
Ruang Tamu
Adam menuruni tangga sambil menatap ibunya dengan mata memicing. Sedangkan nyonya Mary bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
‘’Aku berangkat dulu, dan maaf karena tidak bisa mengantar Ibu.’’
‘’Tidak apa-apa. Kau menemaniku juga tidak ada gunanya.’’
Nyonya Mary memberikan ciuman perpisahan kepada suaminya dan pamit, lalu menarik Eve keluar meninggalkan kedua pria tersebut.
......................
Perjalanan...
Eve hanya diam sejak tadi di dalam mobil. Berada di kursi yang sama dengan Bookmaster sekaligus Nyonya Besar keluarga Raymond membuatnya seperti tidak memiliki keberadaan sama sekali. Suasana sangat canggung, sebab keduanya hanya diam sejak tadi, hingga akhirnya nyonya Mary membuka mulut.
‘’Aku turut berduka atas meninggalnya Bu Laurence.’’
Eve menatap ibu mertuanya tidak percaya.
Apakah dia mengenal Ibu? Um, kata Eve dalam hati.
‘’Kemarin sebelum pernikahan, Pak Percy datang bersama istri keduanya dan saudari tirimu. Kupikir ayahmu bercerai ternyata ibumu sudah meninggal. Tapi bagaimana bisa Bu Laurence meninggal? Setahuku dia bukan wanita yang penyakitan.’’
Eve menggigit bibir bawahnya dan mengambil nafas.
‘’Aku juga tidak tahu, Nyonya Besar. Saat itu ibu ingin mengadakan pesta. Jadi, aku dan ayah keluar untuk membeli bahan. Lalu, saat pulang, kami berdua dikejutkan dengan tubuh ibu yang sudah tidak bernyawa bergelimang darah.’’
Sekuat apa pun dirinya menahan tangisannya, tapi butiran air matanya tetap saja terjatuh. Eve menyekanya dan menunduk.
‘’Maafkan aku. Nyonya Besar jadi melihat hal memalukan ini.’’
Nyonya Mary menggenggam tangan menantunya sambil tersenyum. ‘’Jangan panggil aku Nyonya Besar. Kau bisa memanggilku dengan sebutan Ibu.’’
Kalimat yang dilontarkan mertuanya membuat dirinya sudah tidak bisa membendung air matanya. Ia langsung memeluk wanita itu dan mengeluarkan tangisannya.
Nyonya Mary memandangnya iba, dan membalas pelukannya sambil mengelus pucuk rambut Eve.
Beberapa menit kemudian setelah Eve mengeluarkan tangisannya, ia berterima kasih karena nyonya Mary sudah berbaik hati memberinya sandaran.
......................
Bandara
__ADS_1
Eve menemani mertuanya itu sampai di lobby. Ia masih berterima kasih setelah kejadian beberapa menit yang lalu di mobil. Benar-benar seperti sosok ibu baginya. Ia tidak menyangka bisa memiliki mertua sebaik keluarga Raymond. Rasanya sangat bersyukur bisa menjadi menantu keluarga itu.
Sebelum nyonya Mary masuk ke dalam pesawat, ia menghampiri Eve sambil melepaskan gelang di tangannya, lalu memakaikannya ke tangan menantunya.
‘’E-Eh? Kenapa Nyonya Besar memberiku gelang milik Anda?’’
‘’Ush, sudah kubilang jangan memanggilku Nyonya Besar, tetapi Ibu!’’
‘’I-Ibu, kenapa memberikannya kepadaku? Ini pasti gelang yang berharga.’’
Nyonya Mary tersenyum. ‘’Justru karena gelang itu berharga, aku memberikannya untukmu. Kau sudah menjadi menantu keluarga Raymond, jadi sekarang pemilik gelang itu adalah dirimu. Jaga-baik-baik, ya?’’
Eve mengangguk memastikan kalau dirinya akan menjaga gelang itu bahkan nyawanya menjadi taruhan. Hal itu membuat nyonya Mary semakin menyukainya.
‘’Kalau begitu aku pergi dulu. Tolong jaga Adam!’’
Belum sempat, nyonya Mary masuk ke dalam pesawat, wanita itu kembali menghampiri Eve untuk memeluknya. Eve terbelalak untuk sesaat hingga dirinya membalas pelukan itu.
‘’Oh iya, jangan lama-lama memberiku seorang cucu. Kalau bisa, lakukan malam ini juga.’’
Wajah Eve langsung semerah tomat mendengar bisikan mertuanya. Nyonya Mary menarik pelukannya dan pergi.
‘’Aku akan menagihmu jika kau belum melakukannya!’’
Eve hanya menunduk malu, mertuanya membicarakan hal itu seperti topik pembahasan biasa saja. Pandangannya mengarah ke gelang yang barusan diberikan untuknya. Gelang akar bahar kepala naga emas yang sangat elegan. Terukir senyuman untuk sesaat, sebelum akhirnya senyuman itu luntur bersamaan dirinya memegang perutnya. Mengingat ucapan mertuanya yang meminta cucu, mengingatkannya kembali dengan kejadian di hotel.
......................
Dua pria muda memasuki kantor. Semua pegawai memberi ucapan selamat kepada atasan mereka yang baru-baru ini menikah. Adam sedikit mengangguk membalas ucapan para pegawainya.
......................
Ruang pribadi CEO
‘’Semua dokumen sudah aku tanda tangani, lalu urusan penting apa yang membuatku harus ke kantor lagi? Aku masih punya jadwal untuk mengunjungi Akademi Chrysos.’’
Sekretaris Rey menyerahkan sebuah dokumen membuat Adam membacanya. Sebuah ajakan dari perusahaan yang juga memiliki akademi seperti keluarganya.
‘’Nyonya Besar merekomendasikan akademi di bawah naungan perusahaan keluarga Raymond, dengan akademi kuliner yang sama terkenalnya di Jepang agar bekerja sama untuk melakukan pertukaran pelajar.’’
Adam menghela nafas setelah membaca semua dokumen itu. Ia menatap dokumen tersebut sambil melihat perusahaan mana yang akan diajaknya bekerja sama.
Kamiya Group? Perusahaan yang juga memiliki beberapa restoran yang tersebar ke penjuru dunia. Memiliki akademi kuliner yang sering mengadakan duel resimen. Rata-rata, alumni yang lulus di sana setara dengan koki bintang 5, membuat semua koki dari penjuru dunia berdatangan ke sana. Kalau tidak salah, CEO-nya juga baru-baru ini digantikan dan lebih tua 3 tahun dariku, ucapnya dalam hati.
__ADS_1
‘’Jadi kapan mereka akan datang?’’
‘’Pesawat mereka baru saja sampai, jadi mungkin sebentar lagi mereka akan tiba Tuan Muda.’’
Deg!
Adam menatap bawahannya itu dengan tampang kaget sekali lagi. Mengapa kedatangan mereka secepat ini. Sekretaris Rey menjelaskan, seharusnya kedatangan mereka bersamaan saat nyonya Besar mengambil penerbangan untuk pulang. Tetapi karena ada suatu urusan, mereka mengulur waktu dan baru mengambil penerbangan kemarin.
‘’Kenapa Ibu tidak memberitahuku saat dia pulang kemarin? Haa, wanita maniak makanan itu memang sengaja menyusahkanku seperti ini.’’
......................
Pesawat Pribadi
‘’Hatchi!’’
‘’Nyonya Besar? Apakah Anda baik-baik saja? Apakah ac-nya kumatikan saja?’’ tanya pramugari dengan tampang cemas menghampirinya.
Nyonya Mary menatap ac khusus yang terpasang di pesawat pribadinya. 1 detik kemudian, ia kembali menatap pramugari itu sambil tersenyum. ‘’Tidak perlu, aku tidak apa-apa.’’
‘’Baiklah. Kalau Nyonya Besar membutuhkan sesuatu, silahkan panggil saya.’’
Wanita itu mengerutkan dahi setelah pramugari tadi pergi.
Suhunya masih 16 dejarat seperti biasa, lalu kenapa aku bersin? Jangan-jangan ada yang membicarakan diriku, kata Nyonya Mary dalam hati.
......................
Perjalanan...
Eve memandang keluar jendela dengan tenang.
Ayah pasti sedang bekerja. Aku berniat mengunjungi rumah tapi aku sedikit ragu bertemu dengan ibu dan Cordelia. Kejadian di hotel itu pasti bukan ulah Cordelia saja. Aku sangat yakin ibu Christa juga pasti ikut terlibat. Kenapa mereka segitunya tidak menyukai diriku? Haa, keluhnya dalam hati.
Supir pribadi yang melihatnya seperti ingin menangis, langsung mengajaknya bicara.
‘’Nona Muda baik-baik saja?’’
Eve terbelalak dan menatap supir di depan sambil mengerjapkan matanya berulang kali.
‘’Ah tidak, aku tidak apa-apa.’’
‘’Tapi, Nona Muda terlihat sangat sedih. Apakah ada sesuatu yang mengganggu Nona Muda? Apakah perlu kuberitahu Tuan Muda?’’
__ADS_1
Sekali lagi Eve menggeleng, mempertahankan raut wajahnya yang tenang dan senyuman lembutnya.
‘’Tidak perlu. Aku sungguh tidak apa-apa, hanya saja merindukan keluargaku.’’