Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Ada Banyak yang Berubah (2)


__ADS_3

Karena kejujuran itu, Daisy jadi tidak tahu harus berkata apa pada Azzam. Yang jelas, perasaan yang diungkapkan Azzam bukan untuknya.


“Dengar, aku tidak mengatakan itu untuk membuatmu tertekan. Tidak sama sekali. Hanya saja, aku mengatakan itu supaya kamu tahu perbedaannya.” Azzam berusaha keras menjelaskannya.


Daisy tersenyum memaklumi. Ia sama sekali tidak menganggap hal tersebut terlalu serius. Lagi pula, dirinya bukan Daisy. Tidak ada hubungannya perasaan yang Azzam ungkapkan dengan dirinya. “Aku yang seharusnya memintamu tidak tertekan. Entah apapun yang kamu rasakan padaku, aku akan tetap bersikap sama seperti sebelumnya.”


Azzam tampak agak terkejut, tetapi kemudian ia mengucapkan terima kasih. “Terima kasih, Stefani!”


“Sama-sama!” balas Stefani. “Jadi, apa yang akan kamu jelaskan tadi kepadaku?” Stefani menanyakan yang akan dijelaskan oleh Azzam sebelumnya.


“Ah, benar juga! Seperti yang aku katakan, bahwa perundungan yang terjadi padamu sepertinya bukan karenaku.”


Daisy bisa melihat keyakinan di dalam mata Azzam. Entah bagaimana, Daisy percaya pada apa yang dikatakan pemuda itu.


“Lalu, jika bukan karenamu ... untuk apa mereka melakukan hal itu dengan mengatas namakan dirimu?”


Azzam tampak sedikit takut. “Aku mendengarnya tanpa sengaja kemarin setelah kamu pulang. Mereka bilang ada seseorang yang menjanjikan mereka sesuatu jika bisa menganggumu!”


“Seseorang?”


Akan tetapi, bagaimana pun Daisy memikirkannya, ia tidak menemukan seseorang yang akan membencinya seperti ini kecuali Stefani yang asli. Tetapi, Stefani tidak mungkin kembali dan mencari tiga orang tersebut untuk merundungnya. Sebab kedatangan Daisy yang merupakan salah satu primadona di kampus akan menyebar dengan cepat.


“Apa kamu bisa menebak siapa yang membenciku sampai seperti itu?” tanya Daisy.


Azzam mengeleng cepat sekali. “Maafkan aku karena harus mengatakan ini. Tetapi, kamu adalah gadis penyendiri sampai beberapa hari yang lalu. Hampir tidak ada interiksimu dengan orang lain di dalam jurusan kecuali ketika tugas kelompok. Kamu juga menghindari dekat dengan lewan jenis. Makanya, aku sangat senang saat kamu memperlakukanku begini!”


“Be-gitu, ya?” Daisy merasa agak canggung.


Tampaknya ia sudah membuat image Stefani yang selama ini pendiam menjadi gadis ramah yang bisa diajak bicara. Ia bertanya-tanya apakah karena hal itu Andien mendekatinya.


“Kalau begitu aku harus mencari orang-orang yang dekat denganku yang belakangan sudah kubuat ....”


Selain nama Stefani yang muncul di kepalanya. Ia juga ingat pada seorang pria yang dibuat naik darah tiga hari yang lalu di tempat makan.

__ADS_1


“Astaga!” kata Daisy sambil mengusap wajahnya.


Brian terkenal dengan banyaknya tahu pada semua orang di jurusan. Ia bisa mengetahui siapa yang menyukai siapa dengan cepat sebelum gosipnya bahkan tersebar. Lalu, ia menyukai Stefani yang tubuhnya sedang di pakai Daisy.


“Ada apa?” tanya Azzam.


“Tidak apa-apa. Aku mengingat sesuatu,” kata Daisy.


Karena masalah ini disebabkan oleh dirinya sendiri, Daisy tidak memiliki keinginan untuk membuat Azzam ikut campur dengan masalah ini.


“Kamu, yakin? Kamu tampaknya menyembunyikan sesuatu?” duga Azzam.


Daisy tersenyum simpul. “Aku ingat kalau ada janji dengan ayahku. Kami harus mencari rumah kontrakan yang ada di dekat sini.”


Azzam tampak tertarik dengan hal itu. “Sudah tahu daerah apa yang kamu mau?”


“Belum! Karena sebelumnya kami tinggal di pavilliun tempat Ayah bekerja, tidak pernah terniat untuk mecari rumah di luar.”


“Begini ... keluargaku memeliki beberapa rumah kontrakan dari mulai yang berjenis rumah petak sampai rumah kecil dengan tiga kamar. Kalau kamu tidak keberatan bagaimana kalau ikut denganku setelah pulang kuliah! Jam berapa memang kamu keluar kelas?” tanya Azzam.


“Aku hanya memiliki satu kelas hari ini. Keluar sekitar jam 11.”


Azzam tampak lega. “Untungnya aku punya kelas jam 9 dan keluar setengah sebelas. Apa kamu tidak terlalu cepat pergi. Sekarang baru jam setengah 9?”


Inginnya Daisy membersihkan rumah dulu tadi, tetapi para pelayan itu sudah berbisik-bisik saat ia keluar untuk membuang sampah dengan tidak menyenangkan. Jadi Daisy tidak punya pikiran lain selain pergi lebih cepat.


“Tidak. Ada yang mau aku cari di perpustakaan. Sebaiknya kamu ke kelas sekarang, sebentar lagi pasti dosennya masuk!”


Azzam mengangguk, tetapi malah mengikuti langkah kaki Daisy.


“Kenapa malah ikut denganku?” tanya Daisy dengan tidak senang.


“Sebenarnya kelasku dekat dengan perpustakaan!” jawab Azzam sambil tersenyum.

__ADS_1


Daisy mengangguk-angguk paham. Akan tetapi, setelah sampai di perpustakaan ia menyadari kalau sepanjang jalan tidak melihat kelas. Azzam hanya ingin mengantarnya saja.


***


“Bukannya kamu tidak suka makanan yang terlalu manis?”


Stefani berhenti menyendok dan menatap Brian yang membawanya kemari. Ia sudah mengirimkan pesan kepada Handoko untuk menjemputnya pulang sekitar jam tiga sore karena masih ada dua kelas lagi yang diikuti.


“Apa orang-orang tidak bleh merubah kebiasaannya?’ tanya Stefani.


Profiterole yang dipesan oleh Brian sangat menarik dan enak. Stefani jadi tidak bisa menolaknya. Selain itu ia jarang memakan makanan seperti ini saat menjadi dirinya sendiri. Makanya ia bertekad untuk memanfaatkan apa yang dimilikinya sekarang dengan benar.


“Bukan begitu. Hanya saja ... aneh melihatmu seperti ini!”


“Kalau begitu jangan lihat! Aku tidak menyuruhmu untuk memperhatikan saat aku makan. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Kamu mau menerangkan rencanamu padaku, kan?”


Brian tersentak dan memalingkan wajah dari Stefani.


“Baiklah! Aku tidak mempersalahkan apa yang kamu lakukan! Dan aku sama sekali tidak peduli kenapa kamu berubah selera.” Brian mengambil napas terlebih dahulu sebelum bicara kembali. “Aku kesal padanya karena dia tidak melihat ketulusanku!” kata Brian penuh amarah.


Stefani berhenti makan dan menatap Brian yang wajahnya telah memerah. “Memang apa yang dilakukannya padamu?”


Saat Stefani masih menjadi dirinya sendiri, ia yakin tidak mengusik Brian sampai seperti ini. Ia bersikap menjadi seseorang yang lugu dan tidak tahu apa-apa. Dengan begitu kenakalan Brian hanya sampai di situ saja. Apa Daisy yang menempati tubuhnya terlalu pintar sampai melakukan hal bodoh. Brian hanya pria yang kekanak-kanakan.


“Aku melihatnya pergi makan dengan seorang pria.” Brian diam sebentar sebelum kemudian bicara kembali. “Namanya Azzam. Mereka makan dan aku datang ke sana, lalu Azzam itu membela Stefani seperti seorang pahlawan, benar-benar menyebalkan!”


Ah, Stefani yang ada di sini rasanya sudah bisa menerka apa yang terjadi selanjutnya. Azzam akan berkelahi dengan Brian dan Daisy dengan jiwa tuan putrinya menjadi penengah sehingga Brian menjadi seperti ini.


“Lalu apa yang akan kamu lakukan padanya? Mencoba menakutinya dengan cara menabrak?” tanya Stefani menebak. Itu adalah hal yang terakhir kali dilakukan Brian.


“Mana mungkin. Aku mengirim orang padanya untuk memisahkan mereka berdua. Setiap kali Stefani berada di dekat Azzam, akan datang orang yang melukainya!” kata Brian tersenyum senang.


Brian masih belum berubah. Akan tetapi, Stefani pikir ia bisa memikmati pembalasan Brian tanpa harus campur tangan.

__ADS_1


__ADS_2