Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Papa Berubah? (2)


__ADS_3

Daisy: Kamu ada di mana?


Tidak biasanya Daisy mengirimkan pesan pada waktu sarapan seperti ini. Pasti itu adalah hal yang sangat penting, jadi Mahardika sama sekali tidak memikirkan hal lain selain membalas pesan secepat mungkin.


Mahardika: Masih di rumah. Apa ada sesuatu?


Mahardika juga tidak biasa membalas pesan di saat waktu makan. Makanya hal baru yang dilakukannya membuat kedua orang tuanya jadi tertarik. Keduanya saling pandang dan tidak bersuara sampai Mahardika selesai membalas pesannya.


“Dari siapa?” tanya Papi Mahardika ingin tahu.


Mahardika meletakan ponsel di sampingnya, menyalakan nada karena sepertinya apapun yang terjadi pada Daisy tampak darurat. “Dari Daisy, Papi, tumben dia mengirimkan pesan saat sarapan!” jawab Mahardika tanpa ada kebohongan sedikit pun.


“Hubungan kalian sudah lebih baik?” Papi Mahardika terdengar sangat heran. “Sebelumnya kalian seperti orang yang tidak saling kenal satu sama lain. Bahkan Papi menyangka kalau kamu jatuh cinta pada orang lain!” Pria tua yang masih tampak awet muda padahal telah hampir berusia 60 tahun tersebut menambahkan.


“Tidak seperti itu, Papi!” Mahardika tertawa kecil. Mahardika menyalahkan hal boroh yang terjadi pada Stefani. Gadis yang memiliki obsesi tentang cinta itu tidak menyadari betapa sekelilingnya ada orang-orang yang sangat sayang padanya. “Ini hanya salah paham saja, Papi. Tapi, sekarang sudah selesai!”  Mahardika menjawab seperlunya saja.


Biarlah pertukaran jiwa antara Daisy dan Stefani menjadi misteri yang hanya diketahui mereka. Kalau Daisy dan Stefani tidak bertukar jiwa, Mahardika tidak akan tahu kalau ia bukan hanya menyayangi Daisy sebagai pasangan saja, tetapi juga sangat mencintainya hingga tak mau kehilangan. Jika kedua gadis itu tidak bertukar, maka Daisy tidak akan menjadi sangat bijaksana dan Maulana temannya tidak akan tahu kalau sikapnya selama ini pada sang adik sangat salah.


“Baguslah kalau memang sudah akur kembali. Mami sangat suka dengan Daisy. Dia anak yang sangat baik.”


“Itu benar! Papi selalu berpikir bagaimana anak baik semacam itu tubuh di lingkungan seperti itu. Dia begitu penuh dengan kasih sayang, tetapi tidak mendapatkan banyak perhatian.”

__ADS_1


Itu pasti sebuah keajaiab. Atau sebenarnya orang tua Daisy melakukan semua hal baik sehingga mendapatkan anak seperti dia. Kalau tidak hal apa lagi yang menyebabkan sebuah keajaiban benar-benar terjadi.


“Karena itu, aku tidak mau melepasnya begitu saja!” gumam Mahardika pelan.


“Barusan kamu bilang apa?’ tanya papi Mahardika.


Mahardika mengeleng. “Tidak ada!” jawabnya. Ponsel Mahardika berdentang pelan sebagai pertanda menerima pesan baru.


Daisy: Bisakah kamu menjemputku ke rumah. Ada hal aneh, aku takut turun ke bawah!


***


Daisy bisa merasa sangat lega begitu membaca pesan yang dibalas Mahardika.


Melegakan tetapi juga membingungkan. Kapan sarapan keluarga Mahardika berakhir? Atau apakah Daisy sarapan terlalu pagi hari ini? Dari pada menanyakan sesuatu yang tidak bisa dijawabnya, Daisy memutuskan untuk bersiap. Ia tidak memanggil para pelayan untuk membantunya bersiap. Ia bisa melakukannya sendiri sejak bertukar jiwa. Bukan berarti kalau Daisy mengambil pekerjaan para pelayan yang bekerja dengannya. Hanya bersiap sendiri itu memiliki kepuasan tersendiri.


Ketika Raise akhirnya masuk kamar dengan memberitahu kalau Pak Handoko yang awalnya dipanggil sudah siap. Daisy telah selesai berganti pakaian dan merias dirinya senatural mungkin.


“Nona ... melakukannya sendiri?”


“Apa aku terlihat aneh?” tanya Daisy.

__ADS_1


“Tidak.” Raise mengeleng dengan cepat. “Tidak aneh, hanya saja saya merasa heran. Apa Anda menjadi diri sendiri atau menjadi Nona Daisy yang suka mengamuk.”


“Aku diriku sendiri, Raise. Aku tidak akan mengamuk. Sungguh!” tapi tampaknya percuma meyakinkan Raise. “Ah, beritahu Pak Handoko kalau aku tidak jadi pergi dengannya. Tuan Mahardika akan datang ke sini sebentar lagi. Aku akan berangkat dengannya.”


“Baik, Nona!” Tapi Raise tak langsung bergi begitu saja. “Apa Nona dan Tuan Muda akan bertengkar?”


“Tidak!” Daisy tertawa mendengar pertanyaan itu. “Astaga, aku tampaknya sangat memalukan saat tidak bisa mengendalikan diri!” keluh Daisy.


Raise mengosok lehernya sedikit dan kemudian tertawa kecil. Ia menunduk hormat dan pergi keluar untuk menyampaikan pesan dari Daisy pada Handoko. Ponsel Daisy berdentang kembali. Pesan dari Mahardika muncul di layar yang mengabarkan kalau ia sudah berangkat. Daisy menjadi semakin tenang.


Ia menunggu dengan melakukan banyak pencarian di beberapa sosial media. Sampai Raise muncul kembali di dalam kamarnya. “Nona, Tuan Mahardika sudah datang! Dia ada di ruang tamu sekarang!”


Daisy menyambar tas selempangnya dan bergegas keluar dari kamar. Kemudian masih dengan penuh semangat ia menuruni tangga.


“Hati-hati, Daisy! Kamu bisa jatuh jika berlari di tangga!”


Daisy secara otomatis berhenti berjalan, memandang kaget pada ayahnya. Apa-apaan ini! Ia benar-benar sangat kaget.


Ternyata perhatian papanya yang tidak biasa begitu membuatnya tidak nyaman. Ia sampai-sampai merasakan firasat buruk karena hal ini. Pelan Daisy kembali menuruni tangga dan berlari di bawah untuk sampai di ruang tamu. Begitu melihat Mahardika. Ditariknya tunangannya itu segera.


“Ada apa Daisy?” tanya Mahardika tidak mengerti.

__ADS_1


“Aku akan ceritakan nanti saat ada di atas mobil! Karena itu jangan banyak bertanya!” seru Daisy panik.


__ADS_2