Tukar Jiwa

Tukar Jiwa
Ada yang Harus Berubah (1)


__ADS_3

Daisy takut membuka mata. Takut kalau tiba-tiba langit-langit yang dilihatnya adalah milik Stefani kembali. Saat itu terjadi, apa yang bisa dilakukannya. Ia tidak bisa berteriak apalagi menangis selain menerima yang terjadi dan mencari tahu kembali apa yang sudah membawanya kembali untuk kedua kalinya ke tubuh sendiri. Ia belum bisa menjawab pertanyaan si pria tua yang tiba-tiba muncul dan kemudian menghilang itu.


“Ah, bagaimana ini?” tanya Daisy sambil menarik selimutnya cukup tinggi hingga menutupi bagian kepala.


Daisy bisa mendengar suara pintu diketuk tiba-tiba. Daisy mengenggam jemarinya kuat-kuat sambil bertanya-tanya suara siapakah yang akan didengar mengingatkan soal waktu. Apakah Maulana atau Handoko? Atau suara Raise?


“Nona ... apa Anda sudah bangun?”


Begitu mendengar suara Raise yang bertanya begitu lega perasaan Daisy. Ia menyibak selimut hingga terbuka dan kemudian dengan tergesa-gesa menuju pintu yang masih tertutup dan dikunci dari dalam.


“Nona ... apa yang terjadi?”


Raise begitu panik saat Daisy lekas memeluknya dengan erat begitu pintu terbuka lebar.


Raise tidak tahu betapa bersyukurnya Daisy saat ini. Ia benar-benar ingin menangis karena masih menjadi dirinya sendiri.


“Aku sangat menyayangimu Raise. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan diri sendiri.” Dalam hati Daisy menambahkan bahwa sama sekali tidak menyenangkan terdampar di tubuh orang lain. Bahwa menjadi diri sendiri lebih disyukurinya sekarang. Ia tidak akan pernah lagi mengatakan kata “Seandainya” di dalam hidup ini.


“Nona, apa terjadi sesuatu?”


Raise jelas dilanda kebingungan karena sikap Daisy ini. Tetapi, hanya sampai di sana Daisy ingin memberitahu Raise apa yang terjadi. Gambaran soal jiwanya yang ada di tubuh Daisy kemarin masih cukup gila dan menakutkan untuk dikatakan pada orang lain.

__ADS_1


“Jangan pikirkan! Lupakan apa yang aku katakan. Ini hanya mimpi buruk saja!”


Mendengar hal itu Raise seolah mengerti dan tersenyum. Ia tidak lagi bertanya sembari melakukan pekerjaannya membereskan tempat tidur Daisy atau menyiapkan apa yang akan digunakan nona mereka itu. Ia hanya bertanya tentang apa yang ingin dimakan Daisy pagi ini.


“Anda ingin saya menyajikan apa pagi ini, Nona?” tanya Raise.


Daisy benci makan sendirian saat ini. Karena itulah kemarin ia mengundang Handoko. Tetapi, ia tak bisa selamanya merepotkan keluarga Stefani ini. Seharusnya ia membantu cukup banyak sebagai balas jasa sudah diperlakukan dengan sangat baik selama menjadi Stefani.


“Aku akan makan di bawah hari ini,” kata Daisy memberitahu.


Raise tercenung sepersekian detik. Kemudian matanya terbelalak karena sama sekali tidak menyangka. Ia melambai-lambai dengan panik, lalu menempelkan tangannya di dahi Daisy untuk memeriksa suhu. “Nona berkata aneh, apa Anda sakit?” tanya pelayan Daisy itu.


“Nona ... Anda jangan jadi aneh lagi!” Wajah Raise pias oleh ketakutan dan Daisy menikmati lelucon tersebut.


“Aku tidak akan jadi aneh! Sudah lama sekali aku tidak melihat Papa, Raise!”


Kepanikan di wajah Raise seketika menghilang. Seolah-olah ia paham apa yang dirasakan oleh Daisy. Ia mungkin putrinya pemilik rumah tetapi juga menjadi orang yang paling jarang melihat orang tuanya sendiri.


“Saya akan menyiapkannya dan mengabarkan pada para pelayan di bawah, Nona Daisy!’ Raise menunduk, tidak lagi memprotes.


Daisy memandang pantulan dirinya di cermin, berusaha mengingat pertemuan dengan mamanya di dalam mimpi. “Karena Mama bilang Papa menyayangiku, sepertinya aku memang harus berusaha sedikit lebih keras, kan?” gumamnya.

__ADS_1


Daisy bisa bertemu dengan papanya di ruang kerja. Karena di sana ia mengerjakan seluruh tugas kuliah, juga mempelajari beberapa hal tentang perusahaan yang cepat atau lambat akan diwariskan padanya. Ia juga harus mengelola rumah ini dengan baik di sana. Namun, di ruang kerja pertemuan mereka tidak bisa disebut sebagai sebuah pertemuan keluarga. Karena tidak ada obrolan akrab yang terjadi di sana.


Papa Daisy terpana saat ia masuk ke ruang makan, begitu juga dengan Aida, mama tirinya. Kedua orang itu tampak seperti sepasang suami istri yang harmonis. Tentu saja, selama Daisy tidak bergabung dalam permainan mereka.


“Kamu tidak sarapan di kamarmu hari ini?” tanya Aida saking kagetnya.


“Apa ada ruangan di rumah ini yang tidak bisa saya, masuki?” Daisy membalas pertanyaan dari Aida dengan pertanyaan lainnya.


Kursi gadis itu ditarik oleh seorang pelayan dan dengan angun Daisy duduk di depan Aida. Di sisi kanan meja makan yang selalu saja kosong. Pertunjukkan keluarga harmonis itu mendadak berhenti, padahal Daisy ingin menikmatinya sampai muak.


Suasana di ruang makan menjadi sangat berat-berat seolah-olah tempat itu adalah ruang persidangan. “Apa seharusnya aku tidak datang ke sini?” tanya Daisy sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.


“Kamu sudah tahu dan masih saja bertanya!” Aida tidak sedang menampilkan aksi ibu tiri baik hati seperti waktu-waktu lainnya.


Daisy tentu sudah mengusik wanita itu hingga berani berubah sikap.


“Kenapa?” tanya Daisy sama sekali tidak peduli. Ia mengalihkan pandangan pada papanya yang diam saja sejak tadi.


“Aida, makanlah dengan tenang!” Papa Daisy tiba-tiba bersyuara.


Kalimat yang diucapkan papanya jelas sangat salah. Bukankah saat ini dirinya yang seharusnya ditegur dan bukan Aida. Ada angin apa pria yang bahkan tak peduli pada Daisy tiba-tiba memberikan bantuan?

__ADS_1


__ADS_2