Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Pindah (1)


__ADS_3

Baru saja Mahardika akan berkonsentrasi mengerjakan berkas yang ada di tangannya. Sendok Stefani akan mengarah ke mulutnya. Mau tak mau Mahardika membuka mulut supaya gadis itu tak membanting makanan ke atas berkas.


“Hentikan ini Stefani!” bisik Mahardika memperingatkan.


“Kenapa? Ini adalah yang dilakukan oleh pasangan. Aku ingin mencobanya setidaknya sekali!” Stefani tampaknya telah memperoleh banyak sekali alasan supaya bisa melakukan apa yang diinginkan.


“Kita bukan pasangan!” kata Mahardika memperingatkan.


“Akan kuingatkan Mas Dika. Kita ini pasangan, siapa yang akan mengatakan bukan jika aku bertanya pada mereka?”


Mahardika terasa terjebak oleh Stefani. Tetapi, juga tidak bisa melarikan diri di hadapan Maulana sekarang. Ia juga tak bisa menyuruh Maulana yang menginginkan izin pulang cepat karena ingin pulang cepat.


“Jangan membuat ini sangat rumit Mas. Tolong terima saja apa yang aku berikan!” kata Stefani.


Padahal wajah yang ada di depan Mahardika adalah milik Daisy, tetapi tampak menyeramkan sekarang hingga membuat bulu kuduknya meremang. Ia tidak tahu kenapa bisa jadi seperti itu. Seharusnya seorang gadis seperti Stefani tidak melakukan hal-hal seperti ini. Bukankah Stefani yang pernah ditemuinya adalah gadis yang tampak ramah dan akan terluka dengan satu kata-kata saja.


Mahardika memandang sedih ke arah Maulana yang bersungguh-sungguh. Bahkan saat kuliah dulu Maulana akan berlari meninggalkan apa yang sedang dikerjakannya jika mendengar kalau adik perempuannya diganggu seseorang pada masa OSPEK.


“Kamu memiliki banyak hal yang tidak dimiliki Daisy, Stefani.” Mahardika masih berkata dengan pelan.


Suasana lumayan hening sehingga kemungkinan Maulana mendengar pembicaraannya lebih besar. Akan tetapi, saat diliriknya kembali Maulana masih berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaannya.


“Maksud Mas Dika ketidak beruntungan? Yah, aku tahu kalau itu.”


Untungnya Stefani sudah tidak punya lagi makanan yang akan dipaksanya untuk dimakan Mahardika.


“Kamu punya Kakak dan Ayah yang sangat menyayangimu maksudku!”


Stefani terbatuk dan tertawa tanpa mempedulikan keberadaan orang lain di kantor Mahardika. Tawa itu cukup lama bertahan sehingga Mahardika ingin sekali menggunakan tangannya untuk menutup mulut gadis yang memakai tubuh Daisy untuk melakukan itu.

__ADS_1


“Jangan bercanda Mas Dika. Kakak dan ayahku tidak sebaik kelihatannya dan mereka bukan sesuatu yang perlu aku banggakan!” tegas Stefani sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Mahardika. “Karena Mas Dika sudah mulai melantur, sebaiknya aku pergi sekarang!” Stefani berdiri dari duduknya dan menepuk-nepuk pangkal pahanya untuk memperbaiki lipatan gaun.


Mahardika juga berdiri dari duduknya tampak sangat lega karena tidak harus bersama Stefani lebih lama lagi.


“Tidak mau mengantarku ke lobi?” tanya Stefani tiba-tiba.


“Untuk apa aku melakukan itu?” tanya Mahardika tidak mengerti.


Yang di depannya adalah Stefani dan bukan Daisy yang asli, kenapa ia harus berbaik hati untuk meluangkan waktunya.


“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa!” lambai Stefani berlebihan dan pergi menuju pintu.


Stefani berjalan ke pintu dan berhenti dengan tangan yang memegang gagangnya. “Kak Maulana, bukankah Stefani dipanggil ke ruang kerja kemarin malam? Apa dia baik-baik saja?”


Wajah Maulana memucat. Lalu entah kenapa Mahardika terobsesi untuk menyeret Stefani yang asli pergi segera dari tempat itu.


***


Obat yang diberikan oleh Maulana dan Handoko tampaknya sangat baik. Atau memang yang dibutuhkan Stefani sebenarnya sejak awal hanyalah istirahat yang cukup.


Ia berdiri dan merengangkan otot-ototnya supaya semakin terasa nyaman dan lekas pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Ia tak berani untuk mandi karena baru saja merasa baik-baik saja.


Setelah merasa kalau keadaan wajahnya baik-baik saja kecuali mata yang sembab yang tersisa, Daisy pergi ke depan meja rias memerika ponselnya. Ia terkejut ketika melihat waktu menunjukkan pukul sepuluh.


Daisy meletakan kembali ponselnya dan bergegas ke luar kamar, memastikan kalau ia masih bisa membantu berkemas. Akan tetapi, tas-tas dan kotak kardus sudah ada di ruang tamu. Dapur telah rapi, bahkan rak piring kecil yang letaknya di atas bak cuci telah dilepas dan siap diangkut kapan saja. Isi kulkas telah aman berada di dalam kotak besar yang terbuat dari plastik.


Di atas meja Daisy menemukan catatan dengan tulisan yang kurang rapi. Sepertinya dibuat oleh Handoko.


Makanlah kalau kamu sudah bangun. Jangan lupa minum obat kembali. Ayah akan kembali saat makan siang. Jangan kerjakan apapun selain mengemas pakaianmu. Oke?

__ADS_1


Daisy mengambil makanan yang tampaknya disiapkan dengan agak tergesa-gesa. Isinya roti selai coklat dan stowberi. Untuk saat Daisy sama sekali tidak memiliki keluhan soal apa yang akan dimakan. Ia bahkan tak bisa membantu sama sekali.


Ia menemukan tas kain besar yang masih kosong di atas sofa ruang tamu saat berhasil menghabiskan satu roti lapis. Ia meminum obat yang sudah disediakan terlebih dahulu sebelum kemudian mengigit roti lapis keduanya dengan penuh semangat.


Piring kertas yang digunakan untuk meletakan roti di masukan ke dalam kantong besar yang terletak di dekat pintu. Isi kantong itu sampah.


Daisy meraih tas dan pergi ke kamarnya kembali. Ia menemukan tas plastik kecil yang kosong dan tampaknya dulu adalah bekas tempat pensil. Dipastikan benda itu bersih terlebih dahulu sebelum kemudian mengisinya dengan semua jenis perawatan kulit yang ada di meja rias. Begitu selesai mengemasi meja rias, Daisy memasukan tas make up yang dulunya adalah tempat pensil itu ke dalam tas, terletak paling bawah.


Lalu diambilnya semua pakaian di dalam lemari yang tergantung dan terlipat. Disusunnya dengan hati-hati ke dalam tas. Untung tas kain itu besar, sehingga kemampuan Daisy yang payah menyusun tidak terlalu kelihatan. Begitu semuanya muat ke dalam tas, Daisy merasa bangga atas usaha yang sudah dilakukan.


Ia mengangkat tas tersebut ke ruang tamu dan duduk di sana selama beberapa saat.


“Ah, kamu sudah bangun rupanya. Ayah pikir masih tidur,” sapa Handoko.


Daisy menoleh cepat dan merasa sangat malu. “Harusnya Ayah membangunkan saya tadi.”


“Kenapa harus membangunkan kamu? Ayah bisa mengerjakan semuanya sendiri dengan cepat. Lagi pula kamu masih sakit,” kata Handoko. “Kamu sudah minum obatnya? Sudah makan semua rotinya, kan?”


“Ya, Ayah, saya sudah menghabiskan semuanya. Apa Ayah mau saya bikinkan makan siang?” tanya Daisy


Daisy lekas menyadari kalau semua bahan makanan mereka ada di dalam kotak dan akan memakan waktu kalau mengeluarkannya untuk memasak.


“Tidak apa, kakakmu bilang dia akan pulang untuk mengantar makan siang!”


“Syukurlah! Ayah pasti lapar. Harusnya tadi saya tidak meghabiskan rotinya.”


“Kenapa tidak dihabiskan? Ayah bikin buat sarapan kamu loh! Lagi pula kita mau pindah hari ini, jadi tidak masalah kalau siang ini dan nanti malam beli makanan saja!’


Daisy tersentak. Padahal kemarin ia meminta lusa saja untuk pindah. “Kenapa tidak jadi lusa, Yah?” tanya Daisy penasaran.

__ADS_1


“Mungkin saja kamu akan sakit lagi kalau pindahnya lusa. Lebih baik kamu istirahat di rumah baru saja dari pada di sini,” kata Handoko dengan wajah sedih.


Sebaiknya Daisy tidak bertanya lebih jauh lagi. Sebab ia juga tahu kenapa wajah Handoko menjadi murung seperti itu.


__ADS_2