Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 29 Marahnya Nyonya Besar


__ADS_3

Melihat kemampuan Eve, bu Honda sudah memastikan untuk menerima wanita itu. Kebetulan Eve juga seorang koki di Indonesia.


Tapi, sebelum menerima Eve secara resmi, wanita dewasa itu meminta berkas-berkas yang harus dikumpulkan.


Namun, karena Eve datang ke Jepang secara mendadak, ia jadi tidak membawa apa pun selain ponselnya.


Wanita itu bingung harus menjelaskan apa kepada bu Honda. Tidak mungkin ia mengatakan kalau dirinya berusaha dibunuh sehingga meminta bantuan Tuan Kaji untuk membawanya ikut ke Jepang.


‘’Eve-san?’’ panggil bu Honda.


‘’Itu, sebelumnya saya minta maaf. Karena sebuah alasan, saya tidak membawa apa pun dari Indonesia,’’ kata Eve.


Bu Honda tampak terkejut. Padahal ia sudah sangat berharap ingin segera merekrut Eve di restorannya. Tapi, karena wanita itu tidak membawa apa pun yang bisa dijadikan persyaratan, membuat bu Honda dengan berat menolak permintaan lamaran pekerjaan Eve.


‘’Sayang sekali, padahal Eve-san memiliki bakat yang hebat. Tapi saya tidak bisa mempekerjakan orang sembarangan tanpa berkas identitas dirinya,’’ kata bu Honda.


‘’Begitu, ya?’’ kata Eve merasa sedikit kecewa.


Dengan perasaan tidak puas, Eve tersenyum dan pamit berjalan keluar.


Wanita itu kembali menyusuri jalanan dan kerap kali menjumpai restoran cepat saji. Setelah kejadian tadi, tanpa diberitahu, pemilik restoran pasti juga akan meminta berkas-berkas mengenai dirinya.


Tidak ingin menyerah, membuat Eve berusaha mencari pekerjaan yang layak untuknya. Tanpa ia sadari, sebuah mobil melaju melewatinya. Mobil hitam yang di dalamnya menampakkan sosok wanita dewasa yang sedang terlihat menahan amarahnya.


‘’Nyonya Besar, pesawat jet pribadi Anda telah siap,’’ beritahu sang supir pribadi.


Ya, siapa lagi wanita dewasa itu kalau bukan Nyonya Mary. Keduanya berjumpa tanpa ada yang menyadari.


Sang supir pribadi hanya diam setelah memberitahu Nyonya Mary. Rasanya, ada tekanan melihat raut wajah Nyonya Besar.


Kenapa Nyonya Besar terlihat seperti sangat marah? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Sampai membuat Nyonya Besar mengambil penerbangan untuk kembali ke Indonesia, kata supir itu dalam hati.


......................


7 jam kemudian...


Kediaman Raymond


Tuan Moriarty menghela nafas setelah melihat sebuah mobil tiba di halaman utama. "Oh tidak, dia langsung mengambil penerbangan untuk pulang. Kurasa Adam dalam masalah."


Pintu terbuka sambil semua pelayan membungkuk memberi hormat.


"Selamat datang Nyonya Besar!"


Nyonya Mary hanya diam dengan tampang wajah yang sudah merah tertahan.


"Di mana suamiku?" tanyanya dengan aura mengintimidasi.


"A-Ada di ruang kerjanya Nyonya Besar," jawab salah satu pelayan merasa gugup.

__ADS_1


Nyonya Mary hanya berlalu dengan langkah cepat membuat para pelayan saling memandang satu sama lain.


"Oh tidak, sepertinya Nyonya Besar sudah mengetahui masalah Nona Muda."


"Benar. Ini pertama kalinya aku melihat wajah Nyonya Besar seperti itu."


"Sepertinya Tuan Besar dan Tuan Muda dalam masalah."


......................


Ruang Kerja


Bugh!


Tuan Moriarty tersentak kaget saat pintu ruang kerjanya tiba-tiba dibuka kasar.


"Istriku, kau sudah pulang? Hehe, kenapa mendadak sekali? Bukankah masih ada pe—"


"Suruh Adam pulang sekarang juga!" perintah Nyonya Mary memotong ucapan suaminya.


"Te-Tentu! Aku akan menyuruh Adam pulang," gugup Tuan Moriarty mencari ponselnya di meja.


Nyonya Mary memasang raut wajah bodoh. Ia memejamkan mata dengan alis berkerut. "Ponselnya ada di tanganmu!"


......................


Perusahaan Raymond


📞 "Ayah, aku masih rapat. Kalau ada yang ingin dibicarakan, kirim lewat pesan saja."


📞 "Ini keadaan gawat! Kau harus pulang!" kata Tuan Moriarty.


Adam hanya mengerutkan dahi mendengar ucapan ayahnya.


📞"Apa maksud ayah me—"


📞 "Adam, apakah kau menyayangi ayahmu ini lebih dari apa pun? Katakan demi alam semesta, kau menyayangiku, kan?"


📞 "Ayah ini bicara apa? Berhenti bersikap dramatis. Aku tidak ada waktu mela—"


📞 "Tinggalkan rapat itu dan kau harus pulang. Ibumu ada di sini!"


Saat itu juga Adam tersentak meskipun wajahnya tetap datar.


......................


Ruang Kerja


Tuan Moriarty hanya tersenyum kaku sambil melihat istrinya. "Adam akan segera pulang."

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa puluhan menit, Adam pun tiba.


"Kenapa pulang menda—"


Plak!


Ucapan Adam terhenti saat ibunya langsung mendaratkan tamparan. Ia menatap wanita dewasa itu dengan heran. Sedangkan Tuan Moriarty hanya frustasi.


"Kenapa Ibu menamparku?" tanya Adam datar.


Nyonya Mary menarik nafas dengan urat leher menegang. "Beraninya kau menendang Eve tanpa izin dariku."


"Oh, wanita itu, ya? Sekarang aku mengerti kenapa Anda tiba-tiba mengambil penerbangan untuk pulang. Tapi, aku tidak akan membiarkan wanita seperti itu menjadi menantu keluarga Raymond. Jadi keputusanku menceraikannya adalah tepat."


"Adam!" seru Nyonya Mary.


Untuk sesaat ia menghela nafas. "Meskipun begitu, kau tidak boleh mengambil keputusan secara sepihak! Aku tidak peduli dia mengandung anak siapa. Seharusnya kita selediki kehamilannya terlebih dahulu. Aku ingin kau segera mencari Eve dan membawanya kembali!"


"Apakah Ibu sudah gila? Anda menyuruhku mencari dan membawa wanita kotor itu kem—"


"Dia tidak kotor! Jaga ucapanmu! Awalnya aku kaget setelah ayahmu menceritakan semua hal ini. Tapi aku tidak menerima keputusanmu itu!" seru Nyonya Mary.


Adam dengan wajah datarnya hanya menghela nafas. "Tidak. Aku sudah membebaskannya dari pernikahan kami berdua, jadi kami sudah bercerai."


"Heh? Membebaskannya? Bercerai?" tanya Nyonya Mary sambil tersenyum remeh.


Wanita dewasa itu tersenyum remeh sekali lagi di hadapan putranya. "Kau memang sudah membebaskannya dari pernikahan, tapi secara hukum kalian berdua masih suami-istri yang sah. Meski kau sudah menandatangani surat perceraian, tapi Eve masih belum karena kau langsung menyuruhnya pergi."


Deg!


Adam tersadar dan merasa bodoh karena hal itu. Jika saja ia menyuruh Eve menandatangani surat perceraian mereka sebelum dirinya menendang wanita itu pergi, mungkin masalah ini tidak menjadi rumit.


"Ayahmu sudah mengirim tim pencari untuk mencari Eve. Sampai menantuku belum ditemukan, aku tidak akan mengajakmu bicara!" perintah Nyonya Mary.


Wanita itu berbalik untuk berjalan pergi sambil disusul Tuan Moriarty.


Bekas tamparan di wajahnya membuat Adam tidak menghiraukan hal itu. Ia melonggarkan dasinya sambil menghela nafas.


Ceklek!


Sekretaris Rey yang menunggu di koridor langsung membungkuk saat melihat Nyonya Besar dan Tuan Besar berjalan melewatinya.


"Sekretaris Rey, aku ingin keberadaan menantuku segera ditemukan. Adam benar-benar membuatku marah," kata Nyonya Mary.


"Aku sudah memperingatkannya untuk mendengarkan Eve, tapi Adam tetap keras kepala," kata Tuan Moriarty.


"Tapi saat itu, Tuan Besar juga mengabaikan permintaan Nona Muda yang memohon dan hanya diam saja," kata Sekretaris Rey polos.


Tuan Moriarty berdecih sambil tersenyum saat menerima tatapan tajam dari istrinya.

__ADS_1


Nyonya Mary berjalan pergi. "Ikut aku. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan denganmu."


"Sekretaris Rey, ingatkan aku untuk memotong gajimu bulan depan," kata Tuan Moriarty tersenyum dengan wajah tertekan.


__ADS_2