
“Stefani! Kemari kamu!”
Dosen memanggil Stefani setelah kelas berakhir. Aneh sekali, karena Stefani yakin kalau ia tidak melakukan kesalahan. Ia membereskan barang-barangnya dengan cepat dan kemudian menyelempangkan tasnya sambil berjalan ke depan. Beberapa orang mahasiswa menoleh untuk melihat Stefani saat dirinya lewat.
“Ya, Pak?” Stefani mendekat, sedikit khawatir dan berdiri dengan canggung di depan dosen.
“Pertama, kamu bahkan tidak berkonsentrasi dengan materi yang saya sampaikan di ruang kelas hari ini. Kedua, bagaimana bisa kamu mengerjakan tugas dengan cara asal-asalan seperti ini?” Dosen itu melemparkan map warna biru ke atas meja. Ada nama Stefani di map.
Stafani menginggat-ingat map tersebut dan yakin bukan dirinya yang mengerjakan. Ini pasti adalah setoran tugas dari Daisy saat berada di dalam tubuhnya. Ia juga tidak bisa menyangkal kalau bukan dirinya yang sudah mengerjakan tugas.
“Ada sedikit masalah, Pak, jadi saya kurang maksimal dalam mengerjakannya!” Stefani akhirnya memberikan alasan sekenanya.
“Tidak maksimal! Apa kamu tidak dengar apa yang baru saja saya katakan. Kamu mengerjakannya dengan asal-asalan! Kamu tidak ada niat lagi untuk mendapatkan nilai yang bagus dari kelas saya, ya?” Si dosen menuding Stefani segera.
Dosen satu ini terkenal tegas. Akan tetapi, baru kali ini Stefani ditekan sampai seperti ini. Biasanya pria ini menerangkan dengan lebih baik apa yang tidak dikerjakan mahasiswa dengan baik.
“Bukan begitu, Pak, saya hanya ada sedikit masalah saja, kok!” Stefani kembali memberi alasan yang kemungkinan bisa diterima dosennya ini. “Saya akan mengulangi pekerjaan ini dan menyerahkan hasilnya besok!” Stefani dengan segera membuat janji.
“Tidak perlu! Kamu kerjakan saja tugas yang saya minta tadi!” Si dosen membuang napas. Ia menyusun seluruh modulnya yang masih berserakan dan mengambil tas kerjanya. “Kamu sedang pacaran, ya? Karena itu sama sekali tidak tertarik dengan nilai lagi?” tuduh si dosen pada Stefani.
Stefani terkejut. Memang apa hubungannya masalah pribadi dengan si dosen satu ini? Ia memandang ke sekeliling dengan cepat dan menyadari kalau hanya tinggal sendiri saja di ruangan kelas saat ini.
“Maaf, Pak, apa masalahnya, ya?” tanya Stefani menekankan kesopanan dengan sangat baik. Ia mengatakan kalau akan mendapat masalah jika kehilangan kendali sekarang.
“Kehidupanmu sudah sulit! Saya harap kamu memilih orang dengan baik dan jangan asal-asalan saja!” Setelah mengatakan hal seperti itu, Stefani ditinggalkan begitu saja.
Stefani berdiri bak patung untuk waktu yang cukup lama. Ia tidak mengerti kenapa mendapatkan perlakukan seperti ini dari dosen yang bahkan tidak tahu bagaimana hidup Stefani.
__ADS_1
Mungkin yang dikatakan oleh dosen itu benar. Hidup Stefani sudah cukup sulit sekarang dan ia harus dengan hati-hati memilih apapun di dalam hidupnya. Entah itu berupa sebuah pekerjaan atau hanya buku apa yang akan dibelinya hari ini sebagai bahan untuk skipsi. Tetapi, orang lain jelas tidak bisa mendikte kehidupan Stefani seenaknya.
Ia jadi ingat hal menyebalkan yang dialaminya karena Daisy di kafe tadi. Bagaimana gadis yang bahkan tidak pernah merasakan pahitnya dunia berkata kalau Stefani harus berubah. Daisy jelas hanya sebentar saja menjadi dirinya kemarin ini. Gadis itu tidak berhak sok tahu.
“Aku benar-benar tidak habis pikir! Bagaimana bisa orang lain dengan begitu mudahnya ikut campur dalam hidupku begini!” keluh Stefani.
Ia memutuskan untuk pulang sekarang. Benar-benar pulang dan kemudian mengurung diri.
***
Jika kamu tidak mau urusanmu dicampuri maka jangan mencoba mencampuri urusan orang lain.
Itu adalah jenis hukum tidak tertulis yang seharusnya sudah dihapal oleh Daisy sejak lama. Seharusnya ia sudah tidak terganggu lagi dengan apapun yang terjadi di dalam kehidupannya. Daisy sudah menjadi bahan tontonan orang lain sejak lama, kenapa ia harus merasa kesal saat ditanya oleh Handoko.
Kekesalannya ditunjukkan dengan sangat jelas. Daisy membanting pintu mobil tanpa mengatakan apa-apa pada Pak Handoko dan dengan wajah masam melintasi sisa pekarangan hingga sampai di teras.
“Apa terjadi sesuatu?” Daisy disapa oleh satu-satunya orang yang tak ingin ditemuinya saat ini.
“Bahkan rasa sopan santunmu sudah tidak ada lagi sekarang, ya? Bagaimana pun aku ini ibumu!”
Daisy ingin tertawa dan menoleh ke pada wanita yang baru saja mengukuhkan posisinya secara verbal pada Daisy. “Saya sangat tahu!” Daisy menjawab pelan dan penuh penekanan.
Diperhatikannya pakaian yang dikenakan ibu tirinya sekarang. Sebuah dres yang tidak cocok dengan usianya. Kalung dan aksesoris lain yang digunakan juga terlalu mencolok.
“Apa Papa tahu kalau Anda hampir seperti toko perhiasan berjalan saat keluar rumah?” Dahi Daisy berkerut saat mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.
Wanita yang jadi ibu tiri Daisy tidak menjawab. Ia memindahkan letak tas jinjinya dan kemudian meninggalkan Daisy begitu saja.
__ADS_1
Daisy hanya bisa memandangi kepergian wanita itu sampai menghilang dari balik pintu. Begitu ia yakin kalau ibu tirinya tidak akan kembali Daisy melambai pada seorang pelayan yang sedang mengelap porselen di ruang tamu.
“Ya, Nona?” Si pelayan berlari kecil menemui Daisy.
“Apa Nyonya Aida sering keluar rumah dengan perhiasan seperti itu?” tanya Daisy.
Si pelayan menoleh melalui bahu Daisy sebelum memberikan jawaban. “Kata pelayan lainnya begitu Nyonya. Terus nanti pasti hilang satu!”
“Ah, hilang satu? Maksudnya?” Daisy kurang paham dengan apa yang disampaikan pelayannya.
“Begini Nona. Nanti saat kembali Nyonya Aida kan melepas seluruh perhiasannya dan kemudian di tata kembali oleh pelayan yang khusus mengurus pernak-pernik, katanya selalu saja ada yang hilang!”
Alis Daisy terangkat seketika. Ia yakin Aida pergi dengan menggunakan mobil. Jadi alasan dijambret dan jatuh di jalan pasti tidak ada.
“Ya, sudah, terima kasih, kamu bisa kembali kerja!”
Si pelayan menunduk pada Daisy dan ia berlalu pergi.
Raise pelayannya sendiri menyambut Daisy di ruang tamu lantai atas. Raise tampaknya baru saja selesai membersihkan kamarnya sendiri.
“Menurutmu bagaimana sebuah perhiasan bisa menghilang setelah digunakan Raise?” tanya Daisy tanpa maksud sama sekali.
Ia senang tidak harus bertemu dengan papanya dan hanya bertemu dengan Aida saja. Ia benci memikirkan harus bersikap seperti apa pada pria yang sudah membesarkannya seorang diri.
“Kalau tidak jatuh ya dicuri, Nona!” jawab Raise.
Raise membukakan pintu balkon supaya udara alami bisa masuk.
__ADS_1
“Ada satu lagi, Raise. Kamu bisa menyerahkannya pada orang lain dan tidak ada yang akan tahu selama kamu tidak buka mulut sendiri atau dibuntuti!”
Daisy pikir sebaiknya ia menyewa seorang detektif sekarang!”