
Begitu Mahardika sampai di halaman, ia pikir perlu turun dari mobil dan menyapa papa dan mama Daisy yang mungkin ada di ruang makan. Ia telah melihat tunangannya itu di teras, berjalan dengan tergesa-gesa. Mahardika turun dari mobil menyambut tunangannya itu.
“Ada apa? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Mahardika cemas.
“Ada yang aneh pada Papa!” Daisy melewati Mahardika dengan cepat dan menarik pintu mobil. “Tiba-tiba saja Papa jadi perhatian tidak seperti biasanya. Mas Dika tahu kan bagaimana Papa memperlakukanku?” tanya Daisy.
Wajah yang memandang Mahardika tampak pucat. Sikap aneh yang dikatakan Daisy membuat Mahardika penasaran. Ia ingin masuk ke dalam dan melihat dengan mata kepala sendiri.
Kaca mobil diturunkan tiba-tiba. “Kenapa Mas Dika masih di luar?” Daisy bertanya sambil melirik pintu rumah. “Ayo kita pergi, nanti Papa keburu keluar!” desaknya.
Mahardika tidak mau Daisy merasa lebih tertekan lagi. Jadi ia mengurungkan niatnya. Cepat atau lambat Mahardika akan melihat sendiri keanehan yang membuat Daisy panik. Jadi ia tak usah terlalu memaksa gadis yang dalam keadaan takut itu saat ini.
“Jadi, kamu mau kuantar ke mana sekarang?” tanya Mahardika.
“Kampus!”
“Baiklah, Nona! Apa Nona cantik sudah sarapan?” tanya Mahardika.
Wajah Daisy menjadi merona sedikit, lebih baik dibandingkan baru berjumpa dengannya tadi. Gadis itu menutup mulutnya dengan tangan dan tertawa kecil. “Sudah! Makanya aku tadi merasa aneh sekali Mas. Tiba-tiba Papa bertanya tentang keadaan kuliahku. Padahal jangankan bertanya, melihatku makan di ruang makan saja Papa akan mengernyit!” Daisy mulai bercerita.
“Wajar jika orang tua menanyakan bagaimana keadaan sekolah putrinya Daisy. Jangan membuat papamu terlihat sangat jahat!” kata Mahardika pelan.
“Tidak. Sama sekali tidak wajar, Kak! Ini aneh kalau mengingat hampir 8 tahun Papa mengabaikanku!”
__ADS_1
Tiba-tiba saja Mahardika merasa yakin kalau ada alasan dari sikap Ibnu, papa Daisy. Seingatnya papa Daisy yang menghubungi papi Mahardika lebih dulu saat tubuh tunangannya ini bertukar dan Mahardika menampakan ketidak sukaannya. Papa Daisy membuat Mahardika terlibat masalah dengan papinya.
“Baiklah, aku tidak akan mencoba membela papamu atau juga dirimu! Karena aku tidak tahu apakah memang seperti itu hubungan kalian. Jadi, biar aku mengantarmu ke kampus dengan aman.” Mahardika menghentikan semua kegelisahan Daisy dengan cepat. “Apa kamu mau aku menjemputmu saat pulang juga?”
“Tidak! Pak Handoko akan menjemputku saat pulang kuliah nanti!” Daisy menjawab.
Jalanan membawa Mahardika lebih jauh dari rumah Daisy. Ia berhenti di dua persimpangan karena lampu merah dan memasuki kampus Daisy dengan cepat. Di jalan Mahardika melihat Stefani tengah jalan kaki sendirian.
“Tidak mau memberikan tumpangan?” tanya Daisy yang ternyata juga sadar jika ada Stefani di jalan.
“Tidak!” jawab Mahardika yakin. “Sebaiknya aku tidak memberikan tumpangan dan bersikap baik pada lawan jenis.”
Daisy tertawa mendengarnya. “Pengalaman, ya?” goda tunangan Mahardika itu.
“MAS DIKA!” teriak Daisy hiteris.
Mahardika tertawa penuh kemenangan.
***
“Wah, aku pikir kamu mau cerai sama Mas Dika, Daisy!”
“Cerai? Nikah saja belum kok bisa cerai?” timpal Daisy lekas. Ia tak mau ikut dengan lelucon Brian. Entah mengapa ia memiliki firasat kalau akan secepatnya terlibat masalah dengan pria ini. “Tumben menyapaku lebih dulu. Kamu kan golongan orang yang berharap hal buruk terjadi padaku?” sindir Daisy lekas.
__ADS_1
“Jahat sekali kedengarannya. Kita kan sudah jadi patner!” Brian tertawa-tawa. Ia mendekat dan merangkul bahu Daisy erat.
Daisy terpana, mendorong tubuh Brian supaya menjauh darinya. Matanya mengitari sekitar untuk melihat orang-orang yang tertarik dengan hal yang terjadi pada dirinya. Untung saja tidak ada orang di dekat mereka saat ini.
“Jangan sok akrab denganku!” tegurnya.
Kening Brian berkerut mendengar perkataan Daisy. “Apa aku harus berakting supaya marah padamu sekarang? Atau saat ini kamu menjadi aneh dengan tiba-tiba?” tanya Brian.
“Brian ... walau pun kamu dan aku berada di kelas yang sama. Kedua orang tua kita mengenal dan kamu sering datang ke rumah hanya untuk menganggu Stefani saja, tetapi kita tidak sedekat itu!” tegas Daisy.
“Aku paham itu, oke? Aku bersalah karena tidak berhasil menyelesaikan tugas darimu! Tapi kamu harusnya tidak terlalu kejam padaku!” seru Brian tidak terima.
“Jangan mengada-ngada!” Daisy akan meninggalkan Brian untuk pergi ke kelasnya sekarang.
“Bukan salahku kalau para pembuli itu akhirnya menyerah untuk menganggu Stefani!” Kedengarannya Brian sedang membela dirinya.
Namun, bagi Daisy pemuda itu sedang mengaku apa yang beberapa hari lalu dilakukannya. Daisy mengingat rasa sakit karena didorong. Rasa sakit karena ditarik. Dan begitu banyak rasa sakit lainnya.
“Aku tidak pernah memintamu melakukannya!” kata Daisy dingin.
“Jadi kamu membuangku karena sudah tidak berguna lagi?”
Yang paling parah adalah kemarahan yang dirasakannya kepada Stefani. Ia berusaha keras untuk menjaga dirinya yang bertugas sebagai gadis itu sementara pemilik tubuh dengan sengaja membuatnya celaka.
__ADS_1
“Ya, aku membuangmu!” Daisy tidak punya hal lain yang bisa dikatakannya kini.