Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 51 Menjenguk Eve


__ADS_3

Plak!


"Adam?! Kenapa kau menamparnya?" tanya Cordelia.


"Rey, kunci Reon di kamar dan segera batalkan kompetisi miliknya!" perintah Adam berjalan masuk.


"Adam, apa maksudnya ini?" tanya Nyonya Mary.


Adam menghentikan langkahnya tanpa berbalik. "Biarkan Reon merenungkan diri atas kesalahannya." (Reon teringat)


“Argh!” amuk Reon membanting semua barang di kamarnya.


Tangannya gemetar sambil menggertak gigi disertai butiran air mata. Sakit, ya itu yang ia rasakan. Selama ini ia mengharapkan kasih sayang dari keluarga Raymond tapi untuk pertama kalinya, Adam memberinya tamparan di wajah.


“Adam. jelaskan padaku apa maksud dari ucapanmu tadi?” tanya Nyonya Mary menyusul.


Adam terhenti sambil menghela nafas dengan rahang tertahan. Ia mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan ke semua orang.


Reon membulatkan mata melihat dirinya dan Mark bekerja sama menjebak Kein dan menguncinya di ruang pendingin.


Sponta semua orang langsung menatap anak itu tidak percaya.


“Kalau sampai Tuan Yuki mengetahui hal ini, dia akan membatalkan kerja sama yang sudah kami bangun bertahun-tahun. Apalagi kalau media sampai mengetahuinya, reputasi keluarga Raymond akan hancur,” kata Adam.


“Lalu bagaimana kau menerima rekaman itu?” tanya Tuan Moriarty.


“Aku juga bingung, karena rekaman ini tidak ada di ruang CCTV. Tapi nomor tidak dikenal mengirim rekeman tersebut,” kata Adam.


“Kalau begitu, rekaman itu dimanipulasi agar Reon terlihat seolah-olah melakukan kejahatan,” kata Cordelia.


“Rey, tetap lakukan apa yang aku perintahkan tadi,” kata Adam.


“Tidak. Aku ingin mengikuti kompetisi sampai akhir. Jangan batalkan!” tegas Reon.


Adam melontarkan tatapan tajam menusuk membuat Reon terdiam.


“Adam! Kau tidak boleh melakukan hal seperti ini tanpa ada bukti,” kata Cordelia.


“Kein jatuh pingsan dan kau bilang tanpa ada bukti?!” seru Adam.


Cordelia menatap suaminya tidak percaya. Pria itu bahkan tidak ragu membentaknya hanya karena anak dari orang lain.


“Tidak. reon akan tetap mengikuti kompetisi!” tegas Cordelia.


“Kalau begitu tinggalkan rumah ini kalau Reon hadir besok di kompetisi masak,” kata Adam berlalu.


Cordelia terpaku. Tangannya mengepal dengan mata memerah. Reon yang melihatnya langsung berlari ke arah kamar. (Reon teringat)


“Kurang ajar! Seharusnya tidak ada CCTV di tempat itu. Lalu bagaimana rekaman itu bisa terekam?” tanya Reon pada diri sendiri.

__ADS_1


......................


Kamar Cordelia


Kalau begitu tinggalkan rumah ini kalau Reon hadir besok di kompetisi masak. (Cordelia teringat)


“Tidak, tidak, aku tidak ingin bercerai dengan Adam. Tapi, aku tidak bisa melihat Reon kalah telak. Hhah, aku harus bagaimana?” tanyanya mondar-mandir sambil menggigit kuku ibu jarinya.


Langkahnya terhenti saat teringat sesuatu.


Wajah Cordelia langsung masam saat mengeluarkan ponselnya. “Cih, aku tidak punya pilihan lain.”


“Halo … Jeremy. Aku butuh bantuanmu,” kata Cordelia.


......................


Kediaman Kamiya di Indonesia


Kein mendapat perawatan dari Dokter Yuu agar dirinya masih bisa mengikuti kompetisi, meskipun kondisi tubuhnya mungkin akan sedikit terganggu.


“Ibu dan Kaak cepat sembuh. Jangan membuatku sedih begini,” kata Kane cemberut.


Ceklek!


“Tuan Muda, ada seorang wanita di bawah yang ingin bertemu dengan Nona Muda,” lapor salah satu pelayan.


Semua mengerutkan dahi mendengar hal itu.


Tidak lama kemudian, terlihat wanita berambut panjang berkulit putih muncul.


“Vic?” tatap Eve tidak percaya.


“Kudengar kau jatuh sakit. Jadi aku kemari untuk menjengukmu,” kata Vic.


“Siapa yang memberitahumu?” tanya Eve.


Vic memberi kode mata ke arah Kaji. Eve yang mengerti maksudnya hanya tersenyum.


“Tapi Kaji-kun, bagaimana kau mengetahui nomor ponselnya? Bukankah nomor Vic hanya ada di ponselku?” tanya Eve.


“Hem! Itu, aku tidak sengaja mencari nomornya di ponselmu,” kata Kaji malu-malu.


“Oh, Kein? Aku menonton kompetisimu dan kau tiba-tiba jatuh pingsan. Bagaimana kondisimu sekarang? Semoga kau cepat sembuh, ya?” tanya Vic


“Sudah lumayan baik. Terima kasih Bibi,” kata Kein.


Karena kedatangan Vic, ketiga pria dan 2 anak kembar itu memilih keluar dan membiarkan Eve bersama dengan sahabatnya saja.


“Hei, kenapa kau tiba-tiba jatuh sakit? Kau tidak lihat betapa hebatnya Si Iblis Makanan itu di kompetisi?!” tanya Vic.

__ADS_1


Eve hanya tersenyum tipis.


“Tapi, aku sangat kaget saat melihat Kein jatuh pingsan,” sedih Vic.


“Aku juga langsung kaget saat melihat dia jatuh pingsan. Kompetisi telah selesai dengan lolosnya dia ke babak 8 besar. Kaji-kun meminta izin untuk membawanya pulang,” kata Eve.


Vic menghela nafas panjang. Tiba-tiba raut wajahnya berubah. “Hem! Jadi bagaimana mengenai mantan suamimu itu?”


“Akh!” ringis Eve.


“Keluar!” perintah Adam tanpa menoleh membuat sekretaris Rey segera keluar.


“Tuan Adam, saya sudah menegaskan, kalau orang yang Anda maksud itu bukanlah saya!” tegas Eve.


“Kenapa kau diam? Kau tidak bisa mencari alasan lagi untuk berbohong? Kenapa kau selalu saja membohongiku?!” seru Adam.


“Cukup! Aku sudah tidak tahan dengan omong kosong Anda Tuan Adam. Namaku memang Eve, tapi aku bukan orang yang Anda maksud,” kata Eve.


“Tuan Adam! Aku ini calon istri dari pria lain, bersikaplah lebih bijak!” tegur Eve.


“Aku tidak akan membiarkanmu pergi kali ini.”


“Tuan Adam, Anda ini benar-benar gila! Hentikan!” seru Eve saat pria itu hendak menyerangnya.


Ceklek!


“Ka-Kaji-kun,” isak Eve.


“Tuan Adam, kuharap Anda bisa menjelaskan situasi ini,” kata Kaji.


“Anda melihat yang sebenarnya. Untuk apa aku menjelaskannya lagi?”


“Aku akan menganggap tidak melihat apa pun saat Anda hendak menyerang calon istriku, jika Tuan Adam berhenti menganggapnya adalah orang yang Anda kenal itu. Shitsurei shimasu(permisi).” (Eve teringat)


“Ah itu ... Aku masih belum bertemu dengannya semenjak kembali ke sini,” jawab Eve membuang muka.


Vic memicing mata karena merasa curiga. Eve mengerutkan dahi karena merasa tidak nyaman dengan tatapan sahabatnya itu.


“Kein mengikuti kompetisi masak, dan kita semua tahu kalau keluarga Raymond akan hadir. Jangan bilang kau sengaja jatuh sakit agar tidak ingin bertemu dengan mereka,” kata Vic.


Eve menghela nafas panjang. “Mungkin yang kau katakan benar. Hatiku masih belum siap bertemu dengan semuanya, terutama ayahku. Kau tahu semuanya, aku membuatnya terkena serangan jantung yang berakhir masuk ke rumah sakit sebelum pergi.”


Vic menatap Eve dengan iba. Ia mengelus bahu sahabatnya itu dengan pelan. “Sabar, kau itu wanita yang kuat. Tapi ini saatnya kau membalas dendam kepada mereka yang sudah menendangmu, terutama Cordelia. Dari dulu aku memang tidak menyukainya, sampai aku tahu dia menjadi istri Tuan Muda yang merebut posisi sahabatku. Saat itu aku sangat marah dan cemas mencarimu. Kau hilang bertahun-tahun tanpa mengabariku, hingga hari itu kau menghubungiku setelah kau melahirkan 2 anak kembar. Rasanya aku sangat bahagia mengetahui kau masih baik-baik saja.”


“Kau terlalu cerewet,” kata Eve.


Vic cemberut sambil memukul Eve dengan pelan. “Aku serius!”


“Puff, terima kasih. Aku tahu kau yang terbaik,” senyum Eve.

__ADS_1


“Hem! Aku memang yang terbaik, para selebriti Hollywood tidak meragukan kecantikanku,” kata Vic memuji diri sendiri.


Keduanya saling tertawa pelan, melepaskan kerinduan yang baru tersampaikan.


__ADS_2