Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Orang Pintar?


__ADS_3

Rumah yang mereka berdua datangi--Mahardika dan Maulana--terletak di pinggiran kota. Rumah besar yang semi permanen, tampak apik dengan segala perabotan tua yang terbuat dari kayu jati. Aroma bunga melati dan mawar seketika tercium saat Mahardika dan Maulana memasuki halaman. Di depan pagar besi yang tampaknya baru dicat beberapa bulan lalu, terpampang pemberitahuan: Mobil Parkir di Luar.


“Anda Tuan Mahardika yang menelepon tadi?”


Entah dari mana perempuan itu muncul, tiba-tiba saja sudah ada di ambang pintu rumah. Mengunakan pakaian gotik serba hitam, begitu juga dengan pewarna bibirnya.


“Saya Mahardika yang menelepon tadi!” Mahardika maju selangkah, meninggalkan Maulana di belakangnya.


Maulana menarik Mahardika untuk mundur kembali. Mahardika menoleh padanya, tatapan kakak Stefani itu tampak waspada.


“Apa?” tanya Mahardika dengan cara berbisik.


“Ayo kita kembali saja. Kenapa kamu malah terlibat dengan hal aneh seperti ini. Astaga, apakah aku harus melindungimu dengan cara seperti ini juga?” tanya Maulana tampak frustrasi.


Mahardika meletakkan tangannya di bahu Maulana. Percaya atau tidak sudah ada kejadian yang buruk terjadi dan mau tidak mau Mahardika harus membantu Daisy untuk menyelesaikannya. Ia tak bisa terus-terusan melihat hal buruk dilakukan Stefani dengan tubuh Daisy.


“Baiklah ... baiklah! Aku akan ikut ke dalam juga! Kalau ini menjadi semakin aneh, aku akan berhenti!”


Mahardika tersenyum. “Terima kasih! Aku selalu bisa mengandalkanmu!”


Gadis itu tetap berdiri di pintu masuk sampai keduanya mendekat. Setelah itu barulah ia berjalan dengan langkah-langkah kecil mendahului Mahardika dan juga Maulana.


“Tuan sudah menunggu Anda di dalam! Dia senang Anda mengubungi. Katanya dia sudah menunggu Anda datang sejak seminggu lalu!” kata wanita yang menyambut dengan pakaian gotic itu.


Mahardika agak tidak mengerti. Kenapa orang yang tidak dikenal menanti dirinya. Jelas kalau bukan karena Daisy yang mengalami masalah, mahardika tidak akan mencoba mencari tahu orang pintar ini. Persisnya jika ia tidak tahu apa yang sebenarnya dialami Daisy.


Mereka berdua di antara ke ruangan yang lebih dalam. Pintunya terbuat dari kayu jati. Sama-sama ada lilin aroma yang tercium berasal dari suatu tempat. Beberapa boneka yang tampak aneh terpanjang di lemari yang ada di pintu masuk. Juga guci-guci besar yang tampak kusam sepanjang jalan.


Ajaibnya adalah si gadis dengan pakaian gotik begitu mudah mendorong pintu yang terlihat besar dan berat tersebut hingga terbuka. Mahardika sampai beranggapan kalau pintu itu sebenarnya tak seberat kelihatannya. Kalau tidak bagaimana mungkin  begitu mudah melayang terbuka.


Tanpa sepengetahuan gadis itu, Mahardika mencoba menarik gagang pintu. Ia takjub dengan kekuatan besar yang dimiliki gadis berpakaian gotik. Ruangan di dalam rumah terkesan tua dan berdebu, seperti Mahardika didorong masuk ke dalam sebuah dunia lain yang tak disukai.

__ADS_1


Gadis berpakaian gotik sama sekali tidak menoleh ke belakang, betapa terpananya orang-orang yang dibawa.


“Masuklah ke sini dan duduk, saya akan memanggil Master!”


Maulana terbatuk. Mahardika lekas saja menoleh kepada temannya itu. Pria yang menjadi kakak Stefani sedang berusaha keras untuk menahan tawa supaya tidak menyakiti seseorang.


Akan tetapi, gadis berpakaian gotik sama sekali tidak peduli. Ia membiarkan Mahardika dan Maulana melewati ambang pintu, menoleh pun tidak. Kemudian berlalu begitu saja dengan daun pintu yang terbuka lebar.


“Yang kamu lakukan sama sekali tidak sopan, Maulana!” Mahardika mendekatkan diri ke arah Maulana.


Pria yang masih saja menahan tawa ini mengibar-ngibaskan tangan, meminta waktu supaya bisa mengedalikan diri sebelum menoleh dengan pasti ke arah Mahardika kembali. Kelelahan di wajah Maulana banyak berkurang saat menatap Mahardika. Tampaknya ia terhibur dengan tempat yang mereka datangi.


“Ini lelucon, Mahardika!” Maulana dengan terang-terangan berkata.


Mahardika melirik ke ambang pintu, memastikan kalau orang pintar yang ditemui tidak ada di sana dan kemudian mengusir mereka. “Tidak, kita memerlukan ini?”


Kepala Maulana teleng ke kiri dan kanan mendengarnya. Ia jelas tak yakin kalau membutuhkan bantuan sejenis manusia yang percaya padahal hal di luar logika. Maulana mungkin sangat percaya dengan keberadaan Tuhan, hanya itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.


Mahardika tidak bisa menjelaskannya sekarang. Tetapi, cepat atau lambat seperti hal dirinya Maulana akan tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mungkin saja berterima kasih karena sudah dibawa kemari.”


“Kamu akan tahu nanti!” jawab Mahardika.


Maulana membuka mulut kembali, bermasud untuk bicara, tetapi daun pintu diketuk seseorang dan serempak keduanya menoleh ke asal suara. Seorang pria yang beda usianya sekitar sepuluh tahun dari mereka berdiri di ambang pintu dengan si gadis gotik di belakangnya.


Keduanya lantas berdiri tanpa aba-aba saat pria yang dipanggil Master oleh gadis gotik masuk ke dalam. Ia duduk di kursi tunggal dengan lengan-lengan panjang yang anehnya tampak cocok.


“Sepertinya kalian memiliki kebingunang yang parah!”


“Tidak!” jawab Maulana.


“Sedikit dan saya harap mendapat jawaban!” ujar Mahardika.

__ADS_1


“Jawaban hanya bisa jika kita tahu asal mula masalahnya! Tidakkah Anda mencoba mencari tahu pada si pangkal apa masalahnya?”


Mahardika tidak tahu apakah yang dibicarakan oleh master gadis gotik ini adalah msalah yang sama dengan yang dimaksud.


“Dia bilang mencintai saya!”


Drrrt!


Suara gesekan antara kursi dan lantai terdengar di samping Mahardika. Ia tahu Maulana menyadari siapa yang sedang dibicarakan. Mahardika tidak mau menoleh ke samping karena takut kalau akan terkejut dengan ekspresi teman sekaligus asistennya. Ekspresi kecewa dan putus asa yang sama sekali tidak diharapkan.


“Itu hanya salah satunya saja! Ada banyak sekali poin yang menyebabkan masalah pada gadis yang Anda cintai dan yang mencintai Anda. Begitu banyak hingga membentuk jalinan benang yang kusutnya sulit diurai. Sulit, bukannya tidak mungkin.”


“Jadi apa yang harus saya lakukan?” tanya Mahardika.


Sungguh, kali ini ia yakin telah menjadi seseorang yang bodoh karena cinta. Sebab, tiba-tiba saja hatinya berkata: Aku sanggup melakukan apa saja untuk Daisy.


“Tidak ada!”


Mahardika terkejut mendengarnya. Sampai-sampai ia berdiri dan melotot pada master si gadis gotik. “Apa maksudnya dengan tidak ada. Saya-saya benar-benar mau membantunya! Saya bahkan bisa pergi untuk mencarikan penawarnya jika ini adalah racun.”


“Dia pasti sangat bahagai mengetahui kalau Anda sanggup melakukan apapun untuknya. Masalahnya, ini bukan racun. Ada begitu banyak campur tangan dari sesuatu yang baik di dalamnya. Dia--gadis yang Anda cintai, maupun yang mencintai Anda tidak akan terluka karena ini.”


Mahardika mengepalkan tangannya karena marah. Ia mau membantu Daisy apapun caranya. Karena itu ia akan menemukan cara yang lain jika master si gadis gotik tidak mau melakukan sesuatu.


“Kalau begitu saya datang ke tempat yang salah!” kata Mahardika. “Anda tidak usah mengantar saya. Saya tahu di mana jalan keluar!”


Maulana yang duduk di sampingnya ikut berdiri dan mengikuti Mahardika dari belakang. Pikiran keduanya penuh dengan prasangka masing-masing. Yang satunya kaget dan memiliki banyak pertanyaan. Yang lainnya memikirkan cara lain untuk membantu orang yang disayang.


“Temui Orang yang Anda cintai, Tuan Mahardika, dan tanyakan padanya apa dia mendengar suara orang yang paling dikasihi sebelum semua ini terjadi?”


Mahardika berhenti dan menoleh ke belakang, tetapi pintu rumah si master gadis gotik sudah tertutup.

__ADS_1


__ADS_2