Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 40 Nama & Suara


__ADS_3

“Silahkan Tuan Kaji nikmati jamuannya. Aku dan istriku akan menyapa tamu yang hadir,” kata Tuan Moriarty berjalan pergi.


Beberapa anak langsung menghampiri Kane dan Kein.


“Aku dan Tuan Adam akan menyapa para tamu juga. Kein-kun, kau akan mengikuti kompetisi, kan? Jadi ada baiknya kau dan adikmu berkomunikasi dengan peserta yang lainnya,” kata Kaji.


“Kami mengerti,” kata kedua anak kembar itu membungkuk.


Akhirnya Adam dan Kaji yang dikawal Sekretaris Rey berbincang dengan para tamu.


“Sungguh kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Tuan Kein. Perkenalkan namaku Mark Shelton,” kata anak laki-laki berambut pirang tadi.


Kein membalas uluran tangan Mark begitu juga Kane.


Para anak perempuan yang bersama Mark menatap kedua anak kembar itu kagum.


“Kudengar Tuan Kein akan ikut kompetisi masak nanti. Lalu kenapa Anda tidak pernah mengikuti kompetisi tersebut dari dulu?” tanya Mark.


“Jadwalku sangat padat,” jawab Kein singkat.


“Hee~ benar-benar Si Iblis Makanan,” puji Mark.


Mark Shelton, dia salah satu kandidat yang akan menduduki juara di kompetisi selain Reon Raymond. Kabar duel-nya dengan Reon yang selalu memperebutkan posisi teratas diketahui semua orang. Selain itu, ada rumor yang mengatakan, dia memanfaatkan semua temannya demi menuju posisi teratas. Setelah mengetahui Kakak mengikuti kompetisi ini, sepertinya dia ingin menjadikan Kakak sebagai batu loncatannya, kata Kane dalam hati.


“Mulai hari ini kita berteman, dan Tuan Kein tahu hubungan pertemanan, kan? So, let's fight together in the competition,” kata Mark.


Kane menatap kepergian Mark bersama teman-temannya. “Kakak tidak bersungguh-sungguh menganggapnya teman, kan?”


“Dia mengajakku berteman, kenapa aku harus menolak?” tanya Kein datar.


“Eh? Perasaan ini,” kata Kane menyadari sesuatu membuatnya menoleh ke belakang dan diikuti oleh Kein.


Kedua anak kembar itu tersentak. Berbeda dengan Kane yang tersenyum kaku, Kein hanya diam, menatap wanita bergaun hitam dipadu mantel berbulu tebal itu berjalan menghampiri mereka.


Wanita berkacamata hitam itu menatap kedua anak kembar di depannya sambil menyilangkan kedua tangan.


“Hehe, Ibu sudah tiba?” kekeh Kane.


“Jadi, bagaimana kalian akan menjelaskan kejadian di telepon tadi?” tanya Eve mengintimidasi.


Kaji yang tidak sengaja menoleh langsung terbelalak. Adam yang melihatnya, mengikuti pandangan pria itu.


“Dia sudah datang, ya,” kata Kaji berjalan pergi.


Adam dan Sekretaris Rey saling memandang hingga akhirnya menyusul Kaji.


“Kenapa kalian berdua diam, ha?” tanya Eve sekali lagi.


“Sebenarnya, ahaha, sebenarnya ka—”


“Kau sudah datang sayang?” tanya Kaji memeluk Eve membuat wanita itu terbelalak.


“Sa-Sayang? Siapa yang kau panggil sayang?!” bisik Eve.

__ADS_1


Kaji mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu dan berbisik. “Apakah kau ingin mereka curiga karena reaksimu? Ikuti saja alurku untuk berpura-pura menjadi pasangan kekasih.”


Saat itu juga Eve tertegun melihat kedatangan Adam dan Sekretaris Rey.


A-Adam! Kami benar-benar bertemu, kata Eve dalam hati.


“Tuan Adam, Anda ingat dengan wanita yang kita bicarakan tadi? Dialah wanita pujaan hatiku, ibu dari kedua anak kembar ini, sekaligus calon istriku,” kata Kaji.


Wanita ini ibu mereka? Hm, kata Adam dalam hati.


Bukankah ibu anak kembar ini adalah wanita yang kami temui di hotel? Sepertinya ada perselingkuhan dibalik ketiga orang ini. Aku benar-benar tidak mengerti dengan kehidupan orang kaya, kata Sekretaris Rey.


“Tuan Kaji, apakah Anda yakin wanita ini benar-benar calon istri Anda?” tanya Adam.


Deg!


Eh? Apakah Adam mengenali wajahku, meskipun memakai kacamata hitam ini? Tidak mungkin, kata Eve dalam hati.


“Kalau Tuan Adam meragukannya, aku bisa mengumumkan di depan semua orang yang hadir di sini kalau dia memang calon istriku,” kata Kaji.


“Bukan begitu. Aku tidak bermaksud menyinggung Anda dan calon istri Anda ini. Tapi, wanita yang kami temui di hotel berbeda dengan penampilan wanita ini,” kata Adam.


Wanita yang mereka temui di hotel? Ah benar juga, karena tidak ingin bertemu dengannya, aku menyuruh Vic untuk menggantikan diriku. Jadi dia mengira Vic adalah ibu kandung kedua anak kembar ini? Kalau begitu, dia masih belum mengenaliku, kata Eve dalam hati.


“Sungguh tidak sopan. Kami berdua memiliki privasi jadi Anda tidak perlu ikut campur,” kata Eve.


Adam dan Sekretaris Rey tersentak.


Eh? Suara ini, kata mereka berdua kompak dalam hati.


Deg!


Eve tersentak begitu juga dengan Kaji.


“Suara ini, meskipun sudah bertahun-tahun tidak mendengarnya, tapi aku yakin ini adalah suara man—“ ucapan Adam terhenti sebelum dirinya keceplosan.


“Hem! Maksudku suara Anda mirip dengan kenalan saya,” kata Adam mengalihkan.


Heh, kau bahkan tidak ingin mengakuiku. Ternyata sampai sekarang keberadaanku memang tidak ada artinya, sedih Eve dalam hati.


“Kenalan? Apakah dia teman dekat?” tanya Eve.


Adam terdiam untuk sesaat. “Bukan juga, hanya sekedar kenalan.”


“Bolehkah aku mengetahui namanya?” tanya Eve.


Ia sudah menduga hal ini. Adam tidak akan sudi menyebut namanya, hingga akhirnya Sekretaris Rey angkat bicara.


“Ev—“


“Eve,” kata Eve memotong ucapan sekretaris itu.


“Eh, dari mana Nona tahu?” tanya Sekretaris Rey.

__ADS_1


“Itu namaku. Salam kenal, Kamiya Eve,” kata Eve.


Adam terbelalak dan tersenyum remeh. “Bukankah ini sebuah kebetulan? Nama dan suara Anda mirip dengan kenalanku itu.”


“Saya tidak peduli apakah suara dan namaku mirip dengan kenalan Anda, yang pasti itu bukan urusanku,” kata Eve.


Sepertinya aku salah paham. Dia bukan Eve, karena wanita itu tidak pernah bersikap kasar kepadaku. Tapi meskipun begitu, kenapa aku merasa ada yang aneh dengan wanita ini? Stt, kata Adam dalam hati.


Kane dan Kein yang menyaksikannya hanya tersenyum puas.


Nyonya Mary tidak sengaja melihat seorang wanita di samping Kaji, membuatnya berbisik ke telinga suaminya.


“Maaf kalau itu menyinggung Nona Eve,” kata Adam.


Baru pertemuan pertama sudah membuat Ayah meminta maaf. Ibu hebat! Hehe, kata Kane dalam hati.


Apakah aku sedang bermimpi? Ini pertama kalinya Tuan Muda meminta maaf kepada orang lain, kata Sekretaris Rey.


“Eh, apakah wanita ini adalah calon istri Tuan Kaji?” tanya Tuan Moriarty datang.


Eve sedikit menunduk karena ia kembali bertemu dengan kedua mertuanya.


“Aku dengar kalian berdua akan menikah. Selamat,” kata Tuan Moriarty mengulurkan tangan.


Eve membalas uluran tangan itu sambil tersenyum.


“Selamat, semoga kalian bahagia,” kata Nyonya Mary.


Sekali lagi Eve tersenyum dan membalas uluran tangan wanita dewasa itu. Setelah kedua tangan mereka terpisah, Nyonya Mary tersentak saat melihat sesuatu turun di tangan wanita tadi dari balik mantel.


Deg!


Eh? Bukankah itu, kata Nyonya Mary dalam hati.


“Perkenalkan, dia calon istriku, Kamiya Eve,” kata Kaji.


Sekali lagi Nyonya Mary dan suaminya tersentak kaget mendengar nama wanita itu.


“Sebelumnya Tuan Adam juga berekasi seperti ini. Tidak tahu apa yang membuat keluarga Raymond sampai terkejut jika mendengar nama Eve. Tapi saya akan menegaskan, kalau saya bukanlah orang yang Anda maksud. Kalau Tuan dan Nyonya Besar tidak keberatan, saya datang untuk menjemput mereka. Kami masih ada urusan untuk persiapan pernikahan,” kata Eve.


“Kenapa buru-buru pulang? Kami tidak bermaksud membuat Nona Eve tersinggung,” kata Tuan Moriarty.


“Yang dia katakan benar. Kami masih ada urusan, jadi malam ini kami pamit duluan. Shitsurei shimasu(Permisi),” kata Kaji.


Kane dan Kein hanya mengikut dari belakang. Melihat Eve berbalik untuk pergi, entah kenapa perasaan Adam sedikit aneh.


“Nyonya Besar, Anda baik-baik saja?” tanya Sekretaris Rey membuat Adam dan Tuan Moriarty menoleh.


“Ada apa?” tanya Tuan Moriarty.


"Gelang itu," kata Nyonya Mary menggantung.


...Visual Mark Shelton...

__ADS_1



__ADS_2