
‘’Di dalam naskah novel yang dibuat kakak, tokoh utama diracuni setelah meminum teh yang memiliki ukiran EAS3 pada gelas. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan kalimat ini. Tapi aku langsung sadar saat mengaitkannya dengan Botulinum Toxin,’’ kata Kane.
‘’Memangnya apa hubungannya dengan racun itu?’’ tanya Hakuba.
‘’Jika kita berpatokan terhadap huruf AS yang ditengah, maka kalian pasti berpikir E pada kata EAS3 sebenarnya bukan huruf, melainkan angka 3 yang terbalik. Saat kita merangkainya maka terbentuk senyawa kimia,’’ kata Kane.
Kaji mengangguk karena mengerti dengan ucapan anak itu. ‘’As33, simbol arsenik adalah As dengan nomor atom 33.’’
‘’Sebelumnya, setengah sisi cangkir dilumuri arsenik, agar kakak yang mencicipi tehnya langsung mati seketika. Tapi, Reon menggantinya dengan Botulinum Toxin.’’
Cordelia menatap Reon setelah mendengar ucapan Kane.
‘’Keracunan Botulinum Toxin, menyebabkan kelumpuhan otot yang pada akhirnya mengarah pada kelumpuhan sistem pernafasan. Itulah kenapa kakak sempat diam membeku sebelum terjatuh, sebab otot dan nafasnya melumpuh. Sisa arsenik sebelumnya masih ada, lalu tercampur dengan Botulinum Toxin,’’ kata Kane.
‘’Kenapa Reon mengganti racunnya?’’ tanya Inspektur.
‘’Entahlah. Mungkin sisi manusianya muncul. Hanya saja, Cordelia-san yang mencuci otak putranya sendiri agar menjadi kriminal seperti dirinya,’’ kata Kane.
‘’Itu tidak benar! Aku ini jahat dan ingin membunuh Kein, karena dia telah menghancurkan kehidupanku! Dan balas dendamku sudah terpenuhi, keluarga kalian juga hancur,’’ kata Reon.
‘’Kalau begitu, kenapa kau menghapus arsenik yang sebelumnya kau lumuri pada cangkir, dan menggantinya dengan Botulinum Toxin? Padahal arsenik langsung bisa merenggut nyawa saudaraku, berbeda Botulinum Toxin yang masih bisa diobati jika langsung ditangani.’’
‘’Reon! Apa yang kau lakukan? Aku menyuruhmu untuk melumuri cangkir itu dengan arsenik,’’ marah Cordelia.
‘’Diamlah!’’ tegur Detektif Erimi.
‘’Lalu, bagaimana dengan kotak yang berisi gula batu? Bukankah di dalam semua potongan gula itu ditemukan Botalinum Toxin?’’ tanya Inspektur.
Kane menceritakan kalau kotak itu terjatuh saat ibunya hampir pingsan, dan Reon menukar kotak itu dengan kotak lain yang sudah diberi sisa botol racun.
‘’Kalau begitu, ke mana kotak berisi gula batu yang asli?’’ tanya Petugas Reiki.
Kane tersenyum. ‘’Sebelum kalian menemukannya, aku akan mengatakan satu hal ini. Apa yang akan kau lakukan agar kotak kayu berisi gula itu menyatu dengan arang?’’
Deg!
Reon tersentak begitu juga dengan semua orang menyadari ucapan Kane. Petugas Reiki langsung bergegas pergi.
‘’Ya, kau akan menemukannya di tempat itu,’’ senyum Kane.
......................
Tidak lama kemudian, petugas Reiki datang sambil membawa kotak kayu kecil. ‘’Seperti yang dikatakan Tuan Kane, kotak berisi gula batu ini ditemukan di dalam tungku kayu pembakaran.’’
Bagaimana mungkin kotak itu masih ada? Bukankah seharusnya sudah hancur karena terbakar oleh api? Tidak mungkin,’’ kata Reon dalam hati.
‘’Kayu itu dibuat dari bahan khusus anti api yang baru-baru ini dikeluarkan. Kau membuat kesalahan dengan tidak memeriksa tungku kayu pembakaran itu untuk memastikan apakah kotaknya sudah hancur atau tidak,’’ kata Kane.
‘’Katakan di mana Shion-san sekarang?!’’ tanya Kaji.
‘’Kami tidak akan memberitahumu kali ini,’’ kata Cordelia.
‘’Di mana Shion?’’ tanya Kane.
Deg!
Reon tertegun karena anak itu menodongkan pistol kepadanya.
‘’Benar juga. Kau sudah mengetahui alasan dibalik julukan Si Iblis Makanan kakakku,’’ kata Kane.
__ADS_1
Mata Kane memicing. ‘’Kalau begitu, aku akan membuatmu menjawabnya setelah mengetahui alasan kenapa aku dipanggil Si Iblis Deduksi.’’
Inspektur, detektif Ryugen dan detektif Erimi hanya tersenyum kaku saat kembali mengingat kejadian hari itu.
Flashback on
‘’Inspektur, tolong temukan pelakunya,’’ kata seorang pria di kursi roda dengan sebelah kaki yang diperban.
‘’Kami juga sedang melakukannya. Harap sabar menunggu Tuan Yazama,’’ kata Inspektur.
Tidak lama kemudian, dua orang detektif datang melapor.
‘’Sepertinya Tuan Hoda memang bunuh diri di dalam kamar. Kami menemukan surat pengakuan setelah memeriksa kembali tempat sampah di ruangan tersebut,’’ kata Detektif Ryugen.
Tuan Yazama terbelalak. ‘’Kenapa dia bunuh diri saat aku mengadakan pesta untuknya?’’
‘’Di dalam surat mengatakan, kalau Tuan Hoda merasa bersalah setelah membawa uang Anda kabur,’’ kata Detektif Erimi.
‘’Tidak mungkin,’’ kata Tuan Yazama mulai terisak.
‘’Heh~ apakah surat itu sungguh ditulis oleh Tuan Hoda?’’
Semua langsung menoleh mendengar suara itu dan melihat sosok anak kecil.
‘’Hei bocah? Berhenti memperkeruh masalah,’’ tegur Detektif Ryugen.
Anak berambut hitam itu berjalan menghampiri mereka. ‘’Bisakah aku melihatnya suratnya?’’
‘’Apa yang dilakukan anak kecil di tempat seperti ini? Hei, kalian? Bawa anak ini pergi!’’ perintah Inspektur.
Namun, dengan cepat anak itu merebut kertas di tangan detektif Erimi.
‘’Tunggu! Kembalikan surat itu!’’ teriak Detektif Erimi.
Semua orang terbelalak karena anak itu membuat onar dengan menjatuhkan keramik, mendorong meja hingga terjatuh bersama jamuan di atasnya bahkan menarik hordeng di sekitar untuk menghindari tangkapan mereka.
Para petugas terjebak di masing-masing situasi tadi, hingga akhirnya kedua detektif yang ikut mengejar juga terjatuh setelah saling bertabrakan satu sama lain karena terlalu fokus mengejar anak berambut hitam.
Inspektur mengeryitkan alis. ‘’Apa yang kalian lakukan? Cepat berdiri!’’
‘’Apa-apaan ini? Kalian telah merusak pestaku!’’ seru Tuan Yazama.
‘’Ini surat palsu yang ditulis oleh pelaku,’’ kata anak berambut hitam.
‘’Setelah mengacaukan pesta, sekarang kau bicara omong kosong? Sudah cukup, sebaiknya bawa anak ini pergi. Kalau terus begini, aku sudah merasa terganggu sekali,’’ kata Tuan Yazama.
‘’Ossan(Pak tua), korbannya adalah teman Anda yang merupakan seorang pimpinan Bank. Bukankah Anda ingin mengetahui siapa pelakunya?’’ tanya anak berambut hitam.
‘’Ha? Apa kau pikir pembunuhnya masih di sini?’’ tanya Tuan Yazama.
‘’Tidak mungkin. Kami sudah mengutus petugas yang lain agar mengejar pela—’’
‘’Ruang dalam kamar itu terkunci dari dalam,’’ kata anak berambut hitam memotong ucapan Detektif Erimi.
‘’Hei! Dengarkan kalau orang dewasa sedang bicara! Tidak baik memotong ucapan!’’ teriak Detektif Erimi.
‘’Pelakunya masuk dari jendela yang satunya ke lantai tiga.’’
Kedua detektif beserta Inspektur hanya memasang raut wajah bodoh karena anak itu mengabaikan teguran tadi dan bersikap seperti biasa.
__ADS_1
‘’Lalu keluar dari jendela itu sehingga tidak ada jejak kaki di bawah jendela. Karena itulah kita tahu pelakunya masih berada di sini,’’ kata anak berambut hitam.
‘’Bodoh! Bukankah jarak dari jendela itu 10 meter lebih?’’ tanya Detektif Ryugen.
‘’Bagaimana seseorang bisa melompat dari situ?’’ tanya Detektif Erimi.
‘’Jika menyebranginya dengan sebuah tali, maka jarak ke kamar Tuan Hoda menjadi hanya 2 meter.’’
‘’Heh, itu hanya perkiraanmu. Jarak beranda itu juga 2 meter, dan tepiannya juga cuma 10 cm. Kau pikir dia terbang?’’ tanya Inspektur.
‘’Pelaku mengikatkan sebuah tali dari kamarnya agar berpindah ke antar beranda. Dia tinggal bergantung menggunakan tali itu untuk menyebrang ke kamar Tuan Hoda.’’
‘’Jika menggunakan tali beranda, bagaimana dia membuka ikatannya?’’ tanya Inspektur.
‘’Seharusnya orang dewasa seperti kalian tahu hal segampang itu, dasar.’’
Inspektur dan kedua detektif tadi tersenyum dengan alis berkerut tanda kesal.
‘’Tali yang satu mengikat batang kayu dilonggarkan, dan itu bisa dilepaskan dari beranda pelaku. Kalian bisa memeriksanya, bekas tali itu pasti ada.’’
‘’Sudah cukup bicaramu bocah,’’ kata Detektif Ryugen.
‘’Kalau begitu, siapa yang tega membunuh sahabatku, Hoda-san?’’ tanya Tuan Yazama.
Anak berambut hitam memberitahu kalau pelaku hafal dengan struktur rumah tersebut. ‘’Hanya satu orang di rumah ini yang tahu dan orang itu adalah kau … Yazama-san. Han’nin wa anata desu!’’
‘’Jangan bercanda anak kecil. Kakiku masih diperban,’’ kata Tuan Yazama.
Saat itu juga anak berambut hitam itu menodongkan pistol dan menarik pelatuknya.
Dor!
Semua orang terkejut karena tembakan itu menembus kursi roda. Lebih kagetnya lagi, tuan Yazama berdiri dengan sempurna.
‘’Kakimu itu sudah sembuh tiga bulan yang lalu. Aku sudah mendapatkan info dari doktermu. Anda dan Hoda-san berselisih karena memperebutkan uang yang kalian curi.’’
Di saat yang bersamaan petugas membawa sosok pria yang berhasil mereka tangkap.
‘’Kalau dia pelakunya, lalu siapa orang yang sudah kami tangkap ini?’’ tanya Detektif Ryugen.
Deg!
‘’Tu-Tuan Kamiya Kaji?!’’ pekik semuanya.
Inspektur dan yang lainnya langsung membungkuk meminta maaf. Detektif Ryugen menarik kerah belakang baju anak berambut hitam tadi.
‘’Tuan Kaji, anak ini berbuat onar dan membawa pistol. Kami akan membawanya ke kantor polisi,’’ lapornya.
‘’Kau yakin ingin membawa anak itu? Dia Kamiya Kane, anak yang selalu aku bawa bersamaku,’’ senyum Kaji.
Sekali lagi mereka tersentak. Inspektur dan yang lainnya menoleh secara perlahan dengan wajah kaku sambil tersenyum. ‘’Ka-Kamiya Kane?’’
‘’Pantas saja dia memiliki pistol,’’ kata Detektif Erimi.
‘’Sampai menembak pelaku tanpa belas kasih,’’ kata Detektif Ryugen.
‘’Melakukan hal nekat seperti tadi, dia lebih pantas disebut iblis,’’ kata Detektif Ryugen.
"Lebih tepatnya Si Iblis Deduksi."
__ADS_1
Flashback off
‘’Sekarang, katakan di mana Shion?’’ tanya Kane yang masih dalam posisi menodongkan pistol.