Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Kunjungan Mendadak Daisy (2)


__ADS_3

“PAK HANDOKO!” teriak Daisy.


Handoko berhenti dan kemudian menoleh pada suara gadis berusia sama dengan anaknya itu. “Ya, Nona?” tanyanya saat si majikan kecil sudah sampai di depannya. Cukup dekat supaya bisa mendengar suara Handoko.


“Bapak mau pulang sekarang?” tanya Daisy.


Handoko melirik jam di tangannya. Jam kulit yang sudah tua, tetapi masih gagah untuk digunakan. Jarum jam menunjukkan angkat empat lewat, memang sudah waktunya Handoko pulang sekarang. Tetapi, akan lain soal kalau Daisy mau pergi ke suatu tempat.


“Apa Nona mau saya antar ke suatu tempat?” tanya Handoko.


Jika jawabannya, iya, maka Handoko hanya pergi pergi ke dapur melalui pintu samping, menitipkan kembali makanan yang ada di dalam kotak pada salah satu pelayan di sana. Kalau tidak, ia benar-benar sangat berterima kasih sekali.


“Tidak! Bukan begitu!’ Daisy melambai dengan panik.


Handoko jarang melihat Daisy kehilangan kendali semacam ini. Majikan kecilnya itu tampak membutuhkan pertolongan yang tidak dimengertinya. Tatapan Handoko berhenti di teras, pada Aida yang dikenalnya semasa SMA.


“Anda mau ikut saya ke rumah?” tawar Handoko.


Wajah Daisy berseri mendengarnya. Ia mengangguk dengan gembira  dan mengikuti Handoko ke mobil. Gadis itu duduk di sisi Handoko, di sebelah bangku sopir. Agak terkejut Handoko mendapati hal tersebut, padahal bukan sekali ini Daisy melakukan hal yang menampilkan usaha mengakrabkan diri.

__ADS_1


“Anda tidak menyukai Nona Aida, ya?” gumam Handoko.


Ia tidak menyangka kalau Daisy mendengar gumamannya. Gadis itu menyahut dengan lirik. “Tidak ada anak perempuan yang mau posisi ibunya digantikan, Pak, apalagi saat semuanya begitu baru!”


***


“Kenapa kamu ada di sini!” Stefani melotot saat Handoko masuk diiringi Daisy di belakangnya.


Handoko tampak terkejut dengan sikap kurang ajar putrinya. Beberapa hari lalu semuanya masih terasa begitu normal walau cukup banyak masalah yang menghampiri mereka. Mendadak saja pagi ini Stefani berbeda. Handoko berharap putrinya kembali ke diri Stefani yang biasa.


“Aku hanya berkunjung! Benar, kan, Pak Handoko?” Daisy tersenyum setelah menjawab pertanyaan Stefani.


“Sana pulang ke rumahmu!” usir Stefani.


Daisy tidak bereaksi sama sekali. Ia tidak marah dan tampak sangat maklum dengan perlakukan Stefani yang kasar. “Dengar, aku tidak akan menganggumu. Aku hanya akan duduk di ruang tamu sampai merasa sudah waktunya untuk pulang, oke?”


“Kamu pikir aku percaya? Aku tahu siapa kamu! Aku tahu apa yang akan kamu lakukan pada keluargaku dan aku!”


Alis Daisy terangkat tidak paham. Itu membuat Stefani nyaris ingin menecekuiknya karena kesal. “Kamu sangat kenal aku dibandingkan diriku sendiri? Itu sangat menjelaskan situasi yang belakang terjadi. Stefani ... aku tidak akan menganggumu. Aku hanya akan duduk di ruang tamu!” Daisy mengulang kembali apa yang akan dilakukannya di ruang tamu Daisy.

__ADS_1


Namun, Stefani sama sekali tidak bergeming. Ia tetap pada keputusannya dengan mengusir Daisy dari rumahnya.


Daisy menghela napas, tidak memiliki alasan untuk bertahan dengan kekeras kepalaan gadis di depannya. “Biarkan aku meminta kunci mobil pada ayahmu dulu!”


Stefani mendengkus dan membiarkan Daisy berjalan mendekatinya. Kebetulan sekali Handoko muncul dengan ekspresi panik. Ia pasti takut kalau Stefani melakukan hal yang memalukan seperti mengamuk.


“Maafkan putri saya, Nona!”


“Saya yang datang tiba-tiba Pak, jadi Stefani tidak salah dalam hal ini. Jika saya yang ada di posisi Stefani pasti melakukan hal yang sama pada orang yang sama sekali tidak saya sukai.” Daisy tidak melakukan hal yang sama karena ia ahli dalam mengendalikan diri.


“Kalau begitu saya akan mengantar Anda kembali, Nona!” Handoko akan ke dalam lagi.


“Tidak! Berikan saja kunci mobilnya pada saya, Pak! Saya bisa bawa pulang sendiri, kok!” kata Daisy.


Handoko memandang telapak tangan Daisy dengan sedih lalu mengeluarkan kunci dari saku celana belakangnya. Setelah menerima kunci itu, Daisy pamit pada gadis yang masih bersedekap dengan wajah yang tidak senang di belakangnya.


“Kamu harus mengendalikan dirimu dengan lebih baik lagi, Stefani!” ingat Daisy.


“Enyahlah dan jangan ikut campur dengan urusanku!” usir Stefani dengan lebih kasar.

__ADS_1


__ADS_2