Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Kunjungan Mendadak Daisy (1)


__ADS_3

Aida menghempaskan tubuhnya di sofa kusam yang ada di ruang tamu. Kesal. Bahkan ia berniat untuk membuat masalah secara terang-terangan dengan Ibnu. Sebenarnya membuat masalah dengan Ibnu gampang, tinggal tidak harus pulang ke rumah besar yang ternyata bukan milik suami keduanya itu.


“Wajahmu sama sekali tidak sedap dipandang!” kata seorang pria dengan tato hampir menyelimuti seluruh punggungnya.


Aida melirik sedikit dan kemudian mengalihkan pandangan dengan cepat. Ia tak tertarik untuk menimpali karena kepalanya sendiri sudah sakit memikirkan masalah yang datang simpang siur ini.


“Wah, apa aku baru saja diabaikan?” tanya pria itu.


Tangannya dengan cepat menyambar wajah Aida, memaksa untuk menoleh ke arah pria itu kembali.


Aida menepuk punggung tangan wanita itu sendiri, tidak senang dengan apa yang terjadi. “Lepaskan tanganmu! Lepas!’ teriak Aida kesal.


Lelaki itu tertawa. Tetapi tidak melakukan apa yang diinginkan Aida, malahan ia menyarangkan ciuman ke pipi Aida dan juga bibir wanita itu.


Aide jelas tak terima, ia memberikan perlawanan. Ditamparnya pria yang kurang ajar tersebut sekuat tenaga. Tetapi, tampaknya tamparan Aida sama sekali tidak menyakiti pria itu. Sebab pria yang mencium Aida malah tertawa senang.


“Aku tidak suka diabaikan, Aida! Kamu tahu, kan?” kata pria di depan Aidan dengan kemarahan di dalam nada suaranya.


Aida terbebas dan pria di depannya melepaskan tangkupan di pipi. Tetapi, tak benar-benar meninggalkan Aida sendirian. Ia kemudian tidur di pangkuan Aida.


“Kamu tidak boleh bersikap begini padaku, kan? Bagaimana kalau ada seseorang yang melihat ini dan melaporkanku pada Ibnu. Masalah akan terjadi jika Ibnu tahu. Kamu sendiri yang bilang kalau aku harus jadi istri yang baik dan ibu yang dicintai.”

__ADS_1


“Tapi, sudah hampir 9 tahun dan gadis itu tidak terpengaruh, kan? Aneh sekali anak yang kehilangan ibunya di masa kecil sama sekali tidak terusik dengan kebaikan hatimu!” Pria yang ada di pangkuan Aida menimpali segera. “Lalu, aku tidak pernah merasa menceraikanmu!”


Kening Aida berkerut. Ia ingin sekali menampar mulut pria di pangkuannya kini. Pria itu yang sudah mengatur pertemuan Aida dan Ibnu. Kalau saja Aida tidak cinta pada pria berandal itu, mana mau dia melakukan penimpuan sampai selama ini.


“Dia hanya lebih sensitif dibandingkan dengan ayahnya!”


“Bukan karena aktingmu yang buruk?” tanya pria di pangkuan Aida.


Aida mengisi paru-parunya dengan oksigen. Ia ingin bertanya akting yang bagaimana lagi yang lebih bagus dari yang dilakukan. Hampir 9 tahun dan Ibnu bahkan tidak menyadari kenapa Aida sama sekali tidak pernah hamil. Ibnu hanya percaya saja saat Aida mengatakan ingin mencurahkan kasih sayangnya pada Daisy seorang. Kehadiran anak lain di dalam kehidupan Aida hanya akan membuat hubungannya dengan Daisy semakin rumit saja.


“Abaikan itu ... Ibnu tiba-tiba saja bertanya padaku tentang uang.”


“Dia tidak mengatakan dengan jelas, tetapi dia mempertanyakan untuk apa uang itu sebenarnya!”


“Bukankah bulan-bulan sebelumnya tidak masalah?”


“Tarco, bulan-bulan kemarin kamu tidak meminta uang sebanyak itu. Aku hanya perlu kehilang cicin berlian atau sebelah anting supaya bisa mengirimkan uang. Tapi, kamu meminta nominal yang mencurigakan. Aku sendiri ingin bertanya, ke mana kamu membawa semua uang itu?” tanya Aida.


“Aku melakukan investasi!” jawab pria bernama Tarco itu.


“Investasi? Investasi macam apa? Jangan macam-macam oke. Kita belum mendapatkan apa yang kita inginkan. Jika sudah, aku tidak akan bertanya ke mana kamu membawa semua uang itu!”

__ADS_1


Tarco menoleh pada Aida dengan tidak senang. “Kadang-kadang kamu sangat menyebalkan Aida. Uang sejumlah itu tidak seberapa untuk keluarga Agrha. Kenapa kamu jadi mempermasalahkannya?”


“Daisy curiga sejak awal padaku. Aku tidak mau dia mengawasiku karena hal ini. Instingnya kuat sama dengan mendiang ibunya, jadi aku hanya ingin cari aman!” terang Aida.


***


Karena khawatir Aida melakukan hal yang sama pada bendahara di kantor, Ibnu pergi sekitar jam dua untuk mengecek. Dari pelayan sekitar pukum empat, Daisy tahu kalau Aida juga keluar setelah Ibnu pergi. Karena itu Daisy agak ingin tahu ke mana Aida pergi.


“Nyonya belum pulang juga?” tanya Daisy pada pelayan yang berpapasan dengannya di ruang tengah.


Pelayan itu mengeleng.


Daisy menyuruh pelayan itu pergi. Rasa penasaran hanya membuatnya semakin tidak tenang. Maka ia memutuskan untuk pergi ke taman dan berjalan-jalan sebentar. Akan tetapi, ia hampir menabrak Aida di depan pintu masuk.


“Kamu mau ke mana dengan tergesa-gesa itu Daisy?” Aida bertanya dengan wajah penuh senyuman.


Wajah penuh senyuman yang membuat Daisy kesal setengah mati. Kenapa Aida tidak menatapnya dengan pandangan jijik saja, alih-alih dengan tatapan sok ramah begitu.


Walau Daisy pernah mendengar kalau tidak semua ibu tiri itu jahat, perasaan tidak nyaman karena menjadi orang asing di dalam sebuah lingkungan tidak akan mungkin seketika berubah. Apa yang dilakukan oleh Aida sangat tidak wajar.


Daisy melihat Handoko berjalan tidak lagi dengan pakaian kerja. Ia tampaknya akan memasukan mobil ke dalam garasi dan kemudian pulang. “Aku ada janji dengan Pak Handoko. Aku pergi dulu, Ma!” jawab Daisy tak kalah ramahnya.

__ADS_1


__ADS_2