Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Mahardika dan Orang Pintar (1)


__ADS_3

Untungnya halte tempat Daisy turun sepi. Walau wajah Mahardika tidak begitu dikenal tetangga sekitar karena jarang berinteraksi, tetapi tetap akan ada gosip yang beredar di antara orang-orang nantinya. Makanya sebisa mungkin tidak ada yang melihat Daisy turun di halte dari sebuah mobil mewah.


“Kumohon, Mas, besok jangan jemput lagi! Aku dan kamu mungkin tidak akan masalah dengan ini. Tapi, buat orang lain akan jadi masalah besar,” pinta Daisy pada Mahardika.


Wajah Mahardika murung. Hampir seperti Daisy memarahinya sepanjang jalan. Padahal mereka sama sekali tidak bicara apapun dan hanya saling diam saja. Daisy dengan kecanggungannya, begitu juga dengan Mahardika.


Walau pun Mahardika tahu kalau Daisy-lah yang ada di dalam tubuh Stefani, tetap saja tidak nyaman. Ia amat sangat mengerti kenapa hal itu sampai terjadi.


Setelah turun dari mobil, Daisy memandangi mobil Mahardika yang menjauh dan menghilang saat berbelok di persimpangan. Setelah itu barulah ia berjalan ke arah rumah besar dengan pagar tinggi yang mengeliling, rumahnya sendiri. Penjaga gerbang untungnya sedang tidak melakukan patroli di sekitar atau ia akan bertanya pada Daisy tentang siapa yang mengantarnya pulang dengan mobil.


“Siang, Pak!” Daisy menyapa pria yang beberapa hari lalu mengantarnya dengan motor untuk pergi kuliah dan menunjukkan beberapa halte yang bisa digunakan untuk pulang dan pergi.


“Siang, Stefani! Tidak ada kelas lagi setelah ini?” tanya pria itu berbasa-basi.


Daisy mengeleng pelan sebagai jawaban. Ini bukan hanya pengetahuannya saja, sebab dirinya sudah bertanya kepada teman sekelas Stefani tentang jadwal hari ini dengan berlagak lupa.


Daisy pamit masuk ke dalam. Ia mengitari pandangan sekitar, tetapi tak menemukan Pak Handoko, ayahnya Stefani di halaman yang luas. Jadi, Daisy pikir mungkin pria itu ada di rumah. Namun, saat melewati garasi, ia tak melihat mobilnya. Sepertinya Pak Handoko telah ditugaskan untuk pergi dengan Stefani yang mengunakan tubuhnya sekarang.


Beberapa pelayan yang sedang bertugas, meliriknya dengan kesal saat lewat. Untungnya tak mengatakan apa-apa sampai Daisy tiba di teras depan pavilliun. Saat ia menoleh, para pelayan itu tampak asyik berbisik-bisik. Tentu bukan memberikan pujian terhadapnya.


Perut Daisy mendengkur kembali saat ia sampai akan masuk ke dalam kamarnya. Ia jadi ingat makanan yang dimakan tadi bersama Azzam. Kalau tidak ada Brian, pasti makanan itu semua masuk ke dalam perutnya. Ia mengeluh dengan tingkah kekanak-kanakan Brian.


“Mungkin ada sisa sandwich tadi pagi,” gumam Daisy.


Ia melemparkan tas masuk ke dalam kamar. Lalu berjalan menuju dapur di belakang. Dapur sudah bersih. Pak Handoko sudah membereskan kekacauan yang dibuat ayah dan putranya tadi pagi. Di atas meja makan, tampak tudung. Daisy penasaran dengan yang ada di bawahnya. Ia mengangkat tudung dan menemukan telur mata sapi, sambal yang tampaknya pedas, juga ikan goreng. Daisy menjilati bibirnya. Ia tak pernah makan-makanan seperti ini, tetapi ia rasa tak akan menyakitinya kalau mencoba.


Ia memperhatikan ruangan dan menemukan piring di pengering. Diambilnya benda itu dan ia tak kesulitan mengambil nasi karena sudah beberapa kali melakukannya. Diambilnya telur mata sapi yang ada sebagai lauk, lalu sedikit sambal. Benar-benar hanya sedikit.


Ditutupnya tudung kembali sebelum mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih. Ia membaca doa di dalam hati, berharap tidak sakit memakan sambal yang entah mengapa terlihat mengoda.


Dibandingkan pedas, sambal itu nyaris terasa segar dan gurih. Ketakutan Daisy pada rasa pedas mendadak lenyap seketika. Ia menyuap dengan lahap selanjutnya dan untuk pertama kali bangga karena berhasil menghabiskan makanan. Ia duduk dengan merasa senang selama beberapa saat sebelum meletakan piring ke tempat cuci.

__ADS_1


BRAK!


Pintu depan tiba-tiba terbanting. Daisy yakin telah menutupnya dengan baik ketika masuk tadi, memang tidak dikunci, tetapi tak akan terbanting karena angin.


DAISY!” teriak suara di luar.


Daisy mengenalinya sebagai suara dirinya, tubuhnya yang digunakan Stefani sekarang. Daisy menahan napas seketika. Apa yang terjadi? Di dalam hati ia berpikir.


“Di mana kamu? Para pelayan bilang kamu sudah pulang!”


Daisy melangkahkan kaki, menemui dirinya sendiri yang kini diisi jiwa Stefani. Wajah dirinya tampak merah karena marah.


“Apa yang Nona katakan?”


PLAK!


Rasa panas menyengat terasa di pipi kanannya. Akan tetapi, ia sama sekali tidak mengerti kenapa mendapatkan tamparan. Seketika matanya memburam, karena air mata. Ia menoleh lekas menatap Stefani kembali yang tampak belum puas hanya dengan sebuah tamparan.


“Apa yang kamu katakan pada Mas Dika?” tanya Stefani padanya.


Stefani tampak terguncang, ia mundur selangkah. Namun, wajahnya masih saja memperlihatkan kemarahan.


Di luar ayah Stefani mendekat dengan tergesa-gesa, tampak takut, sedih, juga khawatir. Semua ekspresi di wajah tua di belakang sana tampak normal.


Daisy mendekatkan mulutnya ke telinga Stefani. “Tidakkah kamu menyesal sudah mengacau?”


“Aku tidak melakukan kesalahan!” kata Stefani dengan yakin.


Gadis itu mendorong Daisy untuk mundur dan berbalik pergi. Ia berhenti sebentar saat berpapasan dengan Handoko yang sudah sampai di ambang pintu. Walau menunduk hormat, Handoko jelas lebih khawatir pada tubuh putrinya yang berdiri di dalam. Begitu Stefani yang mengunakan tubuh Daisy melewatinya, pria tua itu berlari dan memeluknya.


“Apa kamu baik-baik saja?”

__ADS_1


Pertanyaan itu secara aneh menghentikan langkah Stefani selama beberapa saat.


“Ya, saya baik-baik saja, Ayah!” jawab Daisy sambil melirik Stefani yang masih berdiri di teras.


***


Di mana letak kesalahanku?


Stefani telah sampai di ambang pintu rumah Daisy. Ia tak lantas masuk ke dalam dan berdiri selama beberapa saat. Ketika keinginan untuk masuk besar, tubuhnya malah berbalik dan menoleh ke arah pavilliun yang baru saja ditinggalkan. Bagaimana mungkin semua orang bisa menyukai Daisy, padahal gadis itu sedang berada di tubuhnya sekarang.


Ia mengingat niat awalnya saat mencampur minuman Daisy dengan cairan ajaib berwarna biru. Ia ingin Daisy merasakan diabaikan sepertinya. Kenyataannya, jangankan diabaikan, Daisy malah memperoleh perhatian yang didambakannya. Memang apa kesalahan Stefani di sini?


“Wajahmu kenapa? Ada masalah lagi?”


Aida, wanita yang mengantikan posisi mama Daisy berdiri di tengah ruangan samping, tatapannya aneh. Stefani sedikit merinding menerima tatapan seperti itu. Di dalam hati mendadak ia bertanya, bukankah keluarga tuan besarnya sangat harmonis sampai membuatnya iri setiap hari?


“Tidak ada!” jawab Stefani lekas.


Ia ingat pada permintaannya pada wanita bernama Aida ini, meminta supaya Daisy yang kini ada di dalam tubunya dikeluarkan dari rumah. Namun, Daisy masih saja ada di sana dan tampak semakin mendapatkan perhatian dari semua orang yang seharusnya mengabaikan.


“Bukannya Mama berjanji padaku untuk mengurus Stefani!” Mau tak mau karena penasaran Stefani menanyakan perkara itu pada Aida.


Aida menatap Stefani seperti melihat hal paling ajaib di dunia. Ia melakukan itu cukup lama sebelum kemudian membuang napas keras-keras secara terang-terangan.


“Bukannya kamu yang sudah berkata kalau aku tidak boleh ikut campur?”


Stefani mendadak tersentak. Ia tidak mengatakan hal itu jadi pasti yang melakukan semuanya pasti Daisy saat kembali ke tubuh sendiri.


“Tidak bisakah Mama membantu sedikit saja?” tanya Stefani.


Aida mendadak tertawa keras. Para pelayan yang ada di dekatnya mendadak menoleh dan merasa tidak nyaman. Mereka kemudian menjauh untuk alasan yang tidak diketahui Stefani.

__ADS_1


“Aku tidak mau melakukan ini lagi, Daisy, tidak kalau kamu terus menolak apa yang aku inginkan?”


Kepala Stefani mendadak pusing. Ia bukan Daisy dan tidak mungkin bertanya pada Aida sebenarnya yang diinginkan wanita itu.


__ADS_2