tidak adil.”
Daisy paham dengan perasaan Mahardika, tetapi tidak baik memprovokasi Stefani seperti ini. “Terima kasih sudah membantu.” Ia tidak punya pilihan lain selain mengucapkan terima kasih saja sekarang.
“Stefani!”
“A-apa kamu baik-baik saja? Apa kata Nona padamu? Dia tidak memukulmu atau berteriak padamu, kan?” tanya Handoko.
Daisy melirik ke arah Mahardika sedikit. Lalu menatap Handoko lagi. “Tidak, saya tidak mengalami semua itu! Jangan khawatir!” kata Daisy.
Kepanikan di wajah Handoko berganti dengan kelegaan dan kemudian dipelukanya Daisy. Punggung Daisy ditepuk pelan dan dielus. Samar-samar Daisy bisa mendengar lelaki tua itu terisak. Ia tak bisa melakukan apa-apa selain menerima semua perhatian yang diberikan.
“Syukurlah! Aku pikir terjadi hal buruk lagi. Kamu tidak boleh menerima semuanya sendirian, kamu mengerti. Kamu harus menceritakan semuanya pada Ayah!” kata Handoko pada Daisy.
Daisy mengurai pelukan Handoko terlebih dahulu baru mengangguk. Lalu pria tua itu membimbingnya berjalan kembali ke pavilliun dengan hati-hati. Mahardika sendiri berjalan di belakang, tanpa suara. Entah bagaimana ekspresi pria yang menjadi tunangannya dengan tubuh sebenarnya itu.
Begitu Daisy sampai di ambang pintu, Maulana yang duduk sendirian di lantai langsung berdiri, tetapi sama sekali tidak menghampirinya.
“Yah, makanannya jadi agak dingin!” keluh Daisy.
__ADS_1
Ia tak mau ditanya oleh Maulana tentang apa yang terjadi. Kejadian barusan saja sudah membuatnya pusing. Ke depannya entah apa yang akan dilakukan Stefani padanya. Melihat bagaimana marahnya Stefani tadi, pasti itu bukan hal yang baik. Ia harap gadis itu tidak nekat melakukan sesuatu yang berbahaya dengan tubuhnya.
“Malah bagus, kan, jadi tidak perlu tiup kalau makan. Ayo duduk lagi!” suruh Maulana.
Seolah tahu apa yang diinginkan Daisy, pria muda itu meletakan satu sendok nasi di atas piring yang tadi digunakan Daisy, menaruh perlengkapan makannya sekalian. Selanjutnya, Maulana mengambil bagiannya sendiri, porsi lebih banyak dari Daisy.
“Kamu tidak mengambilkan bagianku?” tanya Mahardika saat Maulana sudah selesai dengan piring Handoko.
“Anda memiliki dua tangan yang sehat, Tuan!”
Daisy menatap Mahardika dan Maulana bergantian. Tampaknya kakak Stefani belum memaafkan kejadian di dapur tadi.
“Kalau begitu biar aku yang mengambilkan bagian ....”
“Biar aku saja!” ujar Maulana cepat-cepat. Ia melotot pada Mahardika yang tak merasa bersalah. Malah menikmati semua kekejaman yang diarahkan padanya.
“Maulana, jangan mengisinya sebanyak itu. Aku tidak mau sebanyak itu!” keluh Mahardika saat Maulana dengan kalap meminidahkan nasi dari tempatnya ke piring.
“Astaga ... kamu memang banyak maunya, ya!” Maulana menurunkan separuh nasi ke wadahnya kembali. Lalu menyodorkannya ke arah Mahardika. “Lauknya tolong ambil sendiri dan jangan minta aku menyuapimu!”
Handoko tertawa-tawa kecil melihat pertengkaran kekanak-kanakan Maulana dan Mahardika. Walau tidak lagi seceria awalnya, tetapi suasana sudah semakin baik sekarang.
Daisy ikut senang dan kadang terkaget-kaget dengan tindakan Maulana yang santai pada Mahardika. Dibandingkan bersikap di depan Daisy, Mahardika terlihat seperti manusia normal, ia tertawa dan kesal seperti orang lain.
Maulana bertugas mencuci semua piring kotor setelahnya. Ia melaksanakan tugasnya setelah mengusir Mahardika secara blak-blakan. “Jangan mengantarnya ke depan Stefani! Kamu mungkin akan melihat dia berubah menjadi monster di bawah cahaya bulan!”
Daisy tahu kalau kata-kata Maulana tidak bisa menyakitinya. Akan tetapi, ia mengambil bawang ****** dan mengupasnya. “Kalau dia berubah, aku akan memasukan sebutir penuh ke dalam mulutnya!”
Maulana mengangguk-angguk senang. “Ide bagus! Jangan lupa tendang dia sebelum lari kembali ke pavilliun!”
__ADS_1